Meski Harga Naik, Petani Padi Masih Belum Untung
Editor: Koko Triarko
LAMPUNG – Harga gabah kering panen (GKP) di sejumlah lahan sawah di Lampung Selatan (Lamsel), naik saat kemarau atau gadu, dibanding musim tanam sebelumnya.
Sulaiman, petani di Desa Pasuruan,Kecamatan Penengahan, menyebut, sesuai harga pembelian pemerintah (HPP) sebesar Rp3.700, harga kini mencapai Rp4.800 lebih tinggi dari sebelumnya Rp4.250 per kilogram.
Namun, kenaikan harga dari Rp4.250 menjadi Rp4.800 per kilogram itu disebutnya belum menguntungkan. Sebab, penanaman padi selama musim gadu harus mengeluarkan biaya operasional lebih besar. Biaya tersebut berasal dari penggunaan fasilitas mesin sedot air atau alcon. Rata-rata dalam sepekan, ia mengeluarkan uang sekitar Rp200.000 untuk membeli bahan bakar dan operasional lain.
Harga GKP yang naik belum mencapai angka Rp5.000 per kilogram. Padahal, saat kemarau kualitas gabah varietas Ciherang, IR 64, yang dihasilkan cukup baik. Tanpa curah hujan yang tinggi, kadar air GKP yang dihasilkan memiliki kualitas yang bagus. Selain itu, saat kemarau sejumlah lahan petani yang kekurangan air gagal panen (puso).
“Harga gabah naik, namun belum memenuhi harapan petani karena saat musim tanam gadu biaya operasional yang dikeluarkan lebih besar, sehingga hanya bisa menutupi modal untuk menanam padi musim berikutnya,” tutur Sulaiman, saat ditemui Cendana News, Rabu (25/9/2019).

Hasil panen seluas seperempat hektare, sebut Sulaiman, bisa menghasilkan sekitar 3 ton. Semua GKP yang dijual sebanyak 2 ton dengan harga Rp4.800 per kilogram, ia mendapat hasil Rp9,6 juta. Satu ton GKP hasil panen dipergunakan sebagai stok untuk benih musim tanam berikutnya, dan sebagian untuk kebutuhan sehari-hari. Sebagian uang hasil penjualan digunakan untuk membayar utang pupuk, obat dan biaya operasional lain.
Meski hasil belum maksimal, dibandingkan sejumlah petani lain Sulaiman masih bisa bernapas lega. Pasalnya, ratusan hektare lahan sawah di Kecamatan Palas, Sragi dan Ketapang, mengalami gagal panen.
Sulaiman dan sejumlah petani di Penengahan mengandalkan sungai Way Asahan dari Gunung Rajabasa, sebagian menggunakan mesin pompa.
Nurkolis, petani lain di Desa Kelaten, menyebut hanya menjual sekitar 1 ton gabah hasil panen. Harga GKP yang hanya mencapai Rp4.800 masih impas dengan biaya operasional yang dikeluarkan. Sebagian gabah yang sudah dipanen, bahkan sengaja dijemur untuk disimpan sebagai stok. Saat membutuhkan beras, ia akan membawanya ke tempat penggilingan untuk konsumsi keluarganya.
“Saya memilih menyimpan dalam bentuk gabah kering giling dan menjual dalam bentuk beras,” tuturnya.
Pengepul atau pemilik usaha jual beli gabah, Suhaimah, asal Palas, menyebut harga GKP masih mencapai Rp4.800 per kilogram. Angka tersebut dihitung dengan asumsi penyusutan, biaya angkut dan proses penjemuran. Dengan harga GKP mencapai Rp4.800, saat dilakukan penjemuran bisa mencapai harga Rp5.500 untuk gabah kering giling (GKG).
“Kami juga ingin membeli lebih tinggi, namun HPP sudah ada ketentuan dan selisih harga beli untuk membayar operasional buruh,” tuturnya.
Saat musim panen raya, Suhaimah mengaku bisa mengirim sekitar 40 ton GKP ke pabrik penggilingan padi di Banten. Namun dengan adanya aturan larangan menjual gabah keluar Lampung, sebagian besar digiling di penggilingan lokal.
Selama musim kemarau, untuk mendapatkan gabah dari petani sebanyak 20 ton mulai sulit. Sebab, dari sejumlah kecamatan di Lamsel hanya beberapa lahan pertanian sawah yang panen.
Kenaikan harga GKP mempengaruhi harga jual beras. Beberapa lokasi penggilingan padi mulai menjual padi kualitas sedang, semula Rp8.500 menjadi Rp9.500 per kilogram. Kualitas beras sedang semula Rp10.500 naik menjadi Rp12.000 per kilogram.
Sementara jenis beras premium, semula Rp13.000 menjadi Rp14.000 per kilogram. Harga di pengecer berpotensi berbeda, menyesuaikan stok dan pasokan selama kemarau.