TAHUN ajaran baru sudah dimulai. Madin menahan haru ketika melihat bocah-bocah menyalami orang tuanya sebelum pamit ke sekolah. Ia terkenang saat-saat seperti itu semasa kecil. Saat bapak pertama kali mengantar ke sekolah. Ibu yang menyiapkan bekal.
Lalu, sesuai permintaan bapak ingin ia masuk kuliah keguruan. Maka, Madin mengubah cita-cita dari seorang teknisi kimia menjadi guru. Perkuliahannya pun tak begitu banyak godaan. Madin juga tak pernah neko-neko (macam-macam), selalu lancar. Pun, ketika lulus, ada banyak sekolah yang memintanya. Salah satu sekolah itu, ada yang berasrama tak jauh dari kampusnya.
Banyak pertimbangan yang Madin pilih sebelum mengambil keputusan. Hingga ia menolak tiga tawaran sekolah lain padahal satu kota dengannya. Ia memilih sekolah dengan catatan diberikan fasilitas asrama. Karena ketua yayasannya tahu kapabiltas Madin saat kuliah, tentu syarat itu langsung tergapai.
Madin pun enak dalam mengajar. Pembawaannya santai, bisa membuat murid-muridnya yang anak SMA menyerap rumus-rumus kimia dengan mudah. Apalagi, ia tidak begitu formal dalam mengajar. Bahkan kadang memanggil muridnya dengan sebutan kekinian seperti: say, bro, sis, coy, boy, dan sederet panggilan lain.
Soal penampilan, ia bisa dibilang trendi. Maka murid-murid benar-benar menyanyanginya. Hal itu yang disyukuri oleh Madin.
“Terus kenapa kamu berhenti?” tanya seorang tetangga yang baru saja disalami anaknya ketika hendak berangkat ke sekolah.
Madin mengambil napas panjang.
Rasa sakit yang diderita bapak menjadi alasan utama. Setelah itu, ada alasan lain yang tidak patut diceritakan. Maka, Madin hanya bisa menjawab tentang rasa sakit bapak dan ingin dekat dengan keluarga.
Tentu jawaban itu langsung diterima tanpa perlu ditanyai lebih lanjut. Si penanya itu pun kagum akan tanggung jawab Madin. Madin sendiri hanya bisa menyunggingkan senyum tak percaya akan mendapat apresiasi seperti itu. Kemudian si penanya yang kebetulan ibu berdaster itu masuk ke rumahnya.
Madin melakukan hal yang sama. Hanya saja belum genap melangkah, ia mendapatkan pesan WA mendarat ke ponsel canggihnya. Pesan yang ditulis muridnya itu berisi pertanyaan mengapa Madin berhenti dan si murid sampai menangis karena mengetahui gurunya pergi tanpa permisi.
Mengetahui hal itu Madin serasa diterpa godam berat. Ia pun sepakat dengan muridnya jika ditinggalkan lebih berat ketimbang meninggalkan. Walaupun begitu, Madin tak menjawab pesan muridnya itu. Ia malah memilih membuang ponselnya jauh-jauh dari jangkauan. Sebelumnya mematikan data terlebih dahulu. Lalu, berusaha tidur.
***
“JADILAH orang yang jujur!”
Petuah dari Bapak benar-benar meresap dalam diri Madin. Tanpa perlu banyak bertanya, ia melaksanakan hal itu dalam lelaku keseharian. Diawali dari hal sederhana, semula kecil seperti ketika mengambil uang berapa pun di kotak uang ibu. Jika tidak ada ibu atau bapak, pasti ia bilang ketika bertemu dengan kedua orang tuanya.
Apalagi bapak pernah menjewer Madin begitu keras di depan orang banyak sewaktu Madin masih kecil lantaran ikut-ikutan menyerang pohon jambu tetangga bersama anak kecil lainnya.
Akibat kejadian itu, Madin merasa takut jika mengambil sesuatu yang bukan haknya. Dan berusaha untuk jujur. Kalau misalnya pengen, pasti ia meminta izin kepada orang yang punya. Termasuk urusan jambu itu sendiri.
“Hidup kita ini sulit! Bukan berarti kita menghalalkan segala cara agar bisa menembus kesulitan itu! Jika cara itu dilakukan, hidup sulit itu berubah menjadi rumit!” petuah bapak ketika Madin masih kecil.
Diam-diam Madin mengagumi bapak yang meski hanya tamat kelas dua sekolah rakyat, tetapi memiliki filosofi yang pas untuk menerapkan lelaku hidup yang sederhana. Kekaguman-kekaguman itu bertambah sedemikian hari.
