SELASA, 28 FEBRUARI 2017
JAYAPURA — Banyak saksi hidup yang dapat menceritakan pengalaman mereka saat berjuang bersama almarhum Jenderal Besar HM Soeharto. Berikut Cendana News mengulas kisah Letnan Kolonel Purnawirawan Koesmanto, yang kini telah berusia 86 tahun.
| Letkol (Purn) Koesmanto |
“Pak Harto (sapaan Almarhum Jenderal Besar HM Soeharto), saat menjadi komandan saya di Divisi II Ponegoro, orangnya tegas dan loyal kepada anggota, terlebih kepada rakyat,” kata Letkol (Purn) Koesmanto, kepada Cendana News belum lama ini.
Sebelum dirinya lebih lanjut menceritakan Soeharto, ia membawa tim Cendana News ke dalam sejarah dirinya menjadi tentara di Batalyon Mayor Suradji dan ikut berperang di Ambarawa. Kala itu tahun 1945. Namun, sebelum masuk tentara dirinya sudah bergabung dengan Pemuda Pembela Indonesia.
Ia menceritakan, pada 1945-1947, dirinya berjuang di Ambarawa, Jawa Tengah, di bawah pimpinan Letkol M. Sarbini. Di tahun itu juga, Komandan Resimen Banyumas Letkol Isdiman gugur dalam peperangan dan komandan pasukan saat itu dikendalikan Panglima Divisi Purwekerto, Kolonel Soedirman.
Setelah berhasil mempertahankan Ambarawa, tepatnya pada akhir 1947, ia yang tergabung dalam pasukan pemuda berjalan kaki menuju Boyolali menyusuri hutan dan melintasi Gunung Merapi dan Merbabu. “Saat jalan kaki, kami diperintahkan tak boleh bergerombolan, harus terpisah dengan jarak yang agak jauh,” kata mantan pejuang kelahiran Semarang, 31 Agustus 1931, silam, itu
Sesampainya di Boyolali, ia bergerak ke Delanggu, Klaten, Jawa Tengah. Tugas yang mereka emban saat itu sebelum bertolak dari Ambarawa yaitu bergerilya. “Tugas kami saat itu hanya disuruh bergerilya, tak boleh menetap pada satu tempat. Kami sengaja lewati Gunung Merbabu, karena tidak ada Belanda, kalau di daerah Banyu Biru ada Belanda,” tutur pria yang memiliki 10 anak itu.
Saat dirinya tiba di Ampel yang dipenuhi pasukan Belanda di 1948, Ia tak bertindak gegabah seperti menyerang, melainkan tetap bergerilya untuk mencari kelemahan Belanda. “Kalau sekarang dibilang penyisiran. Waktu itu kami gerilya untuk mencari titik lokasi Belanda serta mencari kelemahannya,” katanya.
Setelah dari Ampel, pasukan terus bergerilya kembali ke Delanggu dan di sana Belanda memimpin ‘Kenil-Kenil-nya’ (orang-orang Jawa yang menjadi antek-antek Belanda –red)). Nah, dirinya beristirahat di rumah-rumah warga. “Saya kebetulan tidur di rumah warga yang bukan antek Belanda. Saat itu, Belanda sedang operasi pencarian di tiap-tiap rumah,” ujarnya.
Beruntung, saat dirinya tengah tertidur lelap, dibangunkan pemilik rumah, bahwa ada pasukan Belanda di depan rumah dan si pemilik rumah memerintahkannya agar tak kabur melewati pintu depan, namun dirinya ingin tahu berapa banyak Belanda di luar rumah.
Begitu dirinya membuka pintu melihat keluar arah kanan, tak disangka Belanda berada tepat di sebelah kiri pintu. Dor!!! Koesmanto ditembak dengan senjata api laras pendek dengan jarak kurang dari 1 meter. Berselang berapa detik, dirinya juga menembak pada mata kanan tentara Belanda itu. “Ditembak saya! Kena bahu kiri tembus dan peluru bersarang di dagu saya. Ini buktinya, coba kamu pegang, masih ada pelurunya,” kata Koesmanto, sambil menunjukkan peluru yang masih berada di dagunya itu.
Setelah tentara Belanda itu mati, dirinya mengambil pistol tentara itu dan kabur menuju rumah Pak Lurah Pitoharjo. Dengan pengobatan tradisional, ia diobati oleh Ibu Pak Lurah. “Di daerah itu mana ada rumah sakitnya kita (Indonesia), yang ada rumah sakit milik Belanda. Peluru di dagu saya tidak bisa dikeluarkan, tapi saya minta dicarikan orang pintar, agar saya kebal dari peluru,” katanya.
Setelah ditemukan orang pintar atau dukun, dirinya disuruh untuk tidur selama 3 hari. Namun, hati kecilnya ragu, kalau saat tidur di rumah itu orang yang mengaku dukun memanggil Belanda untuk menangkapnya. “Orang itu bilang pendukung Republik dan dia bilang jadi bapak percaya sama saya tidur di sini. Dia bilang bapak tenang saja kalau di rumah saya, Belanda tidak akan melihat rumah ini. Dia ini istilah dulu dukun. Saya diobati tanpa perban hanya daun-daun saja,” ujarnya.
Selama 3 hari ia hanya dapat makan seadanya, karena belum bisa mengunyah dengan baik akibat dagu yang belum sembuh akibat tembakan Belanda. Hari ke hari, bulan berganti, dirinya sembuh dari kesakitan luka tembak di dagu.
Setelah sembuh, tepat pada 1949, ia yang bergabung dalam pasukan Batalyon Mayor Suradji yang digabungkan dengan Batalyon 352 di bawah pimpinan Letkol Slamet Riyadi yang saat itu sebagai Danrem Solo, untuk persiapan dikirim keluar Jawa. “Setelah Danrem Slamet Riyadi ikut, posisinya sebagai Danrem diganti Pak Harto,” ujarnya.
Jurnalis: Indrayadi T Hatta/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Indrayadi T Hatta