| Buah Merah yang belum diolah menjadi sayur atau konsumsi untuk kesehatan |
CENDANANEWS (Jayapura) – Kedua pemuda ini rela berjalan kaki berjam-jam untuk ke lokasi kebun mereka ditengah hutan dengan jarak kurang lebih dari 26 kilometer. Pergi pagi jam jam 06.00 wit, pulang siang jam 14.30 wit.
Murni Kogoya yang berusia 29 tahun ini setiap harinya berjalan kaki menuju kebun yang ia garap ditengah hutan, tepatnya di bukit Kotaraja, Kota Jayapura, Papua. Saat ditemui media ini, ia sedang dalam perjalanan pulang, setelah selesai bertani di hutan.
“Adooo… (Aduh) kebun saya jauh sekali di kali kepala air Kotaraja, ada di tengah hutan, setiap hari saya dan saudara saya jalan kaki ke sana. Hari ini saya panen buah merah,” kata pria yang selalu berjalan kaki itu, Rabu (06/05/2015).
Pemuda berbadan kurus ini mengaku, buah merah yang ia pikul dari kebunnya itu dipanen setiap lima bulan sekali. “Saya pergi panen buah merah, pohon buah ini lama baru berbuah. Setiap lima bulan sekali baru berbuah. Setiap pohon, ada yang 4 buah, 5 buah, ada juga yang 10 buah,” ujarnya.
Pohon yang ada di kebun, dikatakannya, hanya ada sekitar 4 pohon. Ia menanam pohon tersebut sekitar dua tahun lalu, kini hanya memanennya. “Kalau mulai dari tanam, pohon bisa berbuah setelah satu sampai dua tahun. Saya jual setiap buah, harganya Rp 100 ribu. Biasa saya jual di kompleks saja di Polimak IV,” katanya.
Sementara, Undiron Kogoya (24) mengatakan kalau buah merah tidak laku terjual dalam dua sampai tiga hari. Ia mengkonsumsinya sendiri buat keluarga. “Buah merah ini bisa jadi sayur, bikin (buat) saya tenaga kuat kalor (kalau) saat bekerja, terus, minyaknya bisa dijadikan minyak goreng. Saya biasa goreng ikan pake (gunakan) minyak dari buah merah,” ujarnya.
Buah merah ini berasal pegunungan tengah Papua, tanaman buah ini juga disebut-sebut sebagai tanaman kesehatan dan dapat mengobati berbagai penyakit, seperti AIDS, Kanker, Tumor, Stroke, Darah Tinggi, Asam Urat, Diabetes dan lain-lain, seperti yang tertera di www.buahmerahpapua.web.id.
————————————————-
Rabu, 6 Mei 2015
Jurnalis : Indrayadi T Hatta
Fotografer : Indrayadi T Hatta
Editor : ME. Bijo Dirajo
————————————————-