Kado dari Papua, 251.216 Botol Plastik Jadi Pohon Natal Raksasa

JUMAT, 23 DESEMBER 2016

JAYAPURA — Ada yang menarik di teras negara Indonesia, tepatnya di Skouw, Distrik Muara Tami, Kota Jayapura, Papua, di perbatasan RI-Papua New Guinea (PNG). Ribuan limbah kemasan botol plastik berjumlah 251.216 disulap menjadi pohon Natal berukuran tinggi dua belas meter dan lebar enam meter. Pohon Natal yang dikategorikan besar dan belum pernah ada di perbatasan RI-PNG ini membuat decak kagum bagi warga Indonesia di perbatasan maupun warga pelintas batas PNG. Pembuatannya pun butuh proses cukup panjang.

Awal bulan Desember pengumpulan limbah-limbah kemasan botol plastik sepanjang Teluk Yos Sudarso hingga kampung-kampung yang  ada di sepanjang perbatasan RI-PNG. Proses kedua pengecoran lubang tempat berdirinya pohon tersebut dengan kedalaman kurang lebih satu meter dengan diameter sekitar 80 sentimeter. Penyambungan botol-botol plastik menggunakan puluhan meter tali nelon dengan menggunakan tenaga manusia kurang lebih 30-an orang dari prajurit Satgas Pamtas Yonif 122/TS, masyarakat perbatasan. Ide ini muncul dari sejumlah jurnalis yang sering meliput perbatasan RI-PNG, nantinya setiap tahun pohon Natal tersebut dapat dimodifikasi menggunakan limbah-limbah lainnya dan menjadi satu simbol menarik tiap tahunnya.

Tampilan utuh pohon Natal raksasa 12 meter di perbatasan RI-PNG.

“Pohon Natal dari barang bekas ini kalau tak salah disampaikan oleh wartawan kepada tiga batalyon yang menjaga perbatasan negara RI-PNG dan ide ini disambut baik oleh batalyon 122,” kata Pimpinan Surat Kabar Harian (SKH) Pasific Pos, Margaretha Sinaga, yang sering disapa Angle (Enjel), Jumat (23/12/2016).

Menurutnya, pohon terang atau pohon Natal raksasa yang dibuat dari barang-barang bekas merupakan suatu prestasi, bagaimana pemanfaatan barang bekas itu suatu kreativitas yang patut diberikan sebagai apresiasi. Pohon Natal raksasa dengan desain artistiknya dapat menghibur masyarakat di perbatasan.

Penyambungan botol plastik di ujung tiang setinggi 12 meter.

“Ini juga dapat menarik masyarakat dari Kota Jayapura dan Keerom untuk menyaksikannya. Semoga kreativitas seperti ini bisa dilanjutkan  generasi muda lainnya,” tuturnya.

Kepala Penerangan Kodam XVII Cenderawasih, Kolonel Inf Teguh Pudji Rahardjo, mengaku senang atas adanya ide jurnalis yang dikembangkan langsung Satgas Pamtas Yonif 122/TS dan masyarakat perbatasan RI-PNG. Menurutnya, kegiatan ini dapat memicu warga agar memanfaatkan limbah-limbah yang ada dijadikan satu karya bermanfaat.

“Juga dapat menghasilkan satu barang menjadi salah satu masukan ekonomi mereka dan untuk pohon Natal ini sungguh menarik sekali dapat dijadikan permanen tiap tahunnya,” kata Kolonel Inf Teguh.

Persiapan penyambungan botol plastik.

Salah satu warga PNG, Billory, terkesan apa yang telah ia lihat saat berbelanja di pasar Skouw perbatasan RI-PNG, Kamis (22/12/2016) kemarin. “Sungguh indah sekali pemandangan pohon Natal ini, baru pertama kali saya lihat pohon Natal sebesar ini yang terbuat dari hasil botol-botol bekas,” kata Billory yang telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia dari bahasa Inggris Fijinya.

Di tempat lain, Ketua Forum Peduli Port Numbay Green (FPPNG), Fredy Wanda, merasa bangga atas apa yang dilakukan masyarakat dan tentara Indonesia di perbatasan RI-PNG. Menurutnya, hal itu satu karya yang patut dicontoh, karena dari peduli lingkungan dengan ide kreatif dapat menciptakan karya yang indah.

Penyortiran sampah botol plastik yang layak digunakan untuk pohon Natal.

“Ini satu karya yang bagus, ketimbang kita harus memotong pohon dan menghiasinya. Dan pohon Natal ini menjadi contoh kepada masyarakat. Apalagi dibuat setinggi 12 meter dengan diameter 6 meter, berarti satu meter lebih harus ditancap ke tanah dan tiap tahun dapat digunakan,” kata Fredy.

Dirinya berharap tak hanya di bulan Desember menjelang Natal, ide kreatif datang dari setiap sudut-sudut kampung. Melainkan dibentuklah satu kelompok setiap kampung yang dapat memanfaatkan limbah-limbah yang berguna untuk dijadikan satu karya agar menjadi masukan sumber ekonomi mereka.

Jurnalis: Indrayadi T Hatta / Editor: Satmoko / Foto: Indrayadi T Hatta

Lihat juga...