SENIN, 27 FEBRUARI 2017
LAMPUNG — Banjir yang melanda lahan pertanian di wilayah Kecamatan Palas dan Kecamatan Sragi, Lampung Selatan, hingga kini belum juga menunjukkan tanda-tanda akan segera surut. Salah-satu petani di Desa Palas Jaya, Jupit (29), mengatakan, akibat banjir yang merendam tanaman padinya yang berumur 21 hari itu dipastikan akan mebuat tanaman padi membusuk dan tak bisa diselamatkan.
![]() |
| Jupit menunjukkan sawahnya yang masih tergenang banjir. |
Jupit juga mengaku, sudah melakukan pemupukan satu kali dengan sebanyak 10 kuintal pupuk dengan modal sekitar Rp. 2 Juta dalam pemupukan tahap pertama. Namun, saat banjir pertama kali melanda pada Sabtu (18/2/2017), seluruh tanaman padi jenis Muncul miliknya terendam banjir. Jupit hanyalah salah-satu saja dari ratusan petani di wilayah Kecamatan Palas, yang tanaman padinya menjadi korban banjir akibat jebolnya tanggul Sungai Way Sekampung, yang meski telah diperbaiki kini banjir belum juga surut.
Jupit mengungkapkan, salah-satu faktor air banjir masih merendam ratusan lahan sawah di wilayah tersebut lantaran saluran air yang sudah tak bisa menampung dan tak bisa mengalirkan air banjir ke sungai. “Saat ini, ketinggian banjir di sawah bahkan belum surut, karena air tidak bisa dibuang melalui saluran-saluran pembuangan tersier ke saluran sekunder. Bahkan, jika saluran primer dibuka, justru akan menambah ketinggian air yang menggenang di sawah,” terangnya, saat ditemui Cendana News di areal persawahan Desa Palas Jaya, Senin (27/2/2017).
Air banjir yang menggenangi areal persawahan warga diakuinya sudah sekitar 10 hari dan dipastikan merusak tanaman padi, dan sehingga memaksa petani harus melakukan penanaman ulang sambil menunggu air surut. Selain akibat saluran air yang tidak bisa membuang air banjir, belum surutnya banjir yang menggenangi sawah juga disebabkan faktor air Sungai Way Sekampung yang masih tertahan oleh kondisi pasang di Kuala Jaya, dan air belum bisa terbuang ke laut.
Jupit menyebut, banjir pada tahun ini merupakan yang terparah yang menimpa lahan pertanian, ditambah dengan jebolnya Sungai Way Sekampung di Desa Serdang yang merupakan perbatasan antara Kabupaten Lampung Selatan dan Lampung Timur. Sebelumnya, paling lama banjir terjadi 5 hari dan segera surut. Namun, pada tahun ini hingga sepuluh hari belum juga menunjukkan tanda-tanda akan surut.
Sebelumnya pada saat pendataan awal, Pelaksana Harian Kepala UPT Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan (DTPHP) Kecamatan Palas, Rusdi, mendampingi Kepala DTPHP Kabupaten Lampung Selatan, Rini Ariasih, merilis banjir di wilayah Kecamatan Sragi dan Palas mencapai 1.305 hektar, dan Kecamatan Sragu seluas 105 hektar.
Banjir yang disebabkan aliran Sungai Way Pisang dan saluran primer lain serta dari Sungai Way Sekampung mengakibatkan puso, terutama pada tanaman padi yang hingga 10 hari masih tergenang air. Sementara di areal sawah yang tidak tergenang air, masih bisa diselamatkan. Sementara pada kejadian banjir sebelumnya dengan sawah yang terendam selama 5 hari, masih bisa dilakukan proses penyulaman dengan bibit baru.
Pihak DTPHP, menurut Rini Ariasih, terus melakukan pendataan jumlah tanaman padi yang mengalami puso akibat terendam. Khusus di wilayah Kabupaten Lampung Selatan, Rini menyebut disediakan cadangan benih daerah (CBD) untuk tanaman seluas 500 hektar, dengan persediaan dari kabupaten dan jika kurang akan diambilkan dari CBD Provinsi atau pusat.
Pantauan Cendana News di beberapa wilayah di Kecamatan Palas, lahan sawah yang telah terendam banjir masih belum menunjukkan tanda-tanda akan surut. Sejumlah pintu air masih ditutup untuk mengantisipasi air semakin menggenang di lahan persawahan. Petani terpaksa melakukan aktivitas lain akibat sawahnya terendam air dan belum surut. Hingga kini, sebagian memilih bekerja di rumah dan sebagian menjadi tukang ojek. Selain belum bisa melakukan aktivitas di sawah, sebagian petani mengaku belum bisa melakukan proses penanaman kembali akibat banjir yang belum surut di areal persawahan yang mereka miliki.
Jurnalis: Henk Widi/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Henk Widi