Bahkan saat ujian sekolah pun bapak mewanti-wanti (berpesan) agar Madin tetap jujur. Sekalipun banyak temannya yang tidak jujur demi deretan angka dan huruf di rapor.
“Bapak tidak butuh kamu peringkat berapa, yang bapak butuh kamu belajar dan menekuni. Soal peringkat itu urusan belakang!”
Madin benar-benar tahu bagaimana membahagiakan bapak dengan lelaku jujur yang dijadikan kebiasaan. Hanya saja, lelaku jujur yang ia lakukan mendadak berubah jadi bencana. Tepatnya ketika sekolah menengah pertama.
Di tengah sibuknya ujian nasional, beberapa teman kedapatan membawa ponsel dan menggunakan cara curang dengan membeli jawaban ke joki. Madin ingin protes. Tapi, ia takut jika merembet ke masalah yang lain.
Ia hanya berdoa semoga bisa lulus dengan nilai baik. Ia pun lulus dengan nilai baik. Hanya saja nilai kejujuran itu tak seberapa dibandingkan cara licik. Akibat itu, Madin gagal mendapatkan beasiswa di sekolah menengah atas tujuannya. Jangankan beasiswa, daftar saja ia sudah tidak bisa. Mengingat teman-temannya yang berlaku curang itu mendapatkan nilai yang setinggi langit.
Untungnya Allah menjawab semua yang menjadi nestapanya. Madin sekalipun sekolah di SMA pinggiran tapi bisa mengalahkan prestasi anak SMA kota. Bapak yang tahu itu benar-benar bangga pada Madin. Puncaknya lewat SMA pinggiran itu Madin mendapatkan beasiswa melanjutkan kuliah di jurusan pendidikan kimia.
Jurusan apa pun yang menjadi pilihan Madin tak jadi soal, Bapak hanya berharap Madin menjadi guru dan pembeda dari keempat kakaknya. Dan keinginan itu benar-benar tercapai.
Hanya saja, Madin telah menggantungkan penanya setelah setahun mengajar. Kondisi bapak yang semakin hari tak kunjung membaik membuatnya resign dari lembaga pendidikan tempatnya berkarir.
Sebenarnya, ia bisa saja terus di sana. Dan ingin terus di sana, cita-cita bapak yang menginginkannya menjadi seorang guru membuatnya bersemangat untuk tetap di sana. Hanya saja, sebuah peristiwa benar-benar membuatnya ingin berhenti menjadi guru.
***
MADIN tak bisa tidur nyenyak ketika memandang potretnya bersama beberapa murid di kamarnya. Ia langsung teringat akan kisah akhir ujian nasional.
Selama mengajar, sekalipun terkenal friendly, Madin tidak segan-segan merobek kertas ujian siswa jika kedapatan berlaku curang demi nilai, tidak laki-laki dan perempuan semua sama saja. Maka, beberapa murid kadang sebagian menjulukinya guru seribu wajah. Ramah ketika pelajaran biasa, tetapi berubah menjelma monster saat ujian tiba.
Hal itu selalu dibicarakan murid-muridnya selama Madin berproses menjadi guru. Hanya saja, kejujuran yang ia jaga mendadak runtuh ketika ujian nasional tiba. Sebagai guru pengajar mata pelajaran ujian nasional di SMA Impian Kota Abal-abal, ia dituntut untuk membantu siswa bisa mendapatkan nilai yang bagus.
Segala cara perlu dilakukan sekolah, mulai dari les yang membuat anak-anak bukannya semangat belajar, malah banyak yang kabur ketika jam pulang sekolah. Les tidak efektif, maka rapalan doa bersama digelar yang hanya membuat tangisan bombay. Dan cara terakhir adalah guru mata pelajaran ujian dipanggil menghadap kepala sekolah.
Mula-mula Madin merasa akan diberikan pengarahan seperti biasanya. Tetapi, prasangkanya mendadak berubah ketika ia diminta menjadi joki jawaban. Kontan ia menolak dengan tegas.
Ketegasan yang terpancar dari raut wajahnya yang idealis dan penuh keyakinan itu membuat rekan mengajarnya menjadi tak suka. Bahkan menganggap Madin terlalu berlebih-lebihan. Bagi sebagian yang lain merasa jika pekerjaan joki itu amalan baik demi membantu siswa dan Tuhan akan membalas setiap kebajikan.
