KAMIS, 31 MARET 2016
Jurnalis: Agus Nurchaliq / Editor : ME. Bijo Dirajo / Sumber foto: Agus Nurchaliq
MALANG — Sebelum diskusi nasional peringatan 50 tahun Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) di hotel UMM INN kota Malang di mulai, para peserta diskusi disuguhi tontonan sebuah pidato Soekarno yang berisi ucapan terimakasihnya kepada Soeharto yang telah melaksanakan dengan baik.

Sejarawan Prof. Aminuddin Kasdi yang di tunjuk sebagai pembicara dalam acara tersebut mengatakan, rekaman pidato Soekarno merupakan sumber sejarah. Menurutnya, sejarah merupakan peristiwa yang hanya sekali terjadi dan tidak akan pernah terulang.
“Manusia adalah makhluk sosial sehingga bila ada peristiwa penting pastinya ada yang menyaksikan atau merekam, baik itu dalam bentuk visual maupun ingatan,”ujarnya, Rabu (30/3/2016).
Aminuddin menyampaikan, rekaman yang telah ditonton sebelum acara dimulai merupakan sumber sejarah yang tidak bisa diulang kembali sehingga data tersebut harus diambil dari sumber sejarah dan ilmu harus bersifat empirik dan kausalita.
“Empirikisme sejarah adalah melalui kesaksian, sumber atau rekaman. Sedangkan kausalita ada hukum sebab akibat,”terangnya.
Ia menambahkan, Supersemar dikeluarkan karena adanya sebab akibat, bukan tiba-tiba. Supersemar ada karena ada G 30 S PKI.
Sekarang pertanyaannya kenapa PKI di tumpas? Itupun karena ada penyebabnya yaitu pelecehan dan penghinaan terhadap umat Islam. Pada tanggal 13 Januari 1965 bertepatan dengan bulan puasa, ada penistaan oleh PKI dengan menginjak kitab-kitab dan juga Al-Qur’an sehingga meimbulkan kemarahan umat Islam.
PKI juga melecehkan umat Islam dengan melakonkan ludruk atau ketoprak yang menceritakan “Sunate malaikat Jibril” dan menghina Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dengan cara meminta Soekarno untuk membubarkannya, beruntung pada saat itu Soekarno tidak mau melakukannya.
Tidak hanya sampai di situ saja, trauma peristiwa di Madiun yang menghilangkan tujuh orang Kyai dan ratusan orang meninggal.
Peristiwa-peristiwa tersebut kemudian banyak dari kalangan masyarakat termasuk organisasi Islam menuntut pemerintah untuk membubarkan PKI. Soeharto yang yang mendengar hal tersebut kemudian melaporkannya kepada Soekarno, sehingga keluarlah Surat Perintah Sebelas Maret Tersebut.
“Intinya di sini Soeharto hanya menjalankan tugas dari Soekarno. Oleh karena itu saya sangat yakin bahwa Supersemar itu ada,” pungkasnya.

Wujudkan Tujuan Nasional Melalui Ketahanan Nasional
Sementara itu, Mayjen TNI (Purn) Issantoso yang sekarang juga berprofesi sebagai Pengajar di Lembaga Pertahanan Nasional (Lemhanas) menegaskan, untuk dapat mencapai tujuan nasional, yang utama adalah memantapkan ketahanan nasional terlebih dahulu.
Menurutnya pengertian ketahanan nasional sendiri yaitu kondisi dinamika bangsa Indonesia dari seluruh aspek kehidupan nasional yang terintegrasi yang mengandung kemampuan apabila kekuatan nasional diutamakan maka kita akan mampu menghadapi tantangan dan ancaman baik dari dalam maupun dari luar.
Namun begitu, Issantoso mengatakan, terdapat tujuh hal yang dapat mempengaruhi ketahanan nasional yakni memperlemah NKRI, menghapus ideologi Pancasila, menempatkan uang sebagai dewa, menghapus rasa cinta tanah air, menciptakan sistem multi partai, menumbuhkan sekulerisme dan membentuk tata dunia baru.
“Oleh karena itu agar ketujuh hal tersebut tidak sampai terjadi, maka tujuan nasional harus sesuai dan berpegang teguh dengan konsep ketahanan nasional yang berasaskan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945,”ucapnya.
Lebih lanjut Issantoso juga menyayangkan sekaligus prihatin dengan permasalahan bangsa yang terjadi saat ini salah satunya yaitu masih adanya golongan yang ragu terhadap Pancasila, bahkan menurutnya Pancasila justru mulai dilupakan setelah reformasi.
Selain masalah tersebut, permasalahan bangsa Indonesia yang lainnya yakni belum stabilnya masalah politik, ekonomi, sosial budaya. Menurunnya jati diri Bangsa dan belum tuntasnya masalah demokratisasi, serta masih banyak permasalahan bangsa yang lainnya.
Sementara itu selain membahas ketahanan pangan, dalam acara diskusi yang juga dihadiri oleh Soehardjo yang merupakan kerabat Presiden Soeharto, Issantoso juga menyampaikan kriteria untuk menjadi seorang pemimpin.
“Seorang pemimpin harus memiliki tujuh “ng”.
“Ngayemi, nguripi, ngomahi, ngangeni, ngajeni, ngademi dan ngayomi,”ujarnya.