SABTU, 4 MARET 2017
MALANG — Guru besar jurusan Sastra Indonesia Universitas Negeri Malang (UM), Pro. Djoko Saryono mengatakan, saat ini sudah banyak masyarakat di Indonesia yang sudah menjadi bagian dari ‘Zaman Pasca Kebenaran’ atau zaman ketika kabar bohong, kabar palsu maupun kabar dusta dikemas dalam penalaran, dalam logika bukti argumen yang begitu meyakinkan, sehingga orang lain percaya bahwa seolah-olah hal tersebut merupakan sebuah kebenaran, kenyataan, dan sebuah fakta alternatif. Kemasan tersebut bisa berupa ikatan emosional maupun hal-hal yang sensitif terutama yang menyangkut persoalan Agama.
![]() |
| Djoko Saryono (baju putih) saat simposium “Zaman Pasca Kebenaran’ |
“Saya kira saat ini kita sudah menjadi bagian dari zaman pasca kebenaran. Maksudnya mungkin kita pernah membagikan informasi, berita atau apapun dari teman kita dari satu wahatshapp (WA) ke WA yang lain, dan itulah yang saya sebut kita sudah menjadi bagian dari industri zaman pasca kebenaran itu,” ucapnya saat jadi pemateri dalam simposium sastra bertajuk ‘Zaman Pasca Kebenaran’ di kafe pustaka Universitas Negeri Malang (UM) Jumat (3/3/2017) Malam.
Ciri-ciri zaman pasca kebenaran yang pertama yaitu semua sengaja di buat rumit sehingga tidak diketahui lagi mana yang benar dan mana yang salah. Sedangkan ciri yang kedua zaman pasca kebenaran yakni membuat nalar sehat selalu mengelak dan nalar yang selalu berkelit sehingga tidak bisa lagi menggunakan jalan pikirannya dengan baik.
Zaman pasca kebenaran itu disuarakan mulanya di dunia politik yang sebenarnya baik, tetapi di negara-negara seperti negara Indonesia ini moralitas dan etika itu ternyata absen di dalam dunia poitik, sehingga fenomena zaman pasca kebenaran terus terus berkembang biak.
![]() |
| Djoko Saryono |
Hal yang sama juga terjadi di bidang jurnalisme ketika tidak tersaring dengan baik. Lebih lanjut di Indonesia ternyata fenomena zaman pasca kebenaran juga berkembang biak di media sosial.
“Hal ini menandakan bahwa semua aspek kehidupan kita sudah terpapar oleh zaman pasca kebenaran itu. Di zaman pasca kebenaran menurut saya kita sedang menghadapi banyak persoalan yang salah satunya yaitu bergeser dan rusaknya sendi-sendi sosial sehingga kita menjadi tidak nyaman lagi untuk bersama-sama,” ungkapnya.
Cara menghindari perangkap zaman pasca kebenaran, salah satunya yaitu memperkokoh gerakan literas atau bisa juga dimulai dengan tidak hanya membaca 150-200 karakter saja, dan mulai kembali membaca 100-200 halaman. Karena sekarang kebanyak dari kita hanya membaca 100-200 karakter saja, padahal disitu kita hanya mendapatkan serpihan-serpihan informasi dan serpihan-serpihan nalar sehingga kita tidak terlatih untuk menyusun sebuah penalaran yang lengkap.
“Kita bisa memulainya dengan membiasakan diri membaca lebih banyak. Tetapi sebelum itu dibiasakan, kita terlebih dulu harus membiasakan diri kita agar tidak takut dengan bacaan yang memiliki 100-200 halaman,” tuturnya.
Jurnalis : Agus Nurchaliq / Redaktur : ME. Bijo Dirajo / Foto : Agus Nurchaliq
