Belajar Toleransi dari Masyarakat Kalbar di TMII
Editor: Koko Triarko
JAKARTA -Istana Kadriah yang diabadikan dalam bentuk replika bangunan utama Anjungan Kalimantan Barat Taman Mini Indonesia (TMII), terlihat begitu mewah menggambarkan keutuhan persatuan.
Pemandu Anjungan Kalimantan Barat TMII, Nur Hakimah, menjelaskan, replika Istana Kadriah milik kesultanan Pontianak diresmikan oleh Gubernur KDH Tingkat Kalimantan Barat, Kadarusno, pada 17 April 1975.
Istana Sultan Kadriah didirikan oleh Sultan Syarif Abdurrakhman Alkadri pada 1771 Masehi. Berfungsi sebagai tempat tinggal Sultan dan keluarga, sekaligus pusat pemerintahan kesultanan Pontianak, kala itu.
“Replika Kadriah ditampilkan di TMII, untuk pelestarian budaya sejarah. Karena berdirinya Istana Kadriah adalah cikal bakal didirikannya kota Pontianak,” ujar Nur, kepada Cendana News, belum lama ini.
Provinsi Daerah Tingkat I Kalimantan Barat, beribukota Pontianak yang terletak tepat di garis Khatilistiwa. Penduduk aslinya adalah berbagai suku dayak. Yaitu, Dayak Embaloh, Iban, Taman, Punan, Kayan, dan Kendayan. Sedang kaum pendatang, antara lain, suku Bugis, Melayu dan Cina, yang umumnya menetap di pesisir. Maka, khasanah budaya daerah ini memiliki corak yang sangat beragam dan menarik.

Ia menjelaskan, Istana Kadriah terdiri dari lima ruangan pokok, yaitu anjungan, balairung, kantor, kamar kerja sultan berikut singgasana, kamar tidur sultan dan keluarganya.
Letak istana itu berada di persimpangan sungai Kapuas kecil dengan sungai Landak, tepatnya di wilayah kelurahan Kampung Dalam Bugis, Kecamatan Pontianak Timur, Kota Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat.
Daerah Seribu Sungai, demikianlah julukan Kalimantan Barat yang resmi menjadi sebuah provinsi di Republik Indonesia pada 1 Januari 1957, berdasarkan Undang-Undang No. 25 Tahun 1956 dengan Kota Pontianak sebagai Ibukota Provinsi. Di kalimantan Barat mengalir dua sungai besar, yaitu Sungai Kapuas dan Melawi.
Sungai Kapuas adalah sungai terpanjang di pulau Kalimantan dan di Indonesia. Urat nadi kehidupan masyarakat Kota Pontianak sangat bergantung kepada sungai Kapuas. Suku Dayak dan Melayu sebagai dua suku terbesar yang menempati wilayah provinsi Kalimantan Barat, menggunakan sungai Kapuas sebagai sandaran kehidupan, baik untuk transportasi dan kebutuhan sehari-hari sejak zaman dahulu hingga sekarang.
Mengacu pada Kitab Negarakertagama, Kalimantan Barat atau Kalimantan Kuno, merupakan daerah taklukan Kerajaan Singasari sampai dengan era Kerajaan Majapahit yang bernama Tanjungpura. Wilayah kekuasaan Tanjungpura saat itu terbagi tiga, yaitu Mandala Borneo (Brunei), Sukadana Tanjungpura, dan Banjarmasin.
Pemerintah Hindia-Belanda atau VOC pada 1604, masuk ke Kalimantan Barat untuk berdagang dengan Sukadna Tanjungpura. Pada 1778, Hindia-Belanda merestui Pangeran Kerajaan Banjar Syarif Abdurrahman Nur Alam yang kemudian dikenal sebagai Syarif Abdurahman Alkadrie menjadi Sultan.
Sedangkan masuknya etnis Cina di Kalimantan Barat berawal ketika Raja Panembahan Mempawah mendatangkan ribuan buruh pertambangan asal negeri Cina. Mereka mengerjakan penambangan emas di wilayahnya pada 1740.
Kemudian dilanjutkan oleh Kesultanan Sambas melalui Sultan Abubakar Kamaluddin pada 1750. Ini menambah besar komunitas etnis Cina bekerja di pertambangan emas di wilayah Kalimantan Barat.
