Indonesia Harus Tambah Pekerja Terampil
JAKARTA – Indonesia harus menambah jumlah tenaga kerja terampil, untuk menghadapi revolusi industri 4.0. Menteri Ketenagakerjaan, Hanif Dhakiri, upayanya bisa dilakukan dengan menggenjot pendidikan dan pelatihan vokasi.
“Tantangan kita ke depan, selain harus menambah jumlah pekerja skilled (terampil), pendidikan dan pelatihan vokasi juga perlu digenjot, agar produktivitas tenaga kerja kita menjadi lebih baik,” kata Hanif, Senin (19/11/2018).
Tenaga kerja Indonesia, harus mampu meningkatkan produktivitas. Hal itu untuk menaikan daya saing dan kualifikasi, yang dibutuhkan pasar kerja. Para pencari kerja, harus mempersiapkan diri melalui pendidikan dan pelatihan, agar tidak tertinggal.
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, tingkat pengangguran terbuka menurut daerah di Agustus 2018, mencapai 5,34 persen. Jumlahnya turun dibandingkan posisi di Agustus 2017 yang mencapai 5,50 persen. Tingkat pengangguran terbuka, adalah indikator untuk mengukur tingkat penawaran tenaga kerja yang tidak digunakan, atau tidak terserap pasar kerja. Pengangguran pada Agustus 2018 mencapai 7 juta orang, atau menurun 40 ribu orang, dibandingkan Agustus 2017.
Melihat angka tersebut, Menaker, Hanif Dhakiri, mengklaim, tingkat pengangguran Indonesia saat ini, mencapai titik terendah. Di sepanjang sejarah reformasi pemerintahan, angka 5,5 persen dari total angkatan kerja adalah angka terendah. Menurunnya angka pengangguran tersebut, tidak terlepas dari peran serta sektor pendidikan yang dinilai mengalami peningkatan pesat.
Sektor pendidikan, saat ini mampu menciptakan tenaga kerja dengan keahlian, yang mampu bersaing dengan serbuan tenaga kerja asing. Namun demikian, Hanif menuturkan, angka tersebut masih belum maksimal. Pemerintah menargetkan, angka pengangkuran terbuka hanya di kisaran lima persen. (Ant)