Kelompok Tani Rehin Dunan di Sikka Kembangkan Sorgum
Redaktur: Satmoko Budi Santoso
MAUMERE – Beberapa perempuan warga Desa Paubekor, Kecamatan Koting, Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) tampak bersemangat di depan mesin penyosoh di halaman Bengkel Karya Misi Maumere.
Para perempuan ini berasal dari Kelompok Tani Rehin Dunan, awalnya merupakan kelompok simpan pinjam yang beranggotakan 20 orang, 14 perempuan dan 6 laki-laki.
“Kelompok kami terbentuk 31 Januari 2018. Awalnya kami merupakan kelompok simpan pinjam dengan simpanan pokok Rp25 ribu dan simpanan wajib Rp10 ribu per bulan,” sebut Maria Hetwigis (56), Ketua Kelompok tani Rehin Dunan, Desa Paubekor, Kecamatan Koting, Kabupaten Sikka, NTT, Senin (15/6/2020).

Maria mengatakan, setelah diperkenalkan Sorgum oleh kampus Cristo Re dan Bengkel Misi Keuskupan Maumere maka pihaknya mulai menanam sejak tanggal 1 Maret 2020 dan panen tanggal 9 Juni 2020.
Para petani pun mulai membabat lahan tidur seluas sehektare milik anggota seusai tanaman jagung dan padi di lahan kebun milik setiap anggota kelompok sudah memasuki persiapan masa panen.
“Dulu orang tua kami pernah menanam sorgum tapi sudah tidak dikembangkan lagi. Sorgum juga bisa mencegah diabates dan beberapa penyakit sehingga kami tertarik untuk menanam,” tuturnya.
Maria berharap pemerintah bisa membantu kelompok tani mereka dengan memberikan mesin perontok dan mesin penyosoh sorgum yang harganya tergolong mahal mencapai puluhan juta rupiah.
Untuk harga jual kata dia, hasil produksi akan dijual kepada Bengkel Misi PT. Langit Laut Biru sebab pihaknya belum mengetahui sorgum mau dipasarkan ke mana.
“Kita menjalin kerjasama dengan kampus Cristo Re dan Bengkel Misi untuk penjualan hasil produksinya. Paling hasilnya diambil beberapa kilogram saja untuk dibagikan kepada anggota buat dikonsumsi,” terangnya.
Bendahara kelompok tani Rehin Dunan, Maria Virgo Orice (49), menambahkan, penanaman dilakukan agak terlambat setelah musim hujan mau berakhir sehingga hasil yang diperoleh juga hanya 281 kilogram gabah kering.
Perawatan tanaman sorgum sebut Orice, tidak maksimal sebab setelah penanaman terjadi pandemi Corona sehingga para petani tidak rutin ke kebun karena takut tertular penyakit ini.
“Banyak anggota yang takut saat wabah Corona merebak sehingga tidak setiap hari ke lahan sorgum untuk melakukan perawatan. Panen juga seharusnya bulan Mei tetapi diundur hingga bulan Juni,” terangnya.
Terlambat panen kata Orice, menyebabkan tanaman sorgum ada yang terkena jamur dan lembab karena terkena hujan yang mengguyur tanaman beberapa kali selama awal bulan Juni.
Namun demikian ucapnya, semua anggota kelompok bersemangat karena saat panen perdana bupati dan wakil bupati hadir langsung melakukan panen perdana sorgum di desanya.
“Kami bangga baru pertama kali bupati datang untuk panen perdana dan baru terjadi di kelompok tani kami untuk Desa Paubekor. Kami berencana untuk mengembangkan luas lahan sorgum lagi saat musim hujan nanti,” ujarnya.
Pengembangan lahan sorgum sebut Orice, dimungkinkan mengingat masih ada lahan milik anggota yang masih belum digarap dan layak untuk ditanami sorgum.
Pihaknya berada di Bengkel Misi terang Orice, karena sedang menggiling sorgum agar bisa dijual kepada Bengkel Misi Maumere yang telah siap membeli produk sorgum petani Paubekor.
“Kita sekalian belajar bagaimana mengoperasikan mesin perontok dan penyosoh sorgum agar menghasilkan biji sorgum yang bisa diolah untuk dikonsumsi. Sama halnya mengolah padi menjadi beras,” pungkasnya.