Produsen Kerupuk Penengahan Terkendala Garam Mahal dan Hujan

LAMPUNG – Usaha rumahan pembuatan kerupuk rasa ikan dan kerupuk seblak di Desa Pasuruan Kecamatan Penengahan Kabupaten Lampung Selatan ikut mengalami dampak kelangkaan sekaligus mahalnya harga garam kasar di pasaran ditambah dengan kondisi cuaca kerap hujan dan mendung dalam beberapa pekan terakhir.

Menurut Rusmin, salah satu karyawan produsen kerupuk rasa ikan tersebut dengan bahan baku tepung tapioka, perisa ikan dan garam yang menjadi penyedap rasa dan rasa gurih proses pembuatan kerupuk tidak mengurangi takaran bumbu meski harga garam mahal. Selain berimbas pada kualitas rasa pengurangan takaran garam justru akan mengurangi tingkat keawetan kerupuk dalam penyimpanan karena garam bisa berfungsi sebagai pengawet.

Proses pembuatan kerupuk sebagai makanan tambahan dan sajian pelengkap berbagai kuliner tersebut diakui Rusmin mengolah sebanyak 200 kilogram bahan baku dari tepung tapioka dan berbagai campuran bumbu lain. Menggunakan mesin khusus dan dikerjakan oleh sebanyak enam orang proses pencetakan dilakukan dalam alat khusus yang selanjutnya akan dikukus menggunakan dandang berukuran besar dengan kayu bakar. Satu orang karyawan bahkan secara khusus melakukan proses pengukusan sebelum kerupuk yang ada dalam cetakan dipindahkan ke para para terbuat dari bambu untuk proses penjemuran.

“Saat harga garam mahal dan langka proses pembuatan memang tetap berjalan meski tidak dilakukan proses pengurangan takaran selain itu kerap hujan dan mendung ikut menghambat penjemuran,” terang Rusmin saat dijumpai Cendana News di lokasi pembuatan kerupuk di Desa Pasuruan Kecamatan Penengahan Kabupaten Lampung Selatan, Sabtu (29/7/2017).

Pembuatan kerupuk rasa ikan yang tetap menggunakan garam tersebut bahkan disiasati dengan produksi yang dikurangi jika sebelumnya memproduksi sekitar 300 kilogram per hari kini hanya rata rata 200 kilogram per hari sembari menunggu kembali normalnya harga garam. Harga garam dalam bentuk karungan dengan harga Rp200 ribu per sak atau ukuran 50 kilogram tersebut menjadi bahan penyedap termasuk ikan sarden yang menambah cita rasa olahan ikan laut tersebut.

Kerupuk seblak gurih kering siap digoreng sebelum dijual bersama kerupuk rasa ikan. [Foto: Henk Widi]
Dedi sang pemilik usaha pembuatan kerupuk ikan tersebut mengungkapkan sebagai langkah untuk memperkecil kerugian dari pengurangan produksi dirinya bahkan menyebut mulai memasok kerupuk seblak asal Bandung Jawa Barat. Kerupuk Seblak yang memiliki bahan baku tepung tapioka ditambah bumbu dari kencur dan kunyit tersebut dibeli dalam kondisi siap goreng dan akan dijual bersamaan dengan kerupuk ikan yang dipasarkan di sejumlah warung kuliner dan warung di pedesaan.

“Kalau mengandalkan kerupuk rasa ikan selain produk kurang bervariasi selama cuaca kerap mendung dan hujan tingkat produksi menjadi terhambat sehingga kami juga sediakan kerupuk seblak,” ungkap Dedi.

Dedi menyebut dengan kendala bahan produksi berupa garam yang langka ditambah harga mahal ia mengaku produksi tetap harus dilakukan terutama kerupuk hasil olahan usaha rumahan miliknya telah memiliki pelanggan di beberapa kabupaten. Ia berharap harga garam bisa segera turun untuk bisa menekan biaya produksi proses pembuatan kerupuk yang diakuinya memerlukan biaya tidak sedikit tersebut.

Ia menyebut biaya produksi tersebut diakuinya dari bahan bahan,pembelian kayu bakar, proses pencetakan hingga distribusi ke sejumlah wilayah yang terbilang tidak sedikit bahkan satu bulan produksi kerupuk bisa mengeluarkan modal sekitar 6-7 juta. Turunnya harga garam diharapkannya bisa ikut membantu produsen kerupuk rumahan seperti dirinya.

Selain mengeluh terkait harga garam yang mahal untuk bahan campuran produksi kerupuk agar memiliki rasa gurih khas daging ikan,Dedi menyebut kondisi cuaca kerap hujan gerimis dan mendung berimbas lamanya proses penjemuran dibandingkan hari normal. Proses penjemuran dengan para para bambu setelah bahan kerupuk di kukus membutuhkan ratusan para para bambu yang akan mempercepat proses penjemuran.

“Hampir beberapa pekan ini meski hujan tidak deras namun kami kerap menutup kerupuk yang dijemur dengan plastik lalu membukanya saat panas sebab dalam sehari normalnya kerupuk bisa kering tapi saat hujan lebih lama kering,” ungkap Dedi.

Proses penjemuran pada hari normal yang diakuinya bisa membutuhkan waktu hanya setengah hari dalam kondisi panas terik saat mendung dan cuaca hujan memerlukan waktu dua hari. Beberapa kerupuk yang terkena hujan bahkan kembali meleleh akibat tidak kering sempurna dan terpaksa harus diolah ulang dengan digiling bersama adonan tepung sebab jika dibiarkan rasanya akan tidak gurih saat digoreng.

Pemilik usaha kerupuk rasa ikan dan penjualan kerupuk seblak tersebut mengungkapkan tetap akan memproduksi kerupuk dengan rasa gurih tersebut sebagai usaha rumahan. Dedi menyebut selain menjadi sumber penghasilan bagi keluarganya beberapa karyawan yang ikut bekerja padanya ikut mendapatkan hasil dari keberadaan usaha kecil tersebut.

Bahan kerupuk selesai dicetak langsung dikukus dalam dandang besar dan dipanaskan dengan kayu bakar. [Foto: Henk Widi]
Lihat juga...