Omzet Penjualan Es Balok di Lamsel Turun 50 Persen

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Perubahan cuaca, banjir rob, ditambah pandemi Covid-19 di Lampung Selatan, berimbas permintaan udang berkurang, dan turut berdampak ke sektor pendukung lainnya, yaitu usaha penjualan es balok.

Lukman, penyedia es balok di Kalianda, menyebut permintaan anjlok hingga 50 persen. Dalam kondisi normal, permintaan es bisa mencapai 50 balok per hari. Konsumen berasal dari pemilik usaha tambak udang putih atau vaname, bandeng, kolam ikan air tawar, nelayan bagan congkel dan pedagang ikan keliling (pelele). Balok es dipergunakan untuk mengawetkan ikan, udang yang akan dikirim menggunakan boks khusus.

Penggunaan es balok mengalami penurunan, karena sektor pertambakan yang sementara berhenti beroperasi. Saat panen, pada setiap tambak membutuhkan rata-rata empat balok es. Namun pada pengepul, kerap membutuhkan sepuluh balok untuk pengiriman boks udang ke Banten dan Jakarta. Selama petambak istirahat operasi, pasokan es balok hanya ke nelayan dan pedagang ikan.

Bardi, penyedi a jasa ojek udang di Kalianda Lampung Selatan, Selasa (9/6/2020). -Foto: Henk Widi

“Kemarin sempat terhambat oleh munculnya virus Corona, sehingga ekspor udang vaname ke luar negeri sementara ditunda. Tetapi, kini petambak sedang menunda menebar benih, karena cuaca tidak mendukung untuk kebutuhan air tambak,” terang Lukman, saat ditemui Cendana News, Selasa (9/6/2020).

Menurunnya permintaan balok es, membuat ia menjual dengan harga lebih rendah. Saat kondisi normal, satu balok es dijual seharga Rp35.000, kini hanya dijual Rp30.000 dengan ukuran 80 cm. Lukman menyebut, penggunaan es balok masih menjadi favorit bagi nelayan, petambak, pemilik kolam ikan untuk mengawetkan ikan menghindari penggunaan boraks dan formalin.

Bardi, penyedia jasa ojek angkut udang, juga mengaku sedang mengalami penurunan order. Saat musim panen udang, ia bisa mengangkut sekitar 50 blong per hari dari sejumlah pemilik tambak. Sejak sejumlah tambak berhenti operasi, terutama sistem tradisional, ia tidak mendapat penghasilan.

“Sekarang sementara alih pekerjaan ikut menjadi tukang ojek gabah di Palas yang sedang panen, karena tambak sedang berhenti operasi,” cetusnya.

Setiap pengiriman udang dari lokasi tambak yang jauh, Badri mengatakan dibutuhkan es balok yang sudah digiling. Fungsi es balok tersebut menjaga agar udang tetap segar, dan tidak berubah warna. Kondisi udang segar ditandai dengan kulit dan daging masih bening, sementara udang yang tidak diberi es akan berubah warna menjadi merah muda.

Setelah proses pengiriman udang dari tambak, penggunaan es balok akan tetap dilakukan. Sebab, udang yang telah disortir akan dimasukkan dalam boks berisi es yang telah digiling. Permintaan es balok menurutnya akan berkurang menyesuaikan masa panen udang. Sebagian pemilik usaha penggilingan es balok masih memenuhi permintaan dari pemilik kolam ikan bandeng.

Hasan, penyedia alat penggilingan es balok, menyebut saat panen raya ia bisa menjual sekitar 10 balok per hari. Balok es tersebut akan digiling, lalu dibawa pembeli menggunakan blong.

Per balok es yang telah digiling akan dijual Rp40.000, termasuk upah penggilingan. Sejak tambak udang berhenti operasi, ia mengurangi jumlah.

Sebelum pengiriman dari pabrik es balok, ia menyesuaikan kebutuhan. Saat tambak yang beroperasi terbatas, ia hanya menyediakan 40 balok es. Kini ,menyediakan 20 balok sudah cukup banyak.

Es balok tetap dibutuhkan pedagang ikan keliling atau pelele yang menjual ikan dengan motor. Sementera, petambak akan kembali operasi diprediksi bulan Juli hingga Agustus mendatang.

Lihat juga...