Posdaya Taman Rajut Tingkatkan Kesejahteraan

MALANG — Posdaya Taman Rajut adalah salah satu posdaya binaan Universitas Merdeka (Unmer) Malang yang mampu turut meningkatkan taraf kesejahteraan masyarakat di daerah Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang.

Titin Estantina (tengah) menunjukkan rajutannya. -Foto: Agus

Berlokasi di Jalan KH. Malik Dalam, tepatnya di Perumahan City View, posdaya yang diketuai oleh Titin Estantina tersebut berusaha memanfaatkan kerajinan rajutan untuk membuka peluang usaha bagi masyarakat, guna meningkatkan perekonomian mereka.

Berdiri pada 2014, Posdaya Taman Rajut hingga kini telah memiliki anggota lebih dari 50 orang, dan hingga sekarang terus bertambah.
“Awalnya, hanya satu dua warga sekitar saja yang ikut, tapi kemudian perkembangannya semakin hari semakin baik dan jumlah anggota Posdaya Taman Rajut semakin bertambah. Masyarakat yang dulu belum bisa merajut sekarang sudah bisa. Bahkan, sekarang sudah ada yang buka usaha rajutan sendiri,” jelasnya, kepada Cendana News, Selasa (25/7/2017).

Dari awal, Titi sudah menyampaikan, setelah belajar merajut di Taman Rajut, mereka bisa buka usah rajut di tempatnya masing-masing. Jadi, sekarang mereka sudah mulai menerima pesanan rajutan sendiri. Tapi, kalau ada kesulitan, biasanya mereka tetap konsultasi.

Menurut Titin, selain mengerjakan rajutan, kebanyakan anggota Posdaya Taman Rajut juga memiliki usaha sampingan lainnya, seperti berjualan sayuran (Mlijo) dan usaha lainnya. Karena dari posdaya sendiri juga menyediakan bantuan pinjaman modal sekitar Rp1-2 juta sesuai kebutuhan mereka. Dari pinjaman tersebut diharapkan bisa membantu mengembangkan usaha mereka.

“Inti dari posdaya sendiri memang  untuk memberdayakan masyarakat dari yang awalnya  prasejahtera bisa menjadi sejahtera. Jadi, mereka dikasih modal awal untuk usaha  sesuai kebutuhannya. Usahanya pun bermacam-macam, tidak harus rajutan, tapi bisa usaha lainnya,” terangnya.

Di Posdaya Taman Rajut juga ada program simpan pinjam bagi anggota. Jadi, kalau mereka butuh uang untuk anaknya sekolah atau kebutuhan lain yang sifatnya mendadak mereka bisa pinjam.

Sekarang, ibu-ibu sudah punya pekerjaan dan penghasilan sendiri. Dari usaha rajut tersebut ada yang sudah bisa menyekolahkan anak. Titin terus memotivasi ibu-ibu, agar mereka tidak hanya menjadi ibu rumah tangga saja, tapi juga punya pekerjaan dan penghasilan sendiri. Paling tidak mereka punya kebanggaan dan akan lebih dihargai oleh suaminya.

“Jadi, sekarang sudah ada peningkatan perekonomian meskipun tidak sampai signifikan, tapi minimal mereka pelan-pelan sudah punya pekerjaan dan keterampilan, sehingga mampu meningkatkan kepercayaan diri ibu-ibu,” tuturnya.

Lebih lanjut, dikatakan, terdapat banyak varian rajutan yang di buat di Posdaya Taman Rajut, di antaranya karakter film anak seperti Minon dan Hello Kity. Ada juga gantungan kunci, tas rajut, dompet rajut, bungkus tisu, boneka rajut, karpet rajut, bungkus tisu dan miniatur kaktus.

Menurut ibu dari empat orang anak tersebut, selama ini banyak masyarakat yang beranggapan, bahwa yang namanya rajutan hanya berupa taplak.  “Pemikiran seperti itu yang ingin saya ubah. Karena sebenarnya rajut itu hanya tekniknya saja, tapi kita bisa membuat apapun dari teknik dasar rajut,” ungkapnya.

Untuk itu, Titin membuka kursus bagi siapa saja yang ingin belajar merajut dengan tarif Rp50-70 ribu per jamnya. Tetapi, Titin  juga memberikan kursus gratis setiap hari pukul 08.00-10.00 WIB.

Tidak hanya Ibu-ibu yang tertarik belajar merajut, para lansia (lanjut usia) juga banyak yang ikut merajut. Karena dengan merajut dapat mengurangi resiko pikun pada lansia dan meningkatkan daya ingat. Bahkan, para lansia ada yang mengatakan kalau mereka  sudah lama tidak merajut mereka justru sering merasakan pusing.

Titin menyampaikan, produk-produk hasil rajutannya kini dipasarkan secara online melalui Instagram dan Facebook. Sudah pernah dikirim ke hampir seluruh daerah di Indonesia. Bahkan per tiga bulan ada pesanan gantungan kunci untuk dijual ke Singapura. Sedangkan untuk kisaran harganya berkisar Rp5-450.000.

Namun begitu, saat ini yang menjadi permasalahan dalam usaha rajut adalah ketersedian bahan berupa benang rajut. Untuk itu Unmer sebagai perguruan tinggi pendamping Posdaya Taman Rajut mencoba memberikan solusi dengan memanfaatkan serat daun nanas untuk dijadikan benang rajut.

“Jadi, nanti buah nanasnya akan diolah ibu-ibu yang biasa berkecimpung di dunia kuliner. Sedangkan serat daun nanasnya akan digunakan sebagai benang rajut,” pungkasnya.

Lihat juga...