Perlu Kurikulum tentang Bahaya Ideologi Komunis

SABTU, 4 MARET 2017

Perlu Kurikulum tentang Bahaya Ideologi Komunis

TAJUK — Dalam situasi sosial politik 2017 yang penuh intrik dan pertengkaran, dikhawatirkan menuju perpecahan, Ketua Umum Persatuan Purnawirawan Angkatan Darat (PPAD) Kiki Syahnakri berteriak keras tentang anak cucu anggota Partai Komunis Indonesia yang terus melakukan kekacauan melalui bawah tanah. Mereka tergabung dalam komplotan pengungkit pengkhianatan PKI 1965 yang dinamai International People Tribunal (IPT) ’65 dan terus ngotot merangsek menyosialisasikan pemutarbalikan fakta, serta mengotori otak para mahasiswa dengan ideologi komunisme.

Anak cucu PKI tersebut, tak henti menipu para mahasiswa, bahwa PKI sama sekali tidak bersalah dalam peristiwa 1965. Para mahasiswa yang justru percaya dengan bualan bahwa PKI tidak bersalah, justru anak-anak Universitas Negeri. Mereka berhasil dicekoki anggapan, bahwa Angkatan Darat telah melakukan kejahatan kemanusiaan hingga genosida. Bahkan, mereka terus mendesak negara, agar tetap meminta maaf kepada PKI 1965.
Tragis sekali, ketika kita melihat generasi muda bangsa ini yang dari Universitas Negeri, malah menjadi korban cuci otak para pembela PKI yang telah berulangkali melakukan pengkhianatan kepada Pancasila. Padahal, berbagai pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) kepada bangsa Indonesia oleh para pengkhianat yang bernaung dalam Partai Komunis Indonesia, sudah terjadi sejak bulan-bulan awal Negara Indonesia ini berdiri pada 17 Agustus 1945.
Padahal, dari penelitian Chang & Halliday (2006), Courtois (2000), Nihan (1991), Ratanachaya (1996), dan Rummel (1993), didapatkan data ideologi Komunisme ini telah membantai 120 juta manusia di 75 Negara, sepanjang 1917-1991. Jika hendak dibuat rata-rata, terjadi pembantaian 1.621.621 orang dalam setahun, 4.504 orang dalam sehari, 3 orang per menit, 20 detik per orang, selama 74 tahun di 75 negara. Dengan berbagai fakta ini, apakah para kelompok mahasiswa yang membela para keluarga PKI adalah pendukung kekejian komunisme?
Yang lebih tragis, seorang anak yang didasari pemahaman agama, belum tentu tidak teracuni paham komunis. Justru, banyak sekali lulusan sekolah agama yang menjadi komunis, bahkan Atheis, ketika belajar di bangku Universitas.
Alangkah lebih baik jika para Ulama, Kyai, Pendeta, seluruh pemuka agama di seluruh Indonesia, membuat kurikulum pendidikan di sekolah berbasis agama mengenai bahaya Ideologi Komunis. Dengan adanya kurikulum bahaya ideologi komunisme, infiltrasi paham komunisme di berbagai Universitas bisa dihancurkan dan tidak merebak lagi. Tanpa kurikulum bahaya komunisme, anak dan cucu bangsa Indonesia bisa terus diinfiltrasi paham komunis di bangku perkuliahan.
Lebih baik lagi jika seluruh anak muda di Indonesia dibekali contoh perilaku kejam dari para pemeluk komunis di masa lalu. Antara lain, kekejaman aksi keji PKI pada peristiwa Kanigoro, peristiwa Jengkol, tragedi Bandar Betsy, dan berbagai kekejaman lain yang tak terhitung. Gagasan tentang kurikulum bahaya ideologi komunisme ini, memerlukan dukungan dari seluruh orang tua di Indonesia. Semakin cepat dukungan atas kurikulum mengenai bahaya ideologi komunis diterapkan, semakin cepat bisa menyelamatkan generasi Indonesia. Kenalkan kepada generasi muda, bahwa Pancasila dan UUD 1945 adalah bekal yang paling utama dalam mengarungi kehidupan berbangsa. 

Thowaf Zuharon

Pimpinan Redaksi CendanaNews

Lihat juga...