SELASA, 3 JANUARI 2017
BANTUL — Delapan tahun silam, minat masyarakat untuk mengkonsumsi produk olahan makanan dari bahan jamur memang belum setinggi saat ini. Jumlah pembudidaya jamur, sekitar tahun 2008, juga terbilang masih sangat minim. Namun, hal itu justru dilihat sebagai sebuah peluang menjanjikan oleh pemuda asal Dusun Klagon, Argosari, Sedayu, Bantul, Rokijan, yang saat itu masih berumur 22 tahun.
![]() |
| Rokijan tengah memanen jamur tiram miliknya. |
Berawal dari memasarkan produk hasil olahan jamur milik tetangganya ke warung-warung, Rokijan akhirnya memberanikan diri untuk merintis usahanya sendiri dengan menjadi petani jamur. Memanfaatkan sebuah kamar kecil di sudut rumah orang tuanya yang berukuran 4,5 meter persegi, Rokijan mulai menanam jamur tiram. Saat itu, ia mengaku, masih membeli log atau media tanam jamur di sebuah pembudidaya asal Sleman.
Setelah jamur yang ia tanam mulai panen, ia pun lantas menjualnya sendiri dengan mengolahnya menjadi produk makanan. Seiring waktu berjalan, usaha Rokijan mulai bergeliat. Ia mulai membangun bubung atau kandang budidaya jamur yang lebih luas untuk menambah jumlah produksinya. Ia bahkan juga memutuskan untuk membuat log sendiri untuk kemudian ia jual. Tak disangka, usaha budidaya jamur tiram milik Rokijan berkembang pesat. Sebagian hasil usaha yang selalu ia sisihkan, ia gunakan untuk menambah kapasitas produksi. Sejumlah bantuan modal juga mulai berdatangan. Jika semula ia hanya mampu memproduksi jamur tiram sebanyak 5 kilogram per hari, kini ia telah mampu memproduksi jamur tiram hingga mencapai 30-40 kilogram per harinya.
Setelah beberapa tahun berjalan kini ia bahkan telah mampu mempekerjakan sebanyak 11 orang tetangga di sekitar rumahnya. Tak hanya itu, usaha budidaya jamur Rokijan juga berkembang tak hanya memproduksi satu jenis saja yakni jamur tiram, namun juga mulai merambah ke jamur merang, yang memiliki nilai ekonomis lebih tinggi.
“Untuk budidaya jamur merang, saya mulai sekitar tahun 2011. Awalnya itu saya hanya memiliki 5 bubung dengan produksi 8 kilo jamur per hari. Namun kini saya punya 13 bubung dengan produksi sekitar 30 kilo setiap harinya, ” tutur lelaki yang kini berusia 30 tahun ini kepada Cendana News, Selasa (03/01/2017).
Dengan harga jual Rp10 ribu per kilo untuk jamur tiram dan Rp 24 ribu per kilo untuk jamur merang, bisa dibayangkan berapa besar pendapatan yang dihasilkan Rokijan setiap harinya. Itu belum ditambah pendapatannya dari hasil menjual log atau media tanam, serta pendapatan dari hasil menjual produk olahan jamur seperti keripik dan produk olahan jamur lainnya, jika ada pesanan.
“Kuncinya itu kesabaran dan ketekunan. Jangan lantas menyerah jika menemui kendala atau kegagalan,” kata bapak 3 anak ini.
Berkat keberhasilan mengembangkan usaha budidaya jamur miliknya, pada tahun 2015 lalu pun, Rokijan mendapat penghargaan sebagai pemuda berprestasi tingkat nasional oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga. Pada tahun yang sama, kelompok petani jamur “Pesona Jamur” yang didirikannya, juga berhasil memenangi juara 1 tingkat DIY dan juara 2 tingkat nasional untuk kategori budidaya jamur tiram. Termasuk juara 3 tingkat nasional untuk budidaya jamur merang. Meski bisa dikatakan telah berhasil, Rokijan sampai saat ini pun tak segan membagi ilmunya kepada orang lain. Ia bahkan kerap diundang menjadi pembicara sejumlah acara pelatihan budidaya jamur. Tak sedikit pula masyarakat dari berbagai daerah datang ke rumahnya untuk secara langsung belajar bagaimana membudidayakan jamur.
Jurnalis: Jatmika H Kusmargana / Editor: Satmoko / Foto: Jatmika H Kusmargana