Refleksi Sikka 2016: Fokus Pembangunan pada Tiga Program Unggulan (1)

SENIN, 2 JANUARI 2016

MAUMERE — Pada 2016, APBD Kabupaten Sikka sebesar Rp. 1.119.370.000.000 terdiri dari PAD Rp. 98.858.138.792, dana perimbangan Rp. 903.387.713.442, dan pendapatan lain-lain yang sah sebesar Rp. 116.724.143.766. Untuk belanja dialokasikan sebesar Rp. 1.219.581.664.527 terdiri dari belanja tidak langsung Rp. 671.739.054.009, dan belanja langsung Rp. 547.842.610.518.

Pembangunan Monumen Tsunami di daerah pertokoan Kota Maumere.

“Pelaksanaan program pembangunan selama tahun 2016 mengacu pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah, Kabupaten Sikka, 2013 sampai 2018,” sebut Drs.Yoseph Ansar Rera.

Menurut Bupati Sikka periode 2013 sampai 2018 ini, saat konferensi pers kepada media, Sabtu (31/12/ 2016), mengatakan, untuk tahun 2016, pemerintah tetap melaksanakan program dan kegiatan yang terfokus pada program pembangunan daerah yang diarahkan untuk mencapai 7 program utama pembangunan daerah. Kebijakan belanja tidak langsung, kata Ansar, pemanfaatannya untuk masyarakat pada bantuan keuangan  pemerintahan desa melalui alokasi dana desa kepada 147 desa dan membiayai 8 partai politik yang ada di wilayah Kabupaten Sikka.

“Selain itu juga belanja hibah dan bantuan sosial untuk pembangunan sarana dan prasarana ibadah seperti gereja, kapel, masjid atau mushola, sebanyak 36 unit,” tuturnya.

Kebijakan pelaksanaan program dan kegiatan pada belanja langsung, lanjut mantan Sekda Ende ini, lebih difokuskan pada 7 program perencanaan pembangunan daerah. Pertama, kata Ansar, percepatan pembangunan perekonomian daerah berbasis sektor unggulan merupakan langkah strategis dalam upaya meningkatkan daya saing daerah secara umum dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Kedua, sektor unggulan dimaksud adalah perkebunan, perikanan, dan pariwisata. Sektor perkebunan lebih difokuskan pada pengelolaan pasca panen tanaman perkebunan dengan tetap memperhatikan peningkatan produksi dan produktivitas tanaman perkebunan melalui rehabilitasi dan pemeliharaan tanaman perkebunan.

“Sektor perikanan lebih difokuskan peningkatan produksi perikanan dan sumber daya laut lainnya serta membuka jaringan pemasarannya,” terangnya.

Sektor pariwisata, urai Ansar, lebih difokuskan pada pengelolaan obyek-obyek wisata unggulan seperti wisata bahari, wisata budaya, wisata religi dan wisata alam. Pengadaan sarana dan prasarana pariwisata, antara lain pembangunan pagar, pusat informasi pariwisata, lopo dan rehab panggung di Pusat Jajanan dan Cenderamata Maumere serta rehab pagar wisata rohani patung Kristus Raja.

Untuk sektor perkebunan, sebutnya, digunakan untuk peningkatan produksi pertanian perkebunan, khususnya produksi mente, kakao dan kelapa serta untuk peningkatan produksi perikanan dan kelautan.

“Untuk sejumlah sektor ini dialokasikan anggaran sebesar Rp. 50.703.249.407,” terangnya,

Program berikutnya, ungkap Ansar, pengembangan infrastruktur sosial dan ekonomi dimaksudkan untuk meningkatkan akses masyarakat terhadap sumber daya ekonomi dan sosial yang tersedia dengan tetap memperhatikan kualitas lingkungan hidup.

Ketersediaan infrastruktur, lanjutnya, lebih difokuskan pada wilayah-wilayah yang potensial. Khusus untuk tiga sektor unggulan relatif masih kurang sehingga menghambat proses produksi dan jaringan pemasaran untuk sektor perkebunan dan perikanan, serta menurunkan minat wisatawan untuk berkunjung ke obyek-obyek wisata yang menarik.

“Pembangunan infrastruktur  ini  kami alokasikan dana sebesar  Rp. 231.267.829.92 untuk membangun jalan, jembatan, bendungan, jaringan irirgasi, dan turap,” paparnya. Dana sebesar itu digunakan untuk pekerjaan jalan sebanyak 34 titik, antara lain ruas jalan Wolowiro–Nuaria, Bola–Sikka, Habi–Nelle, Lambalena–Soko Ria, Tanangalu–Woloara, dan Waigete–Galit. Ada pula pembangunan jembatan 4 unit, yakni Jembatan Soe Poa Kecamatan Mego, Jembatan Waiara Kecamatan Mapitara, Jembatan Watu Leke Desa Masabewa Kecamatan Paga, dan Jembatan Tuanggeo–Rokirole di Kecamatan Palue.

Pembangunan daerah irigasi, urai Ansar, berupa rehab bendungan 3 unit, yakni Bendungan Wairhewar, Ae Kana dan Henga. Juga dilakukan peningkatan 6 unit jaringan irigasi di Dagi Longga, Mase Kea, Tilang, Wodong, Wair Hewar, dan Dage Naka. Dilanjutkan pula dengan pembangunan lima turap kali, yakni di Wairklau, Nangalimang, Kaliwara, Natar Gete, dan Nativitas Nangahure.

“Dana tersebut juga  untuk pembebasan tanah lingkar luar sepanjang 3 kilometer serta dimanfaatkan untuk pembangunan jalan usaha tani,” jelasnya.

Bupati Sikka, Drs. Yoseph Ansar Rera (kiri) bersama Wakil Bupati Sikka, Drs.Paolus Nong Susar.

Selain itu, papar mantan Wakil Bupati Sikka ini, juga dilakukan perbaikan jalan dalam kota Maumere, pembangunan Taman Kota dan Monumen Tsunami di pusat perbelanjaan dan pertokoan Maumere, pembangunan Gedung Serba Guna di Jalan Achmad Yani Maumere, pembangunan lanjutan Sikka Inovation Center di Wairklau Maumere. (Bersambung)

Jurnalis: Ebed de Rosary / Editor: Satmoko / Foto: Ebed de Rosary

Lihat juga...