JAKARTA — Berbicara tentang kuliner di Ibu Kota Jakarta tidak akan pernah ada habisnya. Kuliner bakmi juga betebaran di penjuru Jakarta dengan berbagai varian dengan keunikan sendiri, di antaranya apa yang disebut “Mie Karet Keriting” yang terletak di Jalan Ragunan, Pasar Minggu.
Saya singgah karena penasaran dari cerita mulut ke mulut. Setelah memesan semangkuk bakmi, saya mencicipi cita rasa yang berbeda. Mi-nya terasa legit,kenyal dan tak mudah putus ketika disantap.
Aroma sejumlah rempah-rempah membuat bersantap tak terasa menghabiskan semangkuk bakmi. Ada rasa manis dan gurih, tetapi tidak terasa menggunakan Msg. Rasanya memang berbeda dengan mie ayam yang pernah saya cicipi.
Penasaran? Saya menemui Andri Wahab, pemilik gerai kuliner “Mie Karet Keriting” yang kebetulan ada di sana. Dia menceritakan usaha kuliner ini berdiri awal pada 2013. Andri sendiri merupakan penggemar mie ayam.
Inspirasinya ketika dia bertemu seorang Tionghoa Muslim dari Amerika. Dari dia, Andri belajar proses pembuatan mi,tanpa bahan pengawet. Andri juga bertemu dengan seorang penjual mie dari Wonogiri yang memiliki rasa khas bumbunya. Dari dia, Andri mendapat ilmu membuat bumbu dengan kombinasi rempah-rempah mereka. Akhirnya Andri menggabungkan membuat bakmi dari keduanya dan menghasilkan masakan mi dengan citra rasa berbeda.
“Bagi orang Indonesia rasa sangat penting, termasuk tekstur rempah-rempah. Masukan dari saya padukan dan hasilnya “Mie Karet Keriting “ini,” ujar Andri kepada Cendana News, Sabtu (23/9/ 2017).
Mi olahan dirinya berbeda dengan mie pada umumnya, mi lebih kenyal dan lebih legit. Dia juga menambahkan topping sesuai selera. Mi buatannya selalu disimpan dalam freezer untuk membuat agar semakin merekat dengan membeku, dan dapat bertahan hingga satu bulan tanpa pengawet. Bahan yang dipergunakan dalam pembuatannya terigu, telur, dan sedikit garam.
“Saya menjaga kualitas dan memberikan sajian yang berbeda yang membuat orang tidak takut mengkonsumsi makanan di tempat saya ini,” katanya.
Dirinya mengatakan untuk modal awal keseluruhan untuk menjalankan usaha “Mie Karet Keriting” ini menghabiskan dana sekitar 50 juta rupiah. Untuk Omzet, Andri menyebutkan awalnya Rp15 juta per bulan, namun setelah tiga tahun menjadi Rp20 juta per bulan. Kenaikan ini juga terbantu dengan adanya sistem pemesanan secara daring melalui gojek.
Harga seporsi bakmi bervariasi mulai dari Rp16 ribu hingga Rp35 ribu sesuai dengan beraneka ragam topping yang mereka inginkan.
“Jika datang ke sini jangan pernah makan nasi dulu karena untuk satu porsi bisa membuat kenyang,” ucapnya.
