Aku diminta pulang barang sehari-dua hari, agar bisa mendampingi Ebak menyiapkan segala sesuatunya. Tetapi kabar itu tak serta-merta membuatku gembira. Alih-alih gembira, justru kekhawatiran membiak di kepala.
Orang-orang yang telah berkumpul —karena kabar kamu dimasukkan ke kapal Belanda, lalu terdengar ledakan bedil yang meyakini orang-orang kamu telah tiada —menundukkan kepala saat lima pasukan itu berjalan menghadap Panglima Tudak Alam.
Bukan hanya itu, Madi juga mesti membayar tunggakan uang sewa bulan lalu yang belum ia bayarkan. Belum lagi istri dan anak-anaknya yang terus-menerus merengek tanpa mau peduli betapa Madi sedang di ambang batas keputusasaan.
Ketika tangan kanan Abu Bakar memegang ekor bangkai ular kayu itu dan mengangkatnya—seolah sedang menunjukkan sebuah penemuan mutakhir—sekelompok bocah lari terbirit-birit. Mereka adalah bocah-bocah kompleks perumahan yang kerap iseng…
“Babi keparat!” Laki-laki itu memuntahkan serapah begitu darah segar menyembur dari rongga perut bergelambirnya, membasahi daun-daun pakis yang tumbuh di tepian sungai.
Kotoran ikan tidak lagi mengganggu hidungnya. Sudah biasa dia mengerjakannya. Hanya saja kali ini, perasaannya begitu lain, begitu berbeda dari hari-hari yang lain.
Hanya satu hal yang kupegang teguh, di tengah dunia dengan orang-orangnya yang beragam macam, aku berusaha untuk bisa hidup bahagia, setidaknya aku bisa membahagiakan diriku sendiri. Aku berusaha mencintai hidup ini apa adanya dan aku lebih…