Cuaca Buruk, Pelayaran Sinabang-Meulaboh Terhenti

MEULABOH – Aktivitas pelayaran ke wilayah pulau terluar di Aceh rute Sinabang, Pulau Simeulue ke Meulaboh, Ibukota Kabupaten Aceh Barat, hingga Minggu (10/5/2020), masih terganggu cuaca buruk. Tinggi gelombang laut di perairan tersebut mencapai lima hingga enam meter.

“Karena tingginya gelombang di laut, untuk sementara pelayaran rute Meulaboh-Sinabang atau maupun sebaliknya, terpaksa dihentikan sementara waktu,” kata Kepala UPTD Pelabuhan Penyeberangan Meulaboh, Romi Masri, Minggu (10/5/2020) sore.

Berdasarkan pantauan cuaca melalui satelit, tinggi gelombang laut di Samudera Indonesia wilayah barat Aceh mencapai diatas empat meter. Hal itu dapat membahayakan keselamatan penumpang yang berlayar, karena ketinggian gelombang sangat mempengaruhi pergerakan kapal yang berlayar. “Belum lagi jika ada badai, hal ini juga akan mempengaruhi keselamatan penumpang,” tambah Romi Masri.

Romi belum bisa memastikan, kapan aktivitas pelayaran Meulaboh-Sinabang dapat kembali beroperasi secara normal. “Sampai saat ini kami masih menunggu membaiknya cuaca normalnya gelombang di laut lepas,” tandasnya.

Sementara itu, sejumlah pondok wisata kuliner di Desa Suak Ribee, Kecamatan Johan Pahlawan, Meulaboh, Kabupaten Aceh Barat rusak parah diterjang gelombang pasang air laut. Kawasan tersebut mengalami abrasi diterjang gelombang. “Ada sekitar 20 unit lebih pondok kafe yang sudah terbawa air laut akibat terjangan erosi kali ini,” kata Kepala Desa Suak Ribee, Meulaboh, Teuku Razali, Minggu (10/5/2020) sore secara terpisah.

Terjangan abrasi yang terjadi pada Ramadan tahun ini juga menyebabkan sejumlah sarana wisata kuliner di daerah tersebut rusak, karena terkikis air laut yang masuk ke lokasi wisata. Bahkan beberapa pemilik kafe, terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman, karena khawatir dengan terjangan gelombang pasang yang sering terjadi pada malam hari.

Musibah erosi juga menyebabkan bibir pantai sepanjang 110 meter dan badan jalan di daerah tersebut juga ikut rusak dan amblas ke bibir pantai. Kondisi tersebut, telah menyebabkan air laut dengan mudah memasuki areal pemukiman masyarakat.

Hal itu sangat meresahkan warga yang bermukim di sepanjang bibir pantai. “Kami berharap abrasi pantai ini segera diatasi oleh pihak terkait, karena sudah sangat meresahkan dan membuat aktivitas ekonomi masyarakat ikut terganggu,” kata Teuku Razali.

Menurut Teuku Razali, gundukan pasir di bibir pantai yang selama ini menghalangi gelombang, terpantau juga telah rusak akibat diterjang abrasi. Dampaknya, air laut mudah memasuki tanah milik masyarakat yang ada di bibir pantai. (Ant)

Lihat juga...