Yusril Ihza Mahendra : “Pak Harto sangat teliti, hati-hati dan tak segan bertanya”


CENDANANEWS (Media Sosial) – Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 39 tahun 2015 tentang Pemberian Fasilitas Uang Muka Bagi Pejabat Negara untuk Pembelian Kendaraan Perorangan, Presiden Jokowi menaikkan uang muka pembelian kendaraan menjadi Rp 210,890 Juta. Jumlah ini naik dibandingkan tahun 2010 yang mengalokasikan tunjangan uang muka sebesar Rp 116.650.000. 

Setelah keputusan menaikkan uang muka pembelian kendaraan tersebut menuai kontroversi, akhirnya Presiden Jokowi angkat bicara. Tetapi, alih-alih meluruskan permasalahan, Jokowi justru membuat pernyataan yang menuai protes. Bagaimana tidak, sebagai seorang Presiden, Jokowi menyatakan bahwa ia tidak mencermati satu per satu dokumen yang akan ditanda tanganinya.
“Coba saya lihat lagi. Tiap hari ada segini banyak yang harus saya tanda tangani. Enggak mungkin satu-satu saya cek kalau sudah satu lembar ada 5-10 orang yang paraf atau tanda tangan apakah harus saya cek satu-satu?” kata Jokowi.
Pernyataan Jokowi tentu menuai berbagai reaksi dari masyarakat Indonesia khususnya melalui media sosial, salah satunya dari Prof. Yusril Ihza Mahendra yang disampaikan melalui akun @Yusrilihza_Mhd pada hari Senin (6/4/2015)
Dalam rangkaian tweetnya, Yusril mencontohkan kecermatan dan kehati-hatian seorang Soeharto sebelum menandatangi naskah. “Pak Harto dulu, semua yang beliau mau tandatangani beliau baca dulu dengan seksama”

Tiap naskah yang akan ditandatangani ada memorandum Mensesneg yang menerangkan secara ringkas latar belakang naskah tersebut. Kalau ada hal yang tidak jelas bagi Pak Harto maka orang pertama yang ditanya beliau adalah Mensesneg Moerdiono atau Saadillah Mursyid,

“Bahkan kadang-kadang Pak Harto langsung tanya saya kalau itu menyangkut pidato atau surat yang akan ditandatangani” tambah Yusril.

Yusril menjelaskan bahwa semua naskah yang dikirim ke rumah Soeharto pada sore hari, besoknya sudah dikembalikan ke Sekneg via ajudan. Yang akan ditandatangani sudah ditandatangani, yang belum ditandatangan ada catatan atau disposisi Soeharto yang perlu segera ditindaklanjuti Mensesneg.

“Dari disposisi itu kita tahu bahwa Pak Harto memang membaca semua naskah yang disampaikan ke beliau sebelum ditandatangani”

“Bahkan laporan intelejen yang tiap hari masuk, semua dibaca Pak Harto. Ada coretan-coretan pada laporan itu dan ada pertanyaan serta komentar beliau” lanjut Yusril

Yusril juga menyampaikan tentang pidato terakhir Soeharto tanggal 21 Mei 1998 “Pak Harto panggil saya ke kamarnya dan bertanya tentang sesuatu sebelum beliau bacakan”

“Pak Jokowi juga harusnya cermat, hati-hati dan tidak segan-segan bertanya agar tidak salah teken naskah. Kalau salah teken bisa repot Pak…” Demikian himbauan Yusril kepada Jokowi.

Di mata Yusril, Jendral HM.Soeharto adalah sosok pemimpin yang sangat cermat, hati-hati dan tak segan bertanya sebelum menandatangani naskah. “Saya waktu itu disebut “anak kecil” oleh Moerdiono tetapi Pak Harto tidak segan bertanya kepada saya”.

————————————————————————–
Senin, 6 April 2015
Sumber : Akun Media Sosial Prof. Yusril Ihza Mahendra
Penulis : Sari Puspita Ayu
————————————————————————–

Lihat juga...