Petani di Lamsel Siasati Kemarau dengan Tanam Timun Benih

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Sejumlah warga di Lampung Selatan tidak bisa mengolah lahan dan menanam komoditas pertanian, akibat pasokan air yang minim. Karenanya, warga Desa Hargo Pancuran, Kecamatan Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan, memaksimalkan lahan yang ada untuk menanam jenis komoditas pertanian yang membutuhkan sedikit air.
Hendra (40) bersama sejumlah petani lain, di antaranya Edi, Jayus, Rujito, serta puluhan petani lainnya, bahkan mengubah lahan sawah untuk budi daya tanaman timun benih.
Menurut Hendra, tanaman timun benih merupakan salah satu komoditas pertanian yang mulai ditanam petani setempat sejak dua tahun terakhir. Prospeknya yang menjanjikan, sejalan dengan kesulitan petani akan air irigasi dari sungai Way Andeng, saat kemarau ini.
Tanaman hortikultura jenis sayuran berupa terong, tomat mawar serta timun benih menjadi pilihan petani, agar tetap dapat bercocok tanam di saat kemarau.
“Sejumlah petani di perbatasan Kecamatan Bakauheni dan Rajabasa, memilih menanam hortikultura, karena tidak membutuhkan air yang berlimpah dibandingkan saat menanam padi,” terang Hendra, sSenin (15/10/2018).
Hendra menyebut, keputusan beralih menanam timun benih juga karena dampak dari meruginya petani saat menanam padi, akibat serangan hama burung, tikus serta hama lainnya.
Masuknya tawaran dari perusahaan penyedia benih sekaligus menjadi gayung bersambut dalam upaya pemanfaatan lahan pertanian, dengan penanganan lebih sederhana dibandingkan menanam padi.
Menurut Hendra, kemitraan dilakukan dengan memberi pelatihan, benih sekaligus jaminan panen dibeli dengan harga sesuai tipe.
Berbagai ukuran atau tipe buah timun benih yang kerap ditanam petani, di antaranya tipe 15, 24, 28, 34, menyesuaikan kondisi lahan pertanian wilayah tersebut. Berbagai ukuran benih tersebut selanjutnya ditanam oleh petani dalam beberapa bedeng menggunakan mulsa.
Sejumlah petani menanam dalam ukuran satu paket (berisi 1.000 benih), hingga tiga paket sesuai luasan lahan, serta kemampuan petani dalam mengelola tanaman timun benih tersebut.
“Karena lahan terbatas, saya hanya menanam lima paket atau sekitar lima ribu batang dalam beberapa kali masa tanam,” beber Hendra.
Masa tanam selama 55 hingga 60 hari,kata Hendra, membuatnya bisa lebih cepat mendapatkan hasil secara ekonomis, dibandingkan menanam padi yang membutuhkan waktu sekitar 120 hari.
Namun, memasuki masa panen bulan Oktober ini, dengan masa penanaman selama dua bulan, bertepatan dengan saat musim angin kencang disertai hujan, sehingga menyebabkan sejumlah ajir atau penopang rambatan timun benih siap panen, roboh.
Beruntung, robohnya ajir tanaman timun benih tersebut hanya terjadi pada beberapa bedengan. Selain itu, kerusakan pada sejumlah ajir terjadi menjelang beberapa hari sebelum panen, sehingga sejumlah timun benih masih bisa diselamatkan.
Setelah dipetik buah timun benih, selanjutnya akan dibelah dan diambil bagian bijinya melalui proses sortir dan pengujian laboratorium setelah pengeringan.
Harga biji timun benih per kilogram sesuai tipe, setelah melalui proses pengujian dibeli oleh perusahaan produsen benih dari harga Rp300.000, Rp400.000 hingga Rp600.000.
Hendra menyebut, sejumlah petani dalam sekali panen bisa mendapatkan hasil sekitar 15 kilogram hingga 30 kilogram timun benih kering. Seharga Rp400 ribu untuk tipe tertentu, ia sudah bisa mendapatkan hasil Rp8 juta sekali panen untuk benih sebanyak 20 kilogram. Hasil akan lebih banyak sesusai dengan jumlah paket benih yang ditanam, sekaligus penanganan dan pola tanam yang baik.
“Menanam timun benih sangat membantu petani, karena lebih cepat panen dan harganya juga menjanjikan, sehingga meski kemarau masih bisa mendapatkan hasil,” beber Hendra.
Di samping menanam timun benih, sejumlah petani juga mulai melirik prospek penyediaan sayuran lain memanfaatkan keterbatasan pasokan air. Tanaman jenis terong, sawi dan kacang panjang, bahkan dikembangkan oleh petani di wilayah Desa Totoharjo, Kecamatan Bakauheni dan Desa Hargo Pancuran, Kecamatan Rajabasa, sebagai sumber penghasilan utama.
Lihat juga...