Sadapan Turun Petani Maksimalkan Integrasi Lahan Karet dengan Peternakan

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

LAMPUNG — Kondisi cuaca yang belum menentu dengan kerap terjadi hujan dan panas yang tak merata berimbas hasil penyadapan tanaman karet mengalami penurunan.

Ngadimun (50) warga Desa Sukaraja Kecamatan Palas produksi getah karet miliknya mengalami kenaikan dan penurunan signifikan akibat cuaca. Penurunan paling drastis terjadi bulan Agustus hingga November tahun sebelumnya dengan hasil getah yang minim.

Total sebanyak 1.000 batang tanaman karet yang ditanam menghasilkan antara 100 hingga 200 kilogram dalam sepekan saat kondisi normal. Namun dalam kondisi cuaca tak menentu seperti saat ini hanya menghasilkan 50 kilogram getah karet atau lateks dengan harga Rp7.500 per kilogram di tingkat petani.

“Kendala saat masa trek atau pengguguran daun memang sengaja tidak kita deres agar tanaman meregenerasi daun untuk pertumbuhan setelah masa trek baru kita lakukan proses penyadapan meski hasilnya belum maksimal,” beber Ngadimun saat ditemui Cendana News tengah memasang batok wadah getah karet di kebun miliknya, Minggu (11/2/2018).

Harga getah karet hasil sadapan pernah mencapai harga Rp13.000 perkilogram di tingkat petani namun mulai mengalami penurunan di harga Rp9.800 hingga Rp7.500 perkilogram.

Sebagian pemilik kebun karet yang sudah menanam karet berusia lebih dari sepuluh tahun bahkan memilih meregenerasi tanaman karet dengan proses penebangan. Untuk sementara mengganti dengan tanaman jagung.

Sebagai cara memaksimalkan hasil kebun karet, Ngadimun mengintegrasikan dengan penanaman rumput pakan ternak. Rumput jenis gajahan dan tanaman leresede untuk ternak kambing sengaja ditanam disela sela tanaman karet untuk stok pakan lima ekor kambing jenis kