Petani di Lamsel Maksimalkan Penggunaan Bambu

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Petani di Lampung Selatan memanfaatkan tanaman bambu untuk pola tanam berkelanjutan. Bambu difungsikan sebagai penopangan tanaman agar lebih kuat menyangga buah, di samping menjaga tanaman dari hewan ternak.

Sarwo Edi, petani cabai keriting di Kelurahan Way Lubuk, Kalianda, menyebut bambu ukuran besar dipergunakan sebagai pagar melindungi tanaman dari ternak warga yang berpotensi merusak.

Penggunaan bambu berasal dari jenis bambu hitam dan bambu tali. Bambu hitam yang dipergunakan sebagai ajir atau tonggak, berguna untuk merambat tanaman dan penguat batang tanaman. Jenis tanaman yang memanfaatkan ajir bambu selain cabai keriting, berupa tomat dan melon. Memanfaatkan lahan sekitar 1,5 hektare, Sarwo Edi mengembangkan kluster budi daya cabai di kampungnya.

Sarwo Edi, petani cabai keriting di Kalianda, Lampung Selatan, Senin (15/6/2020). -Foto: Henk Widi

Pada lahan seluas 1,5 hektare, Sarwo Edi menanam sekitar 56.000 batang tanaman. Penggunaan ajir bambu diletakkan di setiap batang, sehingga kekuatan batang saat berbuah akan makin kuat.  Penopang bambu dari jenis batang bambu tua akan memiliki tingkat keawetan tinggi, sehingga bisa dimanfaatkan berulang.

“Saat ini mulai muncul jenis ajir kombinasi besi dan plastik dengan harga lebih mahal, namun pemanfaatan ajir bambu tetap menjadi pilihan bagi petani dengan biaya operasional lebih murah, namun sangat mendukung proses budi daya komoditas pertanian,” terang Sarwo Edi, Senin (15/6/2020).

Sebagai petani yang telah melakoni usaha agro bisnis sejak 2008, Sarwo Edi mulai menerapkan pertanian berkelanjutan. Bekerja sama dengan Dinas Pertanian,Tanaman Pangan dan Hortikultura, ia telah menerapkan pola Good Agriculture Practice (GAP). Penerapan pola tanam berkelanjutan membuat ia melakukan penanaman berbagai jenis komoditas pertanian yang memiliki nilai ekonomis tinggi.

Ajir bambu sebagai bahan untuk penopang tanaman cabai keriting, menurutnya dibeli dari pemilik pohon bambu. Satu ajir dibeli dengan harga Rp500, dan diperlukan ajir hingga puluhan ribu menyesuaikan kebutuhan tanaman.

Penggunaan bambu, menurutnya akan mempermudah perawatan cabai keriting. Selain itu, bambu yang sudah tidak terpakai bisa terurai.

“Meski bisa digunakan secara berulang, namun kekuatan bambu akan berkurang sehingga bisa digunakan yang baru,” terang Sarwo Edi.

Penggunaan bambu yang lebih murah untuk modal produksi, menurutnya ikut membantu pemilik kebun bambu. Pemilik kebun bambu akan mengirimkannya ajir bambu sesuai kebutuhan.

Selain memesan bambu untuk kebutuhan ajir, bambu dipergunakan untuk penopang naungan. Topangan naungan dilakukan pada tempat pembibitan yang dibuat menyerupai green house.

Novita Indarwati, petani cabai keriting di Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, juga mengaku memanfaatkan ajir bambu. Penggunaan ajir bambu kerap dilakukan pada penanaman cabai, tomat dan melon yang dibudidayakan.

Penggunaan bambu sebagai ajir sangat diperlukan saat masa tanam musim penghujan. Menanam sekitar 12.000 batang, membuatnya butuh banyak ajir bambu.

“Tanpa adanya ajir penopang batang ,tanaman cabai keriting berpotensi roboh dan buah bisa membusuk,” cetus Novita Indarwati.

Novita Indarwati menyebut, ajir bambu bisa dimanfaatkan dalam beberapa kali proses penanaman. Satu kali masa penanaman cabai, ia bisa dipanen saat usia 75 hari. Meski harga cabai hanya mencapai Rp5.000 per kilogram di level petani, ia masih beruntung.

Pola penanaman tumpangsari cabai keriting dengan tomat menjadi cara memaksimalkan ajir bambu, dan mendapatkan hasil berlipat.

Lihat juga...