Polres Banyumas Terus Kampanyekan Antihoaks

Editor: Koko Triarko

PURWOKERTO – Semakin dekatnya pelaksanaan Pemilu 2019, media sosial semakin ramai dan mulai diwarnai dengan maraknya berita yang disinyalir sebagai hoaks. Semua pihak berusaha untuk meningkatkan perfoma, demi mendapat dukungan dari masyarakat. Akibatnya, black campaign meningkat dan postingan-postingan hoaks semakin masif.

Menyikapi hal tersebut, Polres Banyumas menggelar Focus Group Discussiun (FGD) bertema ʼBersama Kita Wujudkan Pesta Demokrasi yang Aman, Damai dan Sejukʼ.

Kapolres Banyumas, AKBP Bambang Yudhantara Salamun, mengakui adanya peningkatan tensi politik mendekati pelaksanaan pemilu serentak ini. Namun, sejauh ini di wilayah Banyumas masih kondusif dan terkendali.

ʺBlack campaign meningkat, karena semua pihak mengerahkan seluruh daya upaya untuk menarik simpati masyarakat, itu sudah lumrah terjadi menjelang pemilu. Tetapi kita juga terus meningkatkan patroli cyber serta sosialisasi antihoaks, termasuk dengan membuat FGD ini, dengan harapan bisa membuat masyarakat tercerahkan dan tidak mudah terhasut berita hoaks,ʺ terang Kapolres, Selasa (5/3/2019).

Pada kesempatan tersebut, Kapolres mengimbau kepada seluruh warga Banyumas untuk bijaksana dalam menggunakan handphone dan dalam bermedia sosial. Jangan sampai menyebarkan berita yang menimbulkan pihak lain merasa tersakiti. Sebab, di atas segala kepentingan pesta demokrasi ini, ada hal yang lebih penting, yaitu menjaga persatuan dan kesatuan.

ʺBijaksanalah dalam bermedia sosial, jangan sampai kita kalah pintar dengan smartphone kita. Dibutuhkan kebijaksaan untuk menelaah informasi yang masuk,ʺ tuturnya.

Sementara itu dari kalangan akademisi, Prof. Paulus Israwan, mengingatkan untuk berhati-hati dalam menyebarkan berita hoaks, sebab jejak digital tidak akan terhapus.

Setiap HP memiliki nomor International Mobile Equipment Identity (IMEI), yang merupakan nomor identifikasi ponsel. Dengan adanya nomor IMEI ini, maka akan mudah bagi tim cyber untuk melacak penyebar hoaks.

Guru besar Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto ini menekankan, cara mudah untuk memerangi hoaks adalah dengan membangun budaya membaca.

Tradisi membaca ini, akan melindungi masyarakat dari serangan hoaks, karena secara aktif masyarakat akan meng-update informasi, baik melalui pemberitaan di media cetak maupun media online dan televisi.

ʺDengan gemar membaca, maka secara otomatis akan terlindungi dari berita hoaks, karena selalu meng-update infomasi yang valid. Karena itu, ayo kembali budayakan membaca koran dan membaca infomasi yang benar serta akurat,ʺ ajaknya.

Menurut Israwan, jika dulu ada pepatah Mulutmu Harimaumu, maka sekarang pepatah tersebut sudah beralih menjadi Jarimu Harimaumu.

ʺJangan mudah memposting pesan, sekalipun hal tersebut hanya untuk mencari kebenaran, misalnya diawali dengan kata, apakah betul..kemudian diposting suatu informasi, sekali pun bernada mencari kebenaran, namun tetap memicu penyebaran hoaks, jika berita yang diposting tidak benar isinya,ʺ pungkasnya.

Lihat juga...