Korban Banjir di Sigi Butuh Perlengkapan Salat

SIGI  – Bulan suci Ramadan 2019 tinggal menghitung hari. Biasanya, saat-saat seperti ini, warga Desa Bangga dan sekitarnya di Kecamatan Dolo Selatan, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, sudah sibuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk menunaikan rukun Islam tersebut.

Ini dilakukan karena bulan suci ramadan bagi umat Islam sangat agung sebab di dalamnya mengandung banyak keistimewaan dan curahan pahala bagi umat yang melakukan suatu amalan saat itu.

Mulai dari persiapan fisik seperti menjaga kebugaran tubuh agar sanggup beribadah semaksimal mungkin saat bulan itu datang, bahkan menyiapkan tempat yang nyaman, aman dan tenteram agar ibadah yang dijalani berjalan khusyuk sehingga menghasilkan ibadah yang berkualitas dan diterima di sisi Allah SWT.

Namun bencana banjir lumpur yang melanda desa ini dan banyak desa lainnya di Kabupaten Sigi, memorakporandakan harapan warga untuk melaksanakan ibadah puasa seperti tahun-tahun sebelumnya.

Banjir bandang cukup mengerikan yang terjadi Minggu (28/4), hanya tujuh hari sebelum memasuki bulan suci Ramadan, menyebabkan sebagian besar rumah pengungsi terkubur lumpur hingga mencapai atap. Tidak terkecuali sebuah masjid berukuran lumayan besar di desa itu, nyaris tertutup total dengan lumpur bercampur sedimentasi kayu-kayuan.

Sekitar 500 kepala keluarga (KK) atau 2.000-an jiwa kini tinggal di posko-posko pengungsian yang didirikan di sekitar lokasi bencana.

Bulan suci ramadan ini terpaksa akan dijalani oleh para pengungsi di tengah penderitaan yang mereka alami.

“Di sini pengungsi sangat membutuhkan pakaian dan alat salat seperti sajadah, baju koko atau gamis, mukena dan Alquran,” kata Rizal, salah satu korban bencana.

Menurut dia bantuan berupa pakaian layak pakai sudah sangat banyak. Saking banyaknya, pakaian-pakaian itu hanya berserakan seperti sampah.

“Lihat sendiri bantuan di posko-posko pengungsian sudah sangat banyak. Hanya pakaian, alat salat dan Alquran yang sangat diperlukan. Kalau sembako dan air minum sudah cukup untuk sementara ini,” ujarnya.

Rizal dan anggota keluarganya yang selamat hanya bisa membawa pakaian di badan saat menyelamatkan diri. Namun mereka sudah komitmen utuk tabah menjalani bulan suci Ramadan dengan kondisi apa adanya.

“Apa yang kami alami ini merupakan ujian dari Allah SWT dan semata-mata bentuk kasih sayang Allah kepada mereka untuk mengangkat derajatnya lewat musibah ini,” ujar Rizal yang sehari-sehari bekerja sebagai petani itu.

Hal yang sama dialami Asludin. Dia, istri, anak dan cucunya terpaksa mengungsi di posko induk di Dusun 2 yang berjauhan dari lokasi terdampak banjir bandang di Desa Bangga.

Ibadah dan aktivitas-aktivitas lain yang biasa mereka lakukan setiap bulan Ramadan kini akan dilaksanakan di posko pengungsian.

“Selama bulan puasa nanti, kami semua akan tetap tinggal di tenda karena rumah sudah musnah,” katanya.

Ia hanya berharap bantuan dari pemerintah berupa hunian yang layak bisa segera direalisasikan pemerintah untuk mengganti rumah mereka yang kini tidak dapat ditinggali lagi.

“Alhamdulillah, kalau kami mau salat, kini sudah ada masjid darurat yang disiapkan donatur. Saat ini yang sangat dibutuhkan itu pakaian salat dengan Alquran,” imbuhnya.

Banjir bandang yang menerjang Desa Bangga dan sekitarnya mengakibatkan ribuan jiwa mengungsi ke dataran yang lebih tinggi, sementara sebagian rumah warga terkubur lumpur hingga atap.

Sukardi, seorang warga Desa Bangga mengatakan, saat pertama kali banjir melanda pada pukul 19.00 Wita, rumah-rumah hanya terendam air sampai sekitar betis orang dewasa.

Namun setelah itu, hantaman banjir bandang lebih parah muncul pada sekitar pukul 23.00 Wita karena aliran air membawa material lumpur dengan disertai bunyi gemuruh yang menakutkan warga.

“Untungnya sebelum banjir bandang bersama lumpur itu datang, para warga sudah lari ke bukit-bukit untuk menyelamatkan diri. Kalau tidak, banyak yang meninggal karena tingginya lumpur sampai di atap rumah,” katanya.

Bahkan, lanjutnya, malam saat kejadian, rumah warga sama sekali tidak kelihatan akibat tertutup lumpur yang terbawa banjir dari lereng pegunungan di sekitar Desa Bangga.

“Untung pada pagi harinya, atap-atap rumah sudah keliatan. Waktu malam pas kejadian rumah tertutup air bersama lumpur,” ucapnya.

Hal senada juga diungkapkan Dakria, warga Dusun II yang merupakan dusun terparah. Beruntung dia dan seluruh keluarganya cepat menyelamatkan diri.

“Kami sudah tidak punya apa-apa. Tinggal mengharapkan bantuan dari pemerintah karena rumah kami habis. Tidak bisa ditinggali lagi,” ujar Dakria dengan mata berkaca-kaca, warga Dusun II Desa Bangga yang paling parah tertimpa bencana ini.

Dia berharap bantuan dari pemerintah daerah, pusat dan lembaga atau yayasan kemanusiaan dapat secepatnya disalurkan agar mereka bisa menunaikan ibadah puasa dengan kondisi yang lebih baik dari saat ini. (Ant)

Lihat juga...