Christoffel Leendert Korua Bukukan Perjuangannya Bela NKRI

SABTU, 25 MARET 2017

JAYAPURA — Christoffel Leendert Korua membukukan namanya dalam sebuah buku yang ditulis oleh Marthen Luther Djari. Buku tersebut menceritakan perjalanan panjangnya selama 67 tahun di Tanah Papua yang dulu disebut Irian Barat.

Christoffel Leendert Korua

Marthen Luther Djari dalam prosesi launching sekaligus bedah buku di Sentani, Kabupaten Jayapura mengaku jika ia menulis buku tersebut karena terpanggil akan sepak terjang Korua dalam perjuangannya membela Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). “Ini pertama kalinya saya menulis buku biografi, karena nilainya terlalu tinggi sehingga saya abaikan ketakutan saya. Nilai-nilainya Pak Chris itu luarbiasa, terlepas dari keterbatasan-keterbasan manusiawi,” kata Marthen, saat proses membedah buku Christoffel Leendert Korua, Sabtu (25/3/2017).

Marthen mengaku kewalahan saat memilah-milah foto mana saja yang akan dipublish dalam buku yang ditulisnya itu, lantaran tokoh tersebut gemar menyimpan foto-foto kenangan dari zaman dulu hingga kini. “Pak Chris bukan lahir dari satu pribadi keluarga yang agung, tetapi dia menjadi agung karena perjuangannya,” tutur Marthen, lulusan akademi Theologia di Kupang pada 1977, itu.

Christoffel Leendert Korua yang lahir pada 9 September 1933 di Cepu, Jawa Tengah, lanjut Marthen, adalah teman sekelas mantan Menteri Luar Negeri Ali Alatas. Pada 1936, beliau mendapatkan status persamaan yang diberikan oleh Pemerintah Belanda. “Beliau tercatat dalam buku Negara di Belanda yang masih tersimpan sampai saat ini, dengan status ini beliau dapat kemudahan sekolah gratis, pekerjaan gampang, urus nikah mudah. Ini menjadi potensi besar baginya. Tapi, nyatanya beliau tetap membela Indonesia,” kata Marthen, lulusan STTH Dutawacana Yogyakarta 1982.

Marthen Luther Djari

Pangdam XVII Cenderwasih, Mayor Jenderal TNI Hinsa Siburian, di sela peluncuran buku itu mengaku bangga atas perjuangan Christoffel Leendert Korua. Ia berharap, generasi muda di Papua membaca buku ini serta mengambil nilai-nilai luar biasa dalam tulisan tersebut. “Beliau kan pelaku dalam sejarah itu, jadi memang memberikan banyak pelajaran untuk kita, bagi generasi muda, terutama bagi mahasiswa di Papua,” katanya.

Bagi Hinsa yang merupakan prajurit TNI AD, nilai-nilai semangat juang beliau, kerja keras, disiplin dan karakter pejuang beliau patut dicontoh. Selain itu, nilai lainnya tak pernah hilang seperti telah pensiun, tetap  memikirkan apa yang dapat dilakukan bagi sesama manusia. “Mari kita baca buku ini, itu pesan saya,” ujarnya.

Hinsa menambahkan, pihaknya akan memborong buku tersebut guna membagikan kepada seluruh prajurit yang ada di Tanah Papua, agar dapat mengambil pelajaran dalam perjalanan perjuangan Christoffel Leendert Korua. “Nanti kami akan pesan untuk dibaca di satuan-satuan. Yang membaca ini siapapun, ya bisa mengambil pelajaran bahwa hidup memang seperti itu. Prajurit sering baca, tapi buku ini mempunyai nilai-nilai perjuangan bagi prajurit di Papua ini, mulai dari semangat juang dan disiplin luarbiasa,” katanya.

Mayor Jenderal TNI Hinsa Siburian

Sementara, Christoffel Leendert Korua, tokoh dalam buku biografi itu mengatakan, kedisiplinan datang dari diri sendiri, dan selanjutnya dapat diterapkan ke lingkungan sekitar hingga dalam pekerjaan. “Pengalaman saya ini datangnya dari Tuhan, tak direncanakan. Apa saja yang datang, saya terima, bisa saya selesaikan atau tidak, tapi saya harus berusaha,” kata Christoffel Leendert Korua.

Buku Christoffel Leendert Korua 67 Tahun Berpetualang di Papua, ini menjadi satu-satunya dan pertama sejarah perjuangan seorang tokoh yang notabene bukan orang asli Papua, namun mencintai Papua hingga akhir hayatnya nanti.

Jurnalis: Indrayadi T Hatta/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Indrayadi T Hatta

Lihat juga...