Petani di Sikka Belum Konsisten Kembangkan Sorgum

Editor: Koko Triarko

MAUMERE – Produk sorgum yang diikutsertakan dalam kegiatan pameran Bursa Inovasi Desa oleh Bengke Karya Misi dan Kampus Cristo Re Maumere Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur pada 2019 lalu, menarik minat beberapa desa lain untuk mengembangkan sorgum.

Namun dalam realisasinya hanya dua desa saja yang bersedia menanam sorgum, yakni kelompok tani Rehin Dunan, Desa Paubekor dan sebuah kelompok tani lainnya di Desa Koting C, Kecamatan Koting.

“Waktu bursa inovasi desa, yang tertarik banyak, tetapi yang merealisasikan cuma dua desa, yakni Koting C dan Paubekor di Kecamatan Koting saja untuk budi daya sorgum,” sebut Yohanes Adrianus Beto, Kepala Bagian Pengolahan Pangan Bengkel Karya Misi, Maumere, Senin (15/6/2020).

John sapaannya, yang juga karyawan PT. Langit Laut Biru milik Keuskupan ini mengatakan, ada dua desa lainnya juga tertarik dengan Hiddroponik, yakni desa Egon di Kecamatan Waigete dan Paubekor, kecamatan Koting.

Kepala Bagian Pengolahan Pangan Bengkel Karya Misi, PT. Langit Laut Biru, Maumere Kabupaten Sikka, NTT, Yohanes Adrianus Beto, saat ditemui di kantornya, Senin (15/6/2020). -Foto: Ebed de Rosary

Dirinya menyesalkan pengembangan hidroponik harus berhenti di tengah jalan seperti di Desa Paubekor yang mati suri setelah panen perdana, sementara di Desa Egon hanya tinggal ketua kelompoknya saja yang aktif.

“Dua desa yeng berkomitmen mengembangkan budi daya sorgum kita lakukan sosialisasi kepada kelompok taninya, mengenai proses budi daya sorgum dan keunggulannya,” terangnya.

Setelah persiapan lahan oleh petani, tambah John, pihaknya mendampingi mulai cara menanam dan perawatan, lalu petani sendiri yang melakukan. Bila ada kendala, pihaknya diundang memberikan jalan keluar.

Bengkel karya misi, kata dia, menginisiasi pangan lokal yang memiliki keunggulan dan gizi yang luar biasa, saat ini juga sedang melakukan penyosohan, mengolah biji sorgum menjadi seperti beras.

“Nanti juga sorgum akan diolah menjadi tepung untuk dibuat aneka produk kue. Meskipun saya sendiri masih banyak belajar, tetapi saat berada dengan mereka saya merasa bersemangat,” terangnya.

Kesulitan mendampingi petani, tutur John, karena adanya pandemi Corona, sehingga pihaknya tidak bisa berkunjung ke desa dan petani juga jarang turun ke kebun sehingga benar-benar pertumbuhan sorgum hanya mengandalkan alam.

Penyemprotan promi juga tidak bisa dilakukan, sehingga hasil panen sorgum sedikit. Para petani juga takut untuk berkumpul, bahkan keluar rumah saja mereka tidak mau.

“Kalau untuk bekerja, mereka bersemangat dan komunikasi dengan anggota kelompok juga lancar.Tantangannya pada disiplin para petani yang masih kurang, tetapi ketika diberi pemahaman mereka bersemangat,” ucapnya.

Tetapi, menurut John, belum sampai ke taraf jangka panjang apakah  petani tetap konsisten meskipun ada kendala. Dirinya mengharapkan, para petani minimal bisa memenuhi kebutuhan pangan mereka yang bergizi dan sehat, dan bila berlebih bisa dijual untuk menghasilkan uang.

“Saya harapkan petani tidak bergantung kepada bantuan dari pihak lain, dan bisa mandiri dengan produk pangan mereka,” ungkapnya.

Sementara itu, GM PT. Langit Laut Biru, A. Dian Setiati, menambahkan, pihaknya mengajarkan kelompok tani untuk mengolah aneka sorgum, sebab pihaknya melihat anggota kelompoknya kebanyakan perempuan dan sangat bersemangat.

Dian mengatakan, anggota kelompok juga diajarkan menghitung keuntungan yang diperoleh dan menentukan harga jual, termasuk nantinya membuat kemasan sendiri dengan merk mereka.

“Kelompok tani Rehin Dunan di Desa Paubekor  sangat antusias, karena ada penggeraknya. Kepala desanya juga perempuan dan disiplinnya tinggi, sehingga bisa mendukung dan mempengaruhi kelompok tani ini,” ungkapnya.

Kelompok tani ini, tambah Dian, konsisten menjalankan program sehingga masih belajar tentang penanganan pascapanen. Dia mengharapkan, selain pendampingan dari mereka, harus ada pendamping lokal atau orang yang bisa mendorong dan memberi motivasi buat petani di desanya.

Lihat juga...