LAMPUNG — Memasuki masa padi berbulir, berbagai hama serang tanaman padi di Lampung Selatan (Lamsel). Lisdiyanto, petani di Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan menyebut hama menyerang tanaman padi saat memasuki masa berbulir (mratak). Jenis hama yang menyerang meliputi burung pipit, tikus, wereng dan walang sangit.
Sejumlah hama tersebut menurut Lisdiyanto diantisipasi oleh petani dengan pestisida, insektisida. Sebagian memilih menggunakan cara tradisional memakai pestisida alami, belerang. Hama burung pipit menurutnya diantisipasi dengan proses menunggu di sawah. Pengusiran hama burung dilakukan oleh petani memakai bendera plastik, meriam bambu, petasan.
Proses menunggu burung pipit menurut Lisdiyanto dilakukan sejak pagi. Sebab hama burung pipit memilih memakan bulir padi muda hingga menjelang padi menguning. Memasuki usia padi berbulir serangan hama burung dicegah menggunakan cara tradisional. Hama burung pipit yang tidak diantisipasi menurut Lisdiyanto berpotensi menurunkan produktivitas buah padi.
“Burung pipit datang secara bergerombol sehingga berpotensi mengakibatkan produksi buah padi menurun, langkah menunggu, mengusir burung dilakukan agar serangan tidak meluas pada lahan seluas setengah hektare yang saya miliki,” terang Lisdiyanto saat ditemui Cendana News di lahan sawahnya, Jumat (6/3/2020).

Burung pipit yang kerap menyerang pada pagi dan sore hari menurut Lisdiyanto jenis kepala hitam dan kepala putih. Jenis burung pipit kepala putih memangsa bulir padi yang masih muda sebagian memangkas batang. Sebab memasuki masa bersarang sebagian burung menggunakan daun dan batang padi untuk membuat sarang. Imbasnya tidak hanya bulir padi melainkan batang dan daun ikut mengalami kerusakan.
Secara bergantian ia bersama sang istri melakukan jadwal menunggu sawah. Sebab saat pagi Lisdiyanto yang bekerja sebagai karyawan swasta harus masuk pagi. Sore harinya ia menggantikan jadwal sang istri untuk meminimalisir hama burung pipit. Selain burung pipit hama tikus menyerang lahan sawah berimbas batang padi patah.
“Hama tikus mengakibatkan tanaman padi patah, tidak berbulir, meski sejumlah lubang ditutup masih tetap menyerang tanaman padi,” papar Lisdiyanto.
Penggunaan pestisida, membakar belerang pada lubang dilakukan mengurangi hama tikus. Ia bahkan menerapkan penggunaan pestisida alami menggunakan daun sirsak, sereh dan mengkudu. Penggunaan obat alami tersebut mampu mengurangi biaya pembelian obat kimia. Ia menyebut hama tikus bisa diminimalisir dengan penggunaan obat dari dedaunan tersebut.
Stevanus Sukoco, petani yang membuat pestisida dari daun sirsak, sereh, mengkudu mengaku pestisida itu sangat murah. Sebab dengan proses fermentasi dedaunan itu bisa digunakan mengusir tikus. Aroma yang ditimbulkan menurutnya bisa mengakibatkan tikus meninggalkan area persawahan. Fermentasi sejumlah daun bisa digunakan juga untuk mengusir hama walang sangit.
“Hama wereng yang menyerang pada tanaman padi juga berimbas pada produksi padi menurun,” cetusnya.
Upaya penggunaan bahan kimia, alami telah dilakukan oleh Stevanus Sukoco dan petani lain. Penggunaan pestisida kimia dan alami menurutnya bertujuan meminimalisir serangan hama. Sebab memasuki padi berbulir sejumlah petani harus rutin ke sawah mengusir hama burung, tikus, wereng dan walang sangit. Penurunan produksi hingga 20 persen diprediksi akan terjadi pada masa tanam pertama akibat hama.