Nilai Kearifan Lokal Berperan Rumuskan Pembangunan Berkelanjutan

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Peran penting arkeologi dalam pembangunan berkelanjutan adalah untuk menggali nilai-nilai kearifan lokal yang tertinggal dalam benda-benda peninggalan peradaban masa lampau. Kearifan lokal ini dipercaya merupakan bagian dari kebijakan para leluhur dalam melakukan pembangunan yang selaras dengan alam atau yang dikenal dengan ekologi budaya.

Kapus Penelitian Arkeologi Nasional (Arkenas), Dr. I. Made Geria, MSi, menyatakan, berdasarkan data The World Conservation Union 1997, dari 6.000 kebudayaan dunia, 4.000 berasal dari masyarakat adat.

“Ekologi budaya itu adalah suatu cara manusia untuk hidup menyesuaikan dengan geografinya. Memahami persoalan lingkungan dalam perspektif budaya atau sebaliknya. Sehingga, ekologi budaya ini menjadi salah satu bagian penting dalam memahami kearifan lokal dan peninggalan peradaban masa lampau,” kata Made Geria dalam acara diskusi online Ekologi Budaya yang dihadiri Cendana News, Minggu (31/1/2021).

Ia menjelaskan bahwa dengan memahami ekologi budaya suatu peradaban, maka akan menjadi upaya Arkenas untuk terlibat aktif dalam rumusan kebijakan publik berbasis riset.

“Hasil penelitian itu akan kita sampaikan pada Dirjen Kebudayaan dan Bappenas maupun pemda untuk memberikan masukan terkait pengembangan tata kota maupun pembangunan berkelanjutan, dimana pembangunan akan dilaksanakan secara seimbang dengan alam,” urainya.

Salah satu contohnya adalah riset arkeologi yang dilakukan olehnya di Das Pakerisan Bali.

“Terlihat adanya situs pemujaan, baik pertapaan atau persucian di sepanjang sumber air tersebut. Yang salah satunya Candi Tenggal Linggah. Mengapa ini dilakukan oleh raja zaman itu? Adalah untuk menjaga kelestarian sumber air. Dimulai dari puncak gunung hingga aliran sungai di kaki gunung. Jika tidak diambil oleh raja, maka gunung maupun sumber air dalam bentuk sungai akan rusak terdampak kegiatan manusia. Dengan dibangunnya pertapaan dan persucian maka area tersebut akan terjaga, karena masyarakat tidak akan secara sembarangan memasuki area tersebut,” paparnya.

Berkolaborasi dengan berbagai disiplin ilmu, maka konsep selaras dengan alam dari peradaban masa lampu diharapkan bisa diwujudkan dalam skema pembangunan berkelanjutan sesuai dengan SDGs.

“Misalnya, apa yang kita lakukan bersama Menparekraf, dengan mendorong para entrepreneur untuk menggali kearifan lokal dalam mengembangkan pariwisata berkelanjutan,” ujarnya.

Jangan sampai pembangunan pariwisata tidak bersesuaian dengan kondisi lingkungan. Dan akhirnya, malah kehadiran pariwisata yang harusnya bisa mensejahterakan masyarakat sekitar, malah terbebani dengan lingkungan yang rusak.

“Kearifan lokal sudah mengajarkan bagaimana perilaku yang menjaga alam, etika bumi maupun solidaritas kosmik. Misalnya, bangunan rumah tradisional yang mengikuti keselarasan alam. Yang jika dikaji secara ilmiah, akan menunjukkan bahwa bangunan tersebut sesuai dengan alam tempat bangunan tersebut berada,” ucap Made Geria.

Dengan memanfaatkan ekologi budaya, Made Geria menegaskan, upaya pemerintah untuk mencapai pembangunan berkelanjutan berbasis riset akan dapat tercapai.

“Dengan ekologi budaya, maka akan dapat mengoptimalkan sumber daya alam yang ada secara berkelanjutan. Bisa mengantisipasi bencana karena kearifan lokal muncul dari berbagai peristiwa yang terulang, dan masyarakat atau dalam hal ini pembangunan, juga akan harmonis dengan alam,” pungkasnya.

Lihat juga...