Wisatawan Keluhkan Kondisi Dermaga Canti di Lampung Selatan

SENIN, 2 JANUARI 2017

LAMPUNG — Kalangan pelaku pariwisata di antaranya pemilik agen tur dan travel mengeluhkan infrastruktur Dermaga Canti menuju objek wisata Pulau Sebesi, Pulau Sebuku, yang terhubung dengan Pulau Sumatera yang masih dalam kondisi terbuat dari lantai kayu dengan fasilitas beberapa kapal kayu untuk menyeberangkan wisatawan ke beberapa tujuan wisata di Kepulauan Krakatau. Meski tanpa ada kendala untuk aktivitas penyeberangan, dermaga yang merupakan dermaga rakyat untuk keperluan penyeberangan antarpulau di wilayah Kecamatan Rajabasa Lampung Selatan tersebut, hanya bisa disandari kapal-kapal kecil. Salah satu pengelola biro perjalanan wisata, Andika, selaku pemilik Andika Tour berharap, pemerintah daerah menyiapkan dermaga memadai untuk aktivitas para wisatawan yang akan berlibur ke Kepulauan Krakatau.

Suasana penyeberangan di Dermaga Canti.

Andika mengungkapkan, permintaan kunjungan ke Pulau Krakatau selalu meningkat saat liburan panjang sehingga selalu ada open trip Krakatau dan beberapa tempat wisata di Kepulauan Krakatau d iantaranya Pulau Sebesi, Pulau Sebuku Besar, Pulau Sebuku Kecil, Pulau Umang-umang dan Lagoon Cabe. Sebagian didominasi wisatawan asal Jakarta yang belum pernah sama sekali menginjakkan kaki di Kepulauan Krakatau dan melihat Gunung Anak Krakatau yang bersejarah tersebut. Selain infrastruktur dermaga yang perlu terus dibenahi, kondisi Dermaga Canti yang masih menyatu dengan dermaga rakyat tersebut masih menggunakan perahu-perahu tradisional yang digunakan untuk mengantar wisatawan.

“Saat kondisi air surut perahu yang akan bersandar ke Dermaga Canti harus hati-hati karena sebagian batu karang yang ada di sekitar alur masuk dan keluar mengganggu, namun setidaknya pemerintah daerah bisa membuat dermaga wisata yang lebih representatif,” ungkap Andika yang akan pulang ke Jakarta setelah melakukan wisata di Pulau Sebesi sejak libur tahun baru dan akan kembali ke Jakarta siang ini, Senin (2/1/2017).

Kondisi infrastruktur dermaga dan fasilitas kapal wisata yang masih menggunakan kapal kayu, menurut Andika, membuat penyedia jasa agen perjalanan wisata tersebut harus mampu bersaing dengan agen perjalanan wisata yang menyediakan fasilitas perahu fiber dari pantai Carita Banten. Sebagian wisatawan terutama dari luar negeri dengan fasilitas hotel dan kapal khusus wisata sebagian memilih berangkat dari pantai Carita Banten tanpa harus menyeberang dua kali untuk mencapai Kepulauan Krakatau. Sementara untuk perjalanan wisata yang dilakukan olehnya, selama ini para wisatawan harus berangkat dari Jakarta menuju Merak. Kemudian naik kapal ke Bakauheni dilanjutkan menuju ke Dermaga Canti menggunakan kendaraan angkutan umum. Dilanjutkan lagi menggunakan kapal tradisional untuk menuju ke Kepulauan Krakatau.

Jarak tempuh yang jauh dan waktu tempuh yang lama tidak dipermasalahkan para wisatawan dengan adanya penyedia jasa wisata yang telah menyiapkan semua akomodasi mulai transportasi hingga  penginapan pulang pergi. Biaya yang dikeluarkan pun dengan sistem kelompok para wisatawan cukup mengeluarkan biaya sekitar Rp 450 ribu-Rp 500 ribu untuk paket wisata selama 3 hari 2 malam. Wisatawan juga dimudahkan terutama dari Jakarta dengan berangkat secara berkelompok dan menggunakan kendaraan yang sudah dipesan dari Jakarta ke Merak atau juga dari Bakauheni menuju ke Dermaga Canti.

Aktivitas di Dermaga Canti.

Sementara itu, menurut salah satu pemilik perahu tradisional di dermaga Canti, Sodikin (37), keberadaan Dermaga Canti sudah ada sejak lama sehingga infrastruktur tersebut menjadi penunjang perekonomian warga. Akses utama untuk warga yang tinggal di Pulau Sebuku, Pulau Sebesi, bahkan telah berlangsung sejak ratusan tahun silam dan penggunaan untuk jalur wisata baru mulai marak semenjak sepuluh tahun terakhir. Ia juga mengakui, beberapa fasilitas dermaga, kapal-kapal yang ada masih cukup tradisional sehingga perlu dilakukan pengembangan yang lebih baik untuk aktivitas wisatawan yang dari tahun ke tahun mengalami peningkatan.

Sodikin mengakui, normalnya jadwal pelayaran di dermaga tradisional rakyat tersebut berlangsung pada pukul 07:00 WIB pagi dan siang pukul 13:00 WIB setiap hari. Namun saat aktivitas keberangkatan bagi wisatawan biasanya akan diberangkatkan lebih pagi sekitar pukul 06:00 WIB atau menyesuaikan kedatangan wisatawan yang datang dari Jakarta. Ia mengaku, sekali perjalanan menggunakan sistem borongan atau per kapal dengan biaya Rp1 juta atau tergantung negosiasi dan jumlah wisatawan yang diseberangkan untuk aktivitas pulang pergi. Sementara untuk tarif normal warga dikenakan tarif sekitar Rp15 ribu per orang sekali jalan.

Pengembangan Dermaga Canti telah dibahas pada saat Mulyadi S menjadi Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Lampung Selatan. Pengembangan dermaga tersebut bahkan berbarengan dengan pengembangan dermaga di Pulau Sebesi yang direncanakan bisa disandari kapal-kapal besar untuk wisata serta pengembangan Dermaga Pulau Sebuku. Keduanya sudah selesai dikerjakan. Namun, Mulyadi mengungkapkan, kala itu faktor kepemilikan tanah yang sebagian masih dimiliki warga Desa Canti membuat akuisisi pemerintah daerah masih belum bisa dilaksanakan bahkan untuk pengembangan dermaga.

Meski demikian, opsi penggunaan dermaga yang lebih representatif di Dermaga Boom Kalianda pun telah digulirkan dengan dermaga yang lebih baik dan bisa disandari kapal-kapal berukuran besar. Namun, sebagian wisatawan, menurut Mulyadi, kala itu lebih memilih menggunakan sarana Dermaga Canti yang masih tradisional dengan alasan faktor jarak tempuh lebih dekat dibandingkan melalui Dermaga Boom Kalianda. Kondisi infrastruktur dermaga yang masih tradisional tersebut pun tak mempengaruhi antusiasme wisatawan domestik maupun mancanegara untuk mengunjungi Kepulauan Krakatau. Sebagian sengaja mengunjungi Pulau Sebesi dan beberapa pulau di sekitarnya untuk aktivitas menyelam, berenang serta menikmati pasir putih di sekitar pulau terutama saat liburan akhir tahun 2016 dan tahun baru 2017. Sebagian wisatawan mulai kembali ke Jakarta setelah beberapa hari menghabiskan waktu di Pulau Sebesi dan menginap di beberapa villa dan homestay yang ada di pulau tersebut.

Wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Gunung Krakatau.

Salah satu pemilik homestay, Dias, mengungkapkan, tingkat hunian selama akhir tahun 2016 dan tahun baru 2017 mencapai 100 persen yang terlihat dari penuhnya jumlah kamar yang dimilikinya. Selain sebanyak 10 kamar yang dimilikinya, beberapa mess milik pemerintah daerah juga dipenuhi dengan wisatawan yang menghabiskan akhir tahun dan awal tahun. Selain memberi dampak positif ekonomi masyarakat dan omzet menguntungkan dari biaya sewa homestay, pemilik perahu, jasa pemandu wisata, khususnya bagi wisatawan mancanegara, pemilik warung makan kuliner di antaranya penjual buah kelapa muda ikut diuntungkan selama musim liburan awal tahun ini.

Jurnalis: Henk Widi / Editor: Satmoko / Foto: Henk Widi

Lihat juga...