SABTU, 4 MARET 2017
LAMPUNG — Pasca angin Barat dan gelombang tinggi, sejumlah nelayan di perairan Selat Sunda dan perairan Timur Lampung kembali melaut. Dengan menggunakan perahu tradisional seperti, bagan congkel dan bagan apung, nelayan mulai mendapatkan tangkapan cukup melimpah di tengah kondisi angin tenang dan laut yang tak bergelombang pada awal Maret ini.
![]() |
| Samingan menjemur ikan |
Samingan (30), salah satu nelayan asal Rangkasbitung Jawa Barat yang mendarat di dermaga pusat pendaratan ikan (PPI) Muara Piluk Bakauheni mengungkapkan, sejak dua hari terakhir melaut selalu mendapat hasil tangkapan cukup lumayan dibandingkan bulan bulan sebelumnya. Ditambah pas musimnya, nelayan bisa menangkap 100 kilogram cumi termasuk ikan jenis lain.
“Pagi ini kita mendaratkan ikan dan langsung dijual ke pengepul atau bos ikan untuk dijual ke pasar dan hasilnya cukup lumayan untuk biaya operasional melaut dan keperluan lain terutama untuk jenis ikan cumi yang hasilnya cukup tinggi,”ungkap Samingan yang ditemui Cendana News sembari menjemur sebagian ikan hasil tangkapan untuk dijadikan ikan asin di dermaga Muara Piluk Desa Bakauheni, Sabtu (4/3/2017).
Khusus untuk cumi ukuran kecil saja Samingan mengaku memperoleh hasil sekitar Rp1.800.000 untuk 60 kilogram dengan harga perkilogram di tingkat pengepul Rp30.000. Sementara ukuran besar dengan jumlah 40 kilogram ia berhasil memperoleh uang sebesar Rp1.600.000 dengan harga Rp40.000 perkilogram. Sementara untuk ikan jenis lain dengan kisaran harga Rp15.000 perkilogram ia mengaku memperoleh hasil Rp1.000.000 dengan jenis ikan tanjan, bondolan serta berbagai jenis ikan lain.
![]() |
| Cumi cumi ukuran besar |
Membaiknya cuaca di perairan Selat Sunda juga memberi dampak positif bagi Suhida (41), warga Dusun Muara Piluk Bakauheni yang menjadi pembeli dan pengepul berbagai jenis ikan. Suhida mengaku jumlah transaksi di PPI Muara Piluk bisa mencapai 20 nelayan perhari dengan rata rata nelayan menjual berbagai jenis ikan dengan transaksi mencapai Rp3-4juta per hari. Sebagian nelayan diakuinya rata rata membawa ikan jenis cumi cumi dan ikan lain yang harganya mulai membaik bagi nelayan.
“Rata rata per hari saya melakukan transaksi hingga puluhan juta belum termasuk empat pengepul ikan lain yang juga ada di pusat pendaratan ikan Muara Piluk ini,”ungkap Suhida.
![]() |
| Suhida salah satu pengepul ikan di Muara Piluk Bakauheni menghitung transaksi |
Ia mengungkapkan berbagai jenis ikan tersebut diantaranya cumi cumi, selar serta jenis ikan lain dijual kepadanya untuk dididtribusikan ke sejumlah pasar di Lampung dan sebagian dikirim ke Jakarta. Ia mencatat dalam sehari sebanyak 20 nelayan atau pelanggan yang menjual ikan kepadanya.
Rata rata harga ikan saat musim membaik kali ini ia mengaku ada sekitar empat pengepul yang beroperasi di PPI Muara Piluk dengan jenis ikan berbeda yang dibeli sesuai kebutuhan diantaranya untuk bahan ikan asin dan teri kering dan sebagian dijual di pasar lokal. Harga beberapa jenis ikan diakuinya masih cukup tinggi diantaranya harga cumi dikisaran Rp35-40 ribu, ikan Tanjan per cekeng atau keranjang dengan ukuran 15 kilogram harganya mencapai 50 ribu per kilogram, ikan teri percekeng mencapai 200 ribu, ikan bondolan mencapai Rp50ribu pekilogram, sementara ikan jenis lain mencapai Rp15ribu perkilogram.
“Ikan di sini tergantung musim karena jenis jenis ikan tertentu sulit diperoleh sehingga harganya mahal sementara saat musim ikan harganya murah,”ungkap Suhida sembari menghitung transaksi dengan kalkulator.Suhida mengaku harga ikan di sejumlah pasar tradisional bersifat fluktuatif bahkan harga yang dijual di pasar ikan bisa lebih murah dibandingkan di tingkat pengepul menyesuaikan tingkat permintaan masyarakat akan ikan dan mengikuti harga pasar. Ia mengaku dalam beberapa pekan ke depan dipastikan pasokan ikan melimpah dibandingkan bulan sebelumnya saat pengepul ikan kesulitan memperoleh pasokan untuk dijual kembali.
Jurnalis : Henk Widi / Redaktur : ME. Bijo Dirajo / Foto : Henk Widi