Madin benar-benar mual mendengar itu semua. Kebajikan macam apa yang diperoleh dengan jalan keburukan.
“Cara ini telah dilakukan bertahun-tahun, jadi kalau tidak suka silakan angkat kaki dan cari sekolah yang pas dengan filosofi kejujuranmu itu!” Bapak kepala sekolah membuat ucapan yang mempertegas keinginan Madin untuk pergi dari sekolah itu.
Berkisar dua bulan sejak ujian dilaksanakan, situasi bekerja sudah tidak seenak awal-awal Madin mengajar. Rekan-rekannya tak sebaik dulu. Pun, keika ia berusaha bersikap ramah. Hanya saja tak ada respon ramah yang ia terima. Maka, ia fokuskan diri memberi yang terbaik sambil terus menguatkan muridnya untuk percaya diri atas kemampuan masing-masing.
Ia juga menanamkan jika dalam suatu ujian, nilai besar bukan terletak pada angka, tetapi kejujuran itu sendiri.
Hari pun berlalu dengan cepat. Keadaan Bapak yang sakit tua menyebabkan Madin hampir tiap minggu pergi bolak balik dari kota Abal-abal ke kota Imitasi. Hingga sampai ujian bagi kelas satu dan dua. Madin benar-benar mengajukan surat pengunduran diri. Diikuti tatapan heran rekan kerjanya.
Madin hanya bercerita jika sebenarnya ia kerasan mengajar di sana, tetapi Bapak di rumah jauh lebih membutuhkannya. Apalagi dari lima bersaudara cuma ia yang belum berkeluarga sehingga punya kewajiban lebih merawat lelaki paruh baya itu.
Alasan itu benar-benar diterima. Sekalipun mungkin tanpa perlu mengundurkan diri, Madin yakin ia akan segera digantikan guru yang bisa diatur dengan mudah. Tidak seperti dirinya yang agak membangkang kepentingan sekolah.
“Madin!”
Bapak memanggilnya dengan suara yang hampir habis. Pemuda itu segera mendekati asal suara. Dan duduk tepat di hadapan bapak yang terbaring lemah.
“Bapak minta kamu kembali mengajar ya cari sekolah di sini saja. Jangan pedulikan gajinya.”
Permintaan Bapak sebenarnya sederhana, tapi sungguh Madin begitu trauma jika kejadian yang sama terulang di sekolahnya yang baru.
“Madin akan melamar pekerjaan di lembaga bimbingan belajar saja, Pak. Ambil yang kelas sore-malam. Biar paginya bisa menemani Bapak. Sambil tetap menulis!”
Madin mengutarakan niatnya lagi. Bapak tersenyum. Senyum yang begitu menentramkan Madin. Bagi Madin mengajar di lembaga bimbingan belajar tidak akan seperti di sekolah yang terikat dengan aturan kekangan waktu dan ia bisa menerapkan kejujuran dengan mudah.
Sebab biasanya anak-anak yang ikut bimbingan belajar adalah anak-anak yang memang butuh akan pelajaran sehingga bekerja keras untuk mendapatkan nilai yang baik. Bukan sekadar anak-anak yang belajar hanya tuntutan penggugur kewajiban. Bimbingan belajar itu sendiri hanya membantu materi yang telah diajarkan di sekolah.
“Aku ingin mengajar dan menulis dengan kejujuran, Pak. Maka, butuh rapalan doa Bapak agar bisa menguatkan!”
Sejak kecil Madin tak pernah meminta apa pun pada Bapak, tidak juga Ibu. Tetapi, kali ini ia benar-benar merasa butuh rapalan doa lelaki itu. Rapalan doa yang membuatnya untuk melakukan lelaku jujur, seperti harapan bapak sewaktu ia masih kecil. ***
Gusti Trisno, pegiat literasi Kota Santri yang lahir di Situbondo, 26 Desember 1994. Alumni Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Jember, Jawa Timur. Peraih juara 2 Penulisan Cerpen dalam Pekan Seni Mahasiswa Jawa Timur 2016. Sejumlah buku fiksi memuat karya tunggalnya, yakni: Museum Ibu (Kumpulan Cerpen, Ae Publishing) dan Ajari Aku, Bu (Kumpulan Puisi, Penerbit FPPS).
Redaksi menerima cerpen. Tema bebas tidak SARA. Karya belum pernah tayang di media mana pun baik cetak, online, juga buku. Kirim karya ke editorcendana@gmail.com. Disediakan honorarium bagi karya yang ditayangkan.