Catatan Harian Abdul Rohman Sukardi – 28/08/2026
Di tengah riuhnya MBG, Koperasi Desa Merah Putih, Sekolah Rakyat dan jembatan darurat, ada agenda yang jauh lebih besar dan menentukan wajah Indonesia. Agenda itu ialah “percepatan pembangunan infrastruktur dan industrialisasi”.
Jika dipetakan, agenda Prabowo terdiri dari tiga lapis.
Pertama, melanjutkan proyek besar yang sudah berjalan. Seperti IKN, jaringan tol, bendungan, irigasi dan kawasan industri. Pada 2026 masih ada 15 bendungan ongoing.
Lima di antaranya—Rukoh dan Keureuto di Aceh, Jlantah di Jawa Tengah, Sidan di Bali dan Meninting di NTB—baru diresmikan. Total investasi sekitar Rp9,79 triliun dan potensi layanan irigasi 39.540 hektare.
Bendungan Jragung di Jawa Tengah juga telah mencapai sekitar 90,5 persen. Ditargetkan tuntas akhir 2026.
Di jalan tol, percepatan terlihat dari ruas Sigli–Banda Aceh, Palembang–Betung, Kuala Tanjung–Tebing Tinggi–Parapat, Probolinggo–Banyuwangi, Solo–Yogyakarta–NYIA, dan Cileunyi–Sumedang–Dawuan yang masuk konstruksi atau difungsionalkan. Total 10 ruas yang disiapkan untuk Lebaran 2026 mencapai sekitar 291 kilometer.
Di laut, Tol Laut yang dirintis sejak era Jokowi tetap berjalan, dengan 41 trayek pada 2026. Proyek ini untuk memperkuat konektivitas dan distribusi antarpulau.
Kedua, proyek baru dan agenda khas Prabowo. Danantara mendorong hilirisasi bukan hanya nikel, tetapi bauksit menjadi alumina dan aluminium, tembaga, bioavtur, bioethanol, garam industri dan peternakan ayam terintegrasi.
Sejumlah proyek tersebut sudah masuk konstruksi. Potensi investasi hilirisasi lintas sektor yang didorong Danantara sekitar US$26 miliar. Sekitar Rp462 triliun.
Di luar itu, pengembangan hilirisasi juga mencakup rumput laut, sawit, produk kelapa, dan energi terbarukan. Bahkan pengolahan sampah menjadi energi.
Jadi yang dibangun bukan sekadar aset fisik. Melainkan kapasitas produksi nasional. Mulai dari konektivitas, energi dan pangan hingga industri yang menghasilkan nilai tambah.
Ketiga, proyek lama dengan orientasi baru. Bendungan dan irigasi kini diposisikan sebagai mesin swasembada pangan. Kawasan industri diarahkan menjadi pusat hilirisasi.
Infrastruktur pesisir diarahkan menjadi perlindungan ekonomi jangka panjang. Giant Sea Wall Pantura merupakan contoh paling ambisius. Sebagian tanggul Jakarta, Semarang–Demak dan Eretan sudah dikerjakan. Sementara itu sistem Pantura skala penuh masih dalam tahap persiapan.
Ini bukan kumpulan proyek yang berdiri sendiri. Tol membuka logistik. Bendungan menopang pangan. Kawasan industri menyerap investasi.
Energi menyediakan daya. Hilirisasi mengubah sumber daya menjadi produk bernilai tambah.
Di sinilah pembangunan infrastruktur bertemu dengan strategi industrialisasi.
Karena itu, menilai pemerintahan Prabowo hanya dari MBG, Kopdes, Sekolah Rakyat atau jembatan darurat berarti melihat sebagian kecil dari gambar besarnya. Di belakang program kerakyatan yang ramai diberitakan, sedang bergerak agenda pembangunan negara yang jauh lebih luas. Ialah konektivitas, pangan, energi, industri, hilirisasi dan transformasi ekonomi.
Jika konsisten, pembangunan ini dalam lima tahun dapat membawa Indonesia naik kelas. Menjadi kekuatan ekonomi yang semakin mendekati Korea Selatan.
Dalam sepuluh tahun, dengan pertumbuhan yang terjaga, produktivitas meningkat, hilirisasi berhasil dan investasi terus mengalir, Indonesia berpotensi masuk kelompok ekonomi besar seperti Inggris dan Prancis dalam ukuran GDP nominal.
Artinya, Indonesia tidak lagi sekadar menjadi kekuatan ekonomi terbesar di ASEAN. Tetapi mulai tampil sebagai salah satu kekuatan ekonomi utama dunia.
Gairah pembangunan multi sektor ini harus di jaga. Tidak boleh terputus. Jika ingin Indonesia menjadi negara maju. Adin dan Makmur berdasar Pancasila.
Jakarta, ARS (rohmanfth@gmail.com). Penulis Independen, esais, aktivis reformasi 1998. Menulis tema/isu Sosial, Politik, Hukum, Kebijakan Publik dan Peradaban.