INDEF: Bukan Regulasi, Penghambat Investasi Justru Korupsi

Editor: Makmun Hidayat

JAKARTA — Pengamat ekonomi INDEF, Enny Sri Hartati mengungkapkan, faktor utama penghambat investasi di Indonesia adalah korupsi. Penilaian itu, kata Enny dikuatkan oleh hasil riset Bank Dunia (World Bank) yang dirilis secara resmi tahun 2019.

Kasus perampokan uang rakyat pada perusahaan plat merah Jiwasraya, Asabri dan beberbagai perusahaan BUMN lainnya, sangat memengaruhi kepercayaan (confidence) dunia usaha dalam melakukan investasi.

“Artinya kalau kondisinya masih seperti itu, walaupun dengan semangat apapun yang disampaikan pemerintah, termasuk omnibus law tidak akan menjawab apapun,” ujar Enny, Jumat (6/3/2020) di Jakarta.

Lebih lanjut, mengenai situasi ekonomi nasional, Enny memprediksi realisasi pertumbuhan investasi di tahun 2020 tidak akan lebih baik dari 2019 yang hanya tumbuh 4 persen.

“Makanya di akhir tahun 2019, kami (INDEF) telah memprediksi pertumbuhan ekonomi hanya 4,9 persen, sebelum adanya wabah corona,” terangnya.

Berdasarkan pengalaman saat penyebaran virus sars, Enny menyebut korelasi antara penurunan 1 persen Produk Domestik Bruto (PDB/GDP) di China akan berdampak langsung pada penurunan PDB di Indonesia sekitar 0,2 sampai 0,3 persen.

“Saat itu hubungan dagang kita dengan China masih sekitar 15 sampai 16 persen. Hari ini komposisi impor kita dari China hampir 30 persen, sementara ekspor kita 16 persen. Bisa dibayangkan bagaimana dampak ini,” jelas Enny.

Bila mengamati situasi rumit saat ini di tengah heboh ancaman corona, Enny menduga perekonomian China bisa tergerus sampai di kuartal kedua dan mengakibatkan penurunan PDB mereka hingga 2 persen.

“Kalau memang demikian, berarti penurunan pertumbuhan ekonomi kita jadi 0,6 persen. Artinya, prediksi kami sebelumnya 4,9 kurang 0,6 jadinya hanya 4,3 persen,” tukas Enny.

“Itu juga belum diakumulasi dengan fluktuasi nilai tukar, belum lagi soal Jiwasraya, Asabri dan kasus-kasus korupsi lainnya. Sehingga apabila korupsi ini tidak ditangani serius, maka yang merasakan dampaknya bukan elit, tapi masyarakat sebagian besar,” tambah Enny.

Lihat juga...