Catatan Harian Abdul Rohman Sukardi – 22/08/2026
Indonesia sedang mencoba mengubah modal demografis dan sosial-keagamaan menjadi daya pengaruh strategis di Dunia Islam. Dokumen Mengintegrasikan Indonesia dan Dunia Islam: Arah, Kerangka, dan Peta Jalan, ialah hasil kerja sama Badan Strategi Kebijakan Luar Negeri (BSKLN) Kemlu RI dan Program Studi Hubungan Internasional UII. Dokumen itu menawarkan arah kebijakan hingga 2045.
Dokumen ini disusun pada Maret–Desember 2025 dan diluncurkan pada 13 Januari 2026 di Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Yogyakarta. Gagasan pokoknya bukan membentuk blok Islam baru. Melainkan membangun interkoneksi, proyeksi pengaruh, dan pengakuan terhadap posisi Indonesia sebagai salah satu poros Dunia Islam.
Dokumen itu berangkat dari modal yang kuat: Indonesia adalah negara Muslim terbesar, demokrasi Muslim terbesar, serta memiliki ekosistem ekonomi Islam yang pada 2024 berada di peringkat ketiga dunia. Namun, Kemlu menilai Indonesia belum menjadi poros utama karena belum memiliki arah strategis yang jelas dan terkoordinasi.
Kerangkanya memiliki empat ranah strategis: politik; ekonomi; sosial-budaya; serta pendidikan, riset dan teknologi. Pendekatan ini dipersempit melalui regional focal points: Asia Selatan, Asia Tengah, Afrika Sub-Sahara, serta Asia Timur dan Asia Tenggara.
Artinya, Dunia Islam tidak diperlakukan sebagai satu ruang homogen. Melainkan melalui prioritas kawasan dan kemitraan negara yang disesuaikan dengan kepentingan Indonesia.
Pilihan kawasan ini juga dapat dibaca sebagai upaya menempatkan Indonesia pada simpul emerging economic corridors yang membentang dari Afrika Sub-Sahara, Asia Selatan, Asia Tengah, hingga Asia Tenggara. Bentangan ini mempertemukan demografi besar, pertumbuhan ekonomi, sumber daya, pasar, perdagangan dan konektivitas baru Global South.
Dalam konfigurasi tersebut, Indonesia bukan sekadar negara tujuan di ujung koridor. Tetapi dapat menjadi simpul Indo-Pasifik yang menghubungkan arus ekonomi Afrika dan Asia dengan pasar serta jaringan Dunia Islam.
Integrasi Indonesia-Dunia Islam berpotensi menjadi instrumen untuk memperluas perdagangan, investasi, industri halal, pendidikan, teknologi dan rantai pasok. Sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam pergeseran gravitasi ekonomi dunia.
Di tingkat operasional, agenda ekonominya mencakup perluasan pasar halal, penguatan ekonomi syariah, dan konektivitas berbasis Jalur Rempah. Di bidang sosial, Indonesia didorong memperkuat faith-based diplomacy. Ialah jejaring ulama, diplomasi kemanusiaan dan centre of excellence.
Pendidikan menjadi instrumen soft power. Targetnya 25.000 mahasiswa asing di Indonesia pada 2045.
Mesin implementasinya adalah orkestrasi. Kemlu perlu menjadi koordinator, sementara kementerian/lembaga, NU-Muhammadiyah, universitas, dunia usaha, lembaga kemanusiaan dan aktor masyarakat sipil bergerak dalam agenda yang sama.
Instrumennya meliputi OKI dan D-8. Diplomasi ekonomi. Beasiswa. Pertukaran ulama-akademisi, serta diplomasi kemanusiaan.
Road map dibagi empat fase. Tahun 2025–2029 perencanaan, koordinasi dan feasibility study. Tahun 2029–2034 persiapan dan field assessment. Tahun 2034–2039 implementasi. Tahun 2039–2045 evaluasi serta persiapan tahap berikutnya.
Tantangannya kini adalah memastikan dokumen tidak berhenti sebagai policy paper. Ukuran keberhasilannya harus bergeser dari banyaknya forum yang dihadiri menuju agenda yang berhasil dibentuk, jejaring yang terbangun, kerja sama yang terlaksana, dan pengaruh Indonesia yang benar-benar meningkat.
Dengan demikian, integrasi Indonesia-Dunia Islam bukan sekadar proyek diplomasi. Melainkan investasi jangka panjang untuk menjadikan Indonesia agenda setter dan salah satu poros Dunia Islam menuju 2045.
Jakarta, ARS (rohmanfth@gmail.com). Penulis Independen, esais, aktivis reformasi 1998. Menulis tema/isu Sosial, Politik, Hukum, Kebijakan Publik dan Peradaban.