Catatan Harian Abdul Rohman Sukardi – 02/09/2026
Dalam geopolitik, kekuatan negara bukan hanya kemampuan memaksa. Tetapi juga terletak pada kemampuan membuat pihak lain tertarik, percaya, dan memilih.
Joseph Nye menyebutnya soft power. Ialah kemampuan memperoleh pengaruh melalui daya tarik, bukan paksaan atau imbalan.
Sumber utamanya adalah budaya, nilai, dan perilaku suatu negara. Daya tarik tersebut menjadi kekuatan ketika mampu memengaruhi preferensi dan perilaku pihak lain.
Jika platform eksternal seperti ASEAN dan G20 dikesampingkan, Indonesia memiliki enam aset soft power internal utama.
Pertama, budaya dan industri kreatif.
Seperti warisan Nusantara, film, musik, gim, animasi, fashion, desain, hingga cerita dan karakter. Ini merupakan aset terbesar karena dapat diubah menjadi global intellectual property. Karya atau karakter yang memiliki nilai dan dapat dipasarkan ke seluruh dunia.
Tantangannya adalah mengubah kekayaan budaya menjadi IP global dan industri bernilai tinggi.
Kedua, Islam Indonesia, pluralisme dan toleransi.
Kombinasi negara Muslim terbesar, demokrasi dan masyarakat majemuk memberikan identitas yang unik. Jika dikelola konsisten, Indonesia dapat menawarkan model hubungan Islam, demokrasi dan keberagaman yang memiliki daya tarik internasional.
Ketiga, pariwisata dan gaya hidup.
Indonesia tidak hanya memiliki Bali, tetapi keragaman alam, budaya, kuliner dan kehidupan masyarakat yang dapat membentuk pengalaman positif tentang Indonesia. Pariwisata seharusnya tidak berhenti sebagai sumber devisa. Tetapi menjadi pintu masuk untuk mengenal Indonesia lebih dalam.
Keempat, kuliner dan rempah.
Rendang, sate, sambal, kopi, tempe dan warisan rempah merupakan pintu masuk sederhana tetapi efektif. Inilah gastrodiplomacy. Diplomasi melalui makanan, yang dapat menghubungkan budaya dengan bisnis dan pariwisata.
Kelima, pendidikan, bahasa dan diaspora.
Beasiswa, pertukaran pelajar, pengajaran Bahasa Indonesia dan jaringan alumni dapat menciptakan hubungan jangka panjang dengan calon pemimpin asing. Mereka dapat menjadi jaringan Indonesia di bidang pemerintahan, bisnis, akademik dan masyarakat.
Keenam, identitas maritim dan lingkungan tropis.
Kekayaan laut, hutan, biodiversitas dan pengalaman sebagai negara kepulauan dapat membentuk narrative power (kemampuan memengaruhi cara dunia memandang Indonesia). Ini dapat menjadi modal Indonesia dalam isu lingkungan, perubahan iklim dan pembangunan berkelanjutan.
Persoalannya bukan kekurangan aset, melainkan belum optimalnya orkestrasi. Indonesia perlu membangun mesin konversi soft power.
Mesin itu seharusnya berupa proaktivtas pemerintah menyediakan regulasi, pendanaan awal dan akses pasar. Industri dan kreator mengembangkan 5–10 IP budaya unggulan untuk pasar global. Diaspora menjadi jaringan distribusi; dan diplomasi membuka pasar serta membangun komunitas.
Setiap IP perlu dikembangkan lintas film, musik, gim, fashion, kuliner dan pariwisata. Sehingga satu kekayaan budaya menghasilkan efek berantai ekonomi, sosial dan diplomatik.
Ukuran keberhasilan bukan jumlah festival yang digelar, melainkan berapa banyak orang asing yang mengonsumsi produk Indonesia, mengikuti budayanya, belajar bahasanya, berinvestasi, membangun jaringan, dan akhirnya memiliki preferensi positif terhadap Indonesia.
Indonesia tidak kekurangan soft power. Yang dibutuhkan adalah mesin untuk mengubah kekayaan budaya, identitas dan masyarakat menjadi pengaruh.
Tujuannya bukan sekadar membuat Indonesia lebih dikenal. Tujuannya agar Indonesia lebih dipercaya, dipilih, dan diperhitungkan. Di situlah soft power berubah menjadi kekuatan geopolitik yang nyata.
Jakarta, ARS (rohmanfth@gmail.com). Esais & Penulis Independen. Menulis tema/isu Sosial Politik, Hukum, Kebijakan Publik dan Peradaban.