Sangko Sajian Sambut Syawal
PADANG — Di Sumatera Barat, memasuki pertengahan Ramadan, masyarakat disibukan dengan membuat kue-kue khas Ranah Minang, seperti kue sapik, maloyang, manyang, kue kareh, dan kue sangko, serta banyak jenis kue lainnya. Khusus untuk kue sangko ini, memang tidak semua daerah yang membuat sangko tersebut, karena butuh cara khusus untuk membuat kue sangko.
Seperti yang dikatakan seorang ibu rumah tangga Cici, kue sangko cukup diminati bagi tamu yang datang ke rumah. Tak jarang, apabila di atas meja tidak kelihatan kue sangkonya, maka tamu yang datang akan bertanya dengan nana bercandanya “ba a kok kue sangko ndak nampak di ateh meja koh” (kenapa kue sangko tidak kelihatan di atas meja ini).
Mengapa kue sangko ini menjadi pertanyaan para tamu di Minang saat berkunjung ke rumah sanak saudaranya? Jawabannya, kue sangko hanya ada di kampung halaman bumi Ranah Minang, dan tidak akan ada di rantau. Meskipun ada kelihatan sama kue sangko ini dengan kue yang ada di daerah lain, soal rasa, kue sangko sungguh lezat.
Cici menjelaskan, kue sangko ini tidak memiliki bahan adonan yang rumit, yakni hanya mencampuri gula merah dan tepung beras ketan putih. Untuk gula merah diiris halus-halus hingga mirip sehalus tepung. Setelah itu, diaduk secara merata sampai gula merah mulai terlihat melekat ke tepung.
Setelah diaduk seperti demikian, tepung yang telah berbaur dengan gula merah itu dimasukan ke cetakan. Untuk memasukan ke cetakan itu dilakukan secara merata dan isi cetakan itu harus padat. Apabila proses cetakan itu sudah dilakukan, selanjutnya dilakukan pematangan diatas panas uap air di dalam rantang.
“Membuat kue sangko hingga matang itu bukan dibakar ataupun di goreng, tapi dihangatkan di atas uap air yang direbus di dalam rantang,” katanya, Sabtu (8/7/2017).
Cici menyebutkan, jika membuat kue sangko tidak sesuai aturan, maka kue sangkoya bisa keras dan tidak bisa makan lagi. Bahkan, pernah orang lain yang nekat membuat sangko ini, hasilnya kue sangkonya sekeras batu, dan saat dilempat ke dinding rumah, kue nya tidak hancur.
Artinya, untuk menciptaka kue sangko yang lezat, butuh arahan dari nenek yang benar-benar memiliki pengalaman dalam membuat kue sangko.
Selain itu, alasan kue sangko sangat dicari saat menyambut tamu pada Syawal, karena cita rasanya merupakan warisan dari nenek terdahulu yang khas dari Minang.
“Berbicara kue ini, selain kue sangko, juga ada yang menyajikan kue sapik. Kalau kue sapik itu, sudah tidak asing lagi, dan bahkan di toko-toko oleh-oleh sudah ada yang jual kue sapik itu,” ujarnya.
Sementara itu, Candra menyatakan, rasa kue sangko yang manis dan dicampuri tepung berasa ketan putih, menjadi rasa yang mengasyikan saat sampai di mulut dan saat tercicipi oleh lida.
“Di rantau mana ada kue sangko ini, jadi pas mudik kemarin saya minta dibungkus sama amak, dikarenakan kue sangko ini masih bisa dimakan dengan waktu yang cukup lama,” katanya.
Menurut Candra, kue sangko akan lebih enak, jika dihangatkan di dalam tempat masak nasi di saat nasi mulai masak. Jadi, meskipun sudah mencapai tiga hari, apabila dihangatkan kembali, maka rasa enanknya akan muncul lagi.