Dari 147 Desa di Sikka, 8 Desa Tergolong Maju

Editor: Koko Triarko

MAUMERE – Sesuai hasil pengukuran Indeks Desa Membangun (IDM) 2020 dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) pengukuran status perkembangan desa 2020, ditetapkan  status 147 desa di Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Dari 147 Desa yang tersebar di 21 kecamatan, hanya 8 desa berkategori desa maju, yakni Desa Paga dan Mbengu di Kecamatan Paga, Lela di Kecamatan Lela, Nita di Kecamatan Nita, Pemana, Kecamatan Alok, Talibura Kecamatan Talibura, Geliting, Kecamatan Kewapante, dan Watumilok, Kecamatan Kangae.

“Hanya ada 8 desa maju saja di Kabupaten Sikka dan tersebar di 8 Kecamatan.Tidak ada desa yang masuk kategori desa mandiri,” kata Tenaga Ahli Perencanaan Pembangunan, Program Perencanaan Pembangunan Masyarakat dan Desa (P3MD) Kabupaten Sikka, Yulius Herta Arjunto, Sabtu (8/8/2020).

Tenaga Ahli Perencanaan Pembangunan, Program Perencanaan Pembangunan Masyarakat dan Desa (P3MD) Kabupaten Sikka, NTT, Yulius Herta Arjunto, ditemui Sabtu (8/8/2020). -Foto: Ebed de Rosary

Herta, sapaannya, menyebut ada 73 desa yang masuk kategori tertinggal, 21 desa tergolong sangat tertinggal dan 45 desa yang meraih predikat desa berkembang.

Desa sangat tertinggal tersebut, kata dia tersebar di Kecamatan Palue 7 desa, Tanwawo 5, Mego dan Hewokloang masing-masing 3 desa serta Doreng, Alok Timur dan Talibura masing-masing 1 desa.

“Desa tergolong sangat tertinggal akibat belum adanya akses infrastruktur yang memadai seperti jalan, listrik dan sinyal telepon selular. Selain itu, ada anak-anak yang tidak sekolah serta warga yang masih melahirkan di rumah, karena ketiadaan fasilitas kesehatan,” terangnya.

Untuk itu, tegas Herta, menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah dan desa-desa agar mengejar ketertinggalan sesuai indikator yang telah ditetapkan, agar bisa menjadi desa maju dan mandiri.

Dia menyarankan, agar desa-desa dalam membuat perencanaan di desa harus berdasarkan indikator, yakni Indeks Desa Membangun, Tipologi dan Potensi Desa, agar bisa mengejar ketertinggalan.

“Jangan membuat perencanaan pembangunnan di desa berdasarkan keinginan, bukan kebutuhan. Perencanaan harus memperhatikan tiga indikator tersebut,” tegasanya.

Sementara itu, Carolus Winfridus Keupung, Direktur Wahana Tani Mandiri, menyebut banyak desa yang membuat perencanaan pembangunan tidak sesuai kebutuhan dan potensi di desa mereka.

Wim, sapaannya, mencontohkan desa harus membuat peta potensi pertanian yang ada di desanya dengan komoditi unggulannya, sehingga perlu ada intervensi untuk pengembangan komoditi tersebut.

“Banyak desa yang potensi komoditi pertaniannya bagus, namun tidak ada intervensi dari dana desa untuk membantu para petani mengembangkan potensi di desa tersebut,” ungkapnya.

Lihat juga...