1.039 Mahwsiswa FITK UIN Sunan Kalijaga ikuti PBAK

YOGYAKARTA — Sebanyak 1.039 mahasiswa baru Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta mengikuti Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) pada 19–21 Agustus 2026.

Tiga hari kegiatan tersebut tidak hanya diisi dengan pengenalan lingkungan kampus, sistem akademik, organisasi kemahasiswaan dan kehidupan perkuliahan. FITK juga menjadikan PBAK sebagai momentum untuk membangun kebiasaan baik mahasiswa sejak hari pertama berada di perguruan tinggi.

Sedikitnya ada lima praktik yang ditekankan dalam PBAK tahun ini, yakni sholat duha bersama, membiasakan sholat tepat waktu, membawa tumbler untuk mengurangi sampah plastik, mengelola sampah secara mandiri, serta memberikan pelayanan dan pendampingan bagi mahasiswa penyandang disabilitas.

Kelima praktik tersebut menjadi bagian dari upaya FITK membangun budaya kampus yang tidak hanya kuat secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap lingkungan, nilai keagamaan dan penghormatan terhadap keberagaman.

Kenalkan Budaya Akademik Sejak Hari Pertama

PBAK menjadi pintu awal bagi mahasiswa baru untuk mengenal kehidupan akademik di FITK. Selama tiga hari, mahasiswa diperkenalkan dengan sistem akademik, etika keilmuan, tradisi intelektual, organisasi kemahasiswaan hingga berbagai kegiatan yang dapat diikuti selama menempuh pendidikan.

Sebagai mahasiswa calon pendidik dan tenaga kependidikan, mereka tidak hanya dituntut memiliki kemampuan akademik. Integritas, kedisiplinan, tanggung jawab, kemampuan berpikir kritis dan kemampuan beradaptasi juga menjadi bagian penting yang perlu dibangun sejak awal.

Karena itu, kegiatan PBAK dirancang tidak sebatas acara penyambutan. Mahasiswa baru diajak mengenal sekaligus mempraktikkan nilai-nilai yang diharapkan menjadi bagian dari kehidupan mereka selama berada di kampus.

Salah satunya melalui kegiatan keagamaan berupa sholat duha bersama dan pembiasaan sholat tepat waktu.

Kebiasaan tersebut ditempatkan sebagai bagian dari pembentukan karakter mahasiswa. Nilai kedisiplinan dan tanggung jawab yang dibangun melalui aktivitas sehari-hari diharapkan tidak berhenti selama PBAK, tetapi berlanjut dalam kehidupan perkuliahan.

394 Kilogram Sampah Dipilah

Aspek lingkungan menjadi bagian lain yang mendapat perhatian dalam PBAK FITK.

Sebanyak 1.039 mahasiswa baru diwajibkan membawa tumbler atau wadah minum guna mengurangi penggunaan botol plastik sekali pakai selama kegiatan.

Namun upaya pengurangan sampah tidak berhenti pada penggunaan tumbler. FITK juga menerapkan pengelolaan sampah secara mandiri dengan melibatkan mahasiswa.

Badan Otonomi Mahasiswa (BOM) dan Study Center Sinbion FITK berperan dalam mengedukasi serta mendampingi peserta untuk memilah sampah sejak dari sumbernya.

Selama tiga hari kegiatan, sampah organik yang berhasil dipilah mencapai 297 kilogram. Rinciannya, sebanyak 112 kilogram pada hari pertama, 88 kilogram pada hari kedua dan 97 kilogram pada hari ketiga.

Selain itu, terkumpul 25 kilogram sampah plastik serta 72 kilogram sampah kardus dan kertas.

Dengan demikian, total sampah yang berhasil dipilah dan dikelola selama PBAK mencapai 394 kilogram.

Jumlah tersebut menunjukkan besarnya volume sampah yang dapat muncul dari kegiatan kampus yang melibatkan ribuan orang. Jika tidak dipilah sejak awal, seluruh sampah tersebut berpotensi berakhir sebagai beban tempat pembuangan.

FITK memilih pendekatan berbeda dengan menjadikan pengelolaan sampah sebagai bagian dari proses pembelajaran mahasiswa.

Sampah Organik Tidak Langsung Dibuang

Sampah organik yang telah dipilah kemudian dimanfaatkan melalui beberapa jalur.

Sebagian digunakan untuk mengisi biopori yang tersedia di lingkungan kampus. Selain membantu pengelolaan sampah organik, biopori juga dapat mendukung penyerapan air ke dalam tanah.

Sebagian lainnya disalurkan ke peternakan maggot di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Sampah organik tersebut dimanfaatkan sebagai pakan dalam proses budidaya maggot.

Pengelolaan ini membuat mahasiswa tidak hanya belajar bahwa sampah harus dipisahkan, tetapi juga memahami bahwa sebagian sampah masih memiliki nilai guna apabila dikelola dengan benar.

Bagi FITK, praktik tersebut menjadi bagian dari *sustainability action* atau aksi keberlanjutan lingkungan yang dapat diterapkan langsung dalam aktivitas kampus.

Student center mahasiswa juga dimanfaatkan sebagai ruang belajar terbuka. Mahasiswa terlibat langsung dalam proses pemilahan, pendistribusian dan pemanfaatan sampah.

Ekoteologi Diterapkan dalam Kehidupan Kampus

Pengelolaan lingkungan tersebut juga dikaitkan dengan konsep *ecotheology* atau ekoteologi.

Pendekatan ini menghubungkan nilai-nilai keagamaan dengan tanggung jawab manusia terhadap lingkungan. Menjaga alam tidak dipandang sekadar sebagai persoalan kebersihan, tetapi juga sebagai bagian dari tanggung jawab moral dan spiritual.

Konsep tersebut diterapkan melalui tindakan sederhana yang dapat dilakukan mahasiswa sehari-hari, mulai dari membawa tumbler, mengurangi sampah plastik, memilah sampah, mengelola sampah organik hingga memanfaatkan biopori.

FITK ingin kepedulian terhadap lingkungan menjadi bagian dari karakter mahasiswa, bukan sekadar kegiatan tambahan selama PBAK.

Dekan FITK UIN Sunan Kalijaga, Prof. Dr. Sigit Purnama, M.Pd., mengatakan pembentukan mahasiswa tidak cukup hanya dilakukan melalui proses akademik.

“Kami ingin mahasiswa tidak hanya paham secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian nyata terhadap lingkungan sejak awal masuk kampus. Pengelolaan sampah mandiri melalui student center dan lembaga kemahasiswaan yang ada di FITK ini adalah bagian dari upaya kami menghadirkan echoteologi dalam praktik keseharian, sekaligus membentuk mahasiswa FITK yang unggul, beretika, kritis, dan berdampak,” ujar Prof. Sigit.

PBAK Ramah Mahasiswa Disabilitas

Selain lingkungan, FITK juga memberikan perhatian terhadap akses bagi mahasiswa penyandang disabilitas.

Pelayanan dan pendampingan disabilitas disiapkan selama rangkaian PBAK agar mahasiswa baru dengan kebutuhan khusus dapat mengikuti kegiatan secara aman, nyaman dan setara.

Dukungan tersebut antara lain berupa juru bahasa isyarat (JBI) pada kegiatan utama, materi digital yang dapat diakses menggunakan *screen reader*, serta penyediaan ramp portabel bagi pengguna kursi roda.

FITK juga menyiapkan ruang tenang atau (quiet room) bagi mahasiswa yang membutuhkan tempat untuk beristirahat dari suasana kegiatan yang ramai.

Pendampingan diperkuat dengan kehadiran mahasiswa pendamping atau *student buddy*. Mereka membantu kebutuhan dan mobilitas mahasiswa disabilitas selama kegiatan berlangsung.

Para relawan pendamping juga disiapkan melalui Pusat Layanan Disabilitas (PLD) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama FITK, Dr. Winarti, M.Pd.Si., mengatakan pelayanan tersebut menjadi bagian dari komitmen fakultas untuk membangun lingkungan kampus yang dapat diakses seluruh mahasiswa.

Dengan pendekatan tersebut, PBAK FITK tidak hanya memperkenalkan mahasiswa baru pada ruang kelas, dosen, organisasi dan sistem akademik. Mereka juga diperkenalkan pada bagaimana menjadi bagian dari komunitas kampus yang disiplin, peduli lingkungan dan menghargai keberagaman.

Rangkaian PBAK yang berakhir pada 21 Agustus 2026 itu diharapkan menjadi awal dari kebiasaan yang terus dibawa mahasiswa selama menjalani perkuliahan.

Bagi FITK, budaya akademik tidak berhenti pada pencapaian nilai. Mahasiswa juga diharapkan tumbuh sebagai calon pendidik yang memiliki kepedulian sosial, kesadaran lingkungan, karakter keagamaan serta mampu menciptakan ruang belajar yang inklusif.