Pedagang Kuliner di Lampung Manfaatkan Aplikasi ‘Online’
Editor: Koko Triarko
LAMPUNG – Mang Udin, pedagang es buah kelapa segar dengan jeruk peras, menyebut penjualan kuliner miliknya meningkat kala pandemi Covid-19. Pedagang di seputaran pasar Mangga Dua, Teluk Betung, Bandar Lampung, itu menyebut permintaan dominan memakai aplikasi. Memanfaatkan sejumlah aplikasi pembayaran, pelanggan bisa memesan dan akan diantar ke tujuan.
Dalam sehari, Mang Udin bisa menjual sekitar 300 butir kelapa muda yang dibuat menjadi es. Sebelum pandemi Covid-19, transaksi konsumen yang menyantap menu es kelapa muda bisa mencapai ratusan orang. Kini, jumlahnya menurun dan beralih ke pemesanan dalam jaringan (online). Melakukan promosi memakai aplikasi pemesanan, konsumen lebih dimudahkan.
Ia menjelaskan, pemesan akan menelepon ke nomor yang telah disiapkan. Kode pemesanan secara otomatis akan dikirimkan pemesan, sehingga ia bisa memperoleh notifikasi.
Usai notifikasi diterima, proses pembuatan pesanan akan dilakukan olehnya dibantu sang anak. Jasa pengantaran menyesuaikan aplikasi yang digunakan oleh pemesan.

“Aplikasi pengantaran makanan saat ini banyak pilihan, menyatu dengan aplikasi pembayaran, sehingga memudahkan pedagang kuliner sekaligus bagi konsumen, jika sedang malas keluar sementara ingin es kelapa muda bisa langsung pesan dan secepatnya diantar,” terang Mang Udin, saat ditemui Cendana News, Sabtu (8/8/2020).
Meski berjualan memakai gerobak, pesanan memakai metode daring menurutnya mulai meningkat. Peningkatan justru terjadi kala pandemi Covid-19. Konsumen yang biasa membeli di gerobaknya memilih untuk memesan memakai aplikasi. Bagi sebagian konsumen yang tetap datang, sistem pembayaran juga beralih ke pembayaran memakai aplikasi.
Pengurangan penggunaan uang tunai makin menjadi tren saat pandemi Covid-19. Sebab, memegang uang kerap dikuatirkan menjadi transmisi penularan virus Corona. Solusinya, ia memakai kode respons cepat atau Quick Response Code Indonesian Standart (QRIS). Pembeli tidak perlu mengeluarkan uang tunai, hanya memindai kode respons cepat sesuai aplikasi pembayaran yang dimiliki.
“Saya tidak memerlukan uang kembalian bagi yang membeli langsung di sini, dan pemesan secara online tidak perlu datang,” tegas Mang Udin.
Menjual es kelapa muda dengan harga Rp13.000 per porsi, ia mendapat omzet hingga Rp5 juta per hari. Sistem pembayaran tanpa uang tunai diakuinya dibantu oleh sang anak. Dengan memakai QRIS, hasil penjualan otomatis langsung masuk ke dalam rekening. Ia juga tidak kuatir akan salah menghitung hasil penjualan, karena transaksi secara otomatis tercatat.
Joko, pedagang petis atau rujak buah, juga mulai menerapkan pemesanan daring. Pemesanan dan pembayaran dengan aplikasi, disebutnya sudah jamak dilakukan pedagang kuliner di Bandar Lampung. Langkah tersebut makin banyak diminati konsumen saat pandemi Covid-19. Pembayaran tunai (cash) lebih diminimalisir, bergeser ke pembayaran nontunai (cashless).
“Semula saya juga ragu, usaha kuliner petis atau rujak bayarnya pakai aplikasi, tapi tuntutan zaman mau tak mau harus diikuti,” terangnya.
Joko telah mendaftarkan bisnisnya pada Google Bisnis untuk memudahkan pencarian bagi konsumen. Ia juga membuka akun QRIS, memudahkan pelanggan melakukan pembayaran dengan aplikasi yang dimiliki konsumen. Petis buah mangga, jambu air, bengkuang, nanas, nangka dan buah lain dijual seharga Rp15.000 per porsi. Dijual dalam aplikasi, harga jual menjadi Rp18.000 per porsi.
Penjualan petis atau rujak memakai aplikasi, ikut memutar roda ekonomi kala pandemi Covid-19. Sebab, penyedia jasa aplikasi pengantaran makanan oleh ojek online bisa mendapat penghasilan. Husin, salah satu penyedia jasa pengantaran dari salah satu aplikasi, mengaku banyak menerima pesanan makanan dan barang. Imbas social distancing, jasa pengantaran penumpang mulai menurun.