Indonesia, Civilizational Bridge

Catatan Harian Abdul Rohman Sukardi – 28/08/2026

 

Memasuki paruh kedua abad ke-21, dunia tidak lagi ditentukan satu negara. Distribusi kekuatan ekonomi, teknologi, demografi, dan militer semakin tersebar di antara beberapa pusat kekuatan.

Hubungan antarnegara semakin ditandai persaingan ketat. Sekaligus saling ketergantungan.

Dunia bergerak menuju tatanan yang semakin multipolar dan multiperadaban. Pusat kekuatan akan tersebar pada beberapa peradaban besar: Amerika Serikat, China, India, dunia Islam, serta kekuatan baru di Afrika dan Asia Tenggara.

Amerika Serikat berpotensi tetap menjadi pusat inovasi teknologi, modal, universitas, budaya populer, dan kekuatan militer. China memiliki kapasitas menjadi pusat industri-teknologi sekaligus civilization-state. India berpotensi menjadi kekuatan demografis dan ekonomi raksasa.

Proyeksi PwC (PricewaterhouseCoopers) menempatkan China, India, dan Amerika Serikat sebagai tiga ekonomi terbesar berdasarkan PPP pada 2050. PPP adalah Purchasing Power Parity atau Paritas Daya Beli. Indonesia di posisi keempat.

Posisi ekonomi tersebut memberi Indonesia basis material untuk membangun teknologi, industri, pendidikan, maritim, dan diplomasi. Namun pusat-pusat kekuatan tersebut tidak berdiri sendiri.

AS menghadapi kompetisi strategis dengan China dan Rusia. China menghadapi AS, sekaligus India, Jepang, Taiwan, Australia, dan dinamika Asia Tenggara.

India menghadapi Pakistan sebagai rival keamanan langsung dan China sebagai kompetitor strategis. Pada saat bersamaan bermitra dengan AS, Jepang, Australia, dan Rusia.

Dunia Islam pun bukan blok homogen. Ada Indonesia, Pakistan, Iran, Turki, Arab Saudi, Mesir, dan lainnya memiliki kepentingan berbeda.

Di antara berbagai arus tersebut, Indonesia memiliki posisi unik. Letaknya berada di antara India dan China. Menghadap Samudra Hindia dan Pasifik. Salah satu pusat demografi Muslim terbesar dunia. Memiliki tradisi Nusantara yang plural.

Karena itu, masa depan Indonesia sebaiknya tidak dibayangkan hanya sebagai middle power. Ia harus diposisikan sebagai civilizational bridge. Jembatan antarpusat peradaban.

Indonesia dapat menghubungkan teknologi dan modal Amerika dengan pasar Asia. Industri China dengan sumber daya dan pasar ASEAN. India dengan Asia Tenggara dan Samudra Hindia. Dunia Islam dengan modernitas, demokrasi, dan ekonomi global.

Indonesia juga berpotensi menjadi perekat dunia Islam melalui diplomasi, dialog antaragama, kerja sama kemanusiaan. Selain itu juga peran advokasi kebebasan beragama dan hak minoritas Muslim. Termasuk melalui diplomasi konstruktif dengan China dan India.

Dalam rivalitas tersebut, Indonesia tidak harus memilih satu pusat kekuatan secara eksklusif. Ia dapat bekerja sama dengan Amerika tanpa menjadi bagian dari bloknya. Memperluas hubungan ekonomi dengan China tanpa menjadi satelit Beijing.

Indonesia bisa memperkuat hubungan dengan India tanpa terseret rivalitas India-Pakistan atau India-China. Sekaligus menjaga hubungan dengan dunia Islam tanpa mengikuti seluruh posisi politiknya.

Menjadi jembatan bukan berarti menjadi satelit. Indonesia harus menjadi bridge sekaligus hub. Jembatan yang memiliki gravitasi sendiri.

Gravitasi itu dibangun melalui pendidikan unggul, teknologi, industri, kekuatan maritim, institusi efektif, budaya percaya diri, dan diplomasi strategis. Melalui ASEAN, posisi tersebut dapat diperluas menjadi kekuatan kolektif Asia Tenggara.

Strategic autonomy bukan berarti netral terhadap segala sesuatu. Melainkan bebas menentukan kapan bekerja sama, menolak tekanan, dan mengambil posisi berdasarkan kepentingan nasional serta prinsip sendiri.

Jika berhasil, Indonesia tidak sekadar menjadi negara besar. Tetapi tempat berbagai peradaban bertemu, bernegosiasi, dan melahirkan sintesis baru.

Pada akhirnya, kekuatan terbesar Indonesia bukan pada kemampuannya mendominasi dunia. Melainkan kemampuan menghubungkan dunia tanpa kehilangan dirinya sendiri.

 

Jakarta, ARS (rohmanfth@gmail.com). Penulis Independen, esais, aktivis reformasi 1998. Menulis tema/isu Sosial, Politik, Hukum, Kebijakan Publik dan Peradaban.

Lihat juga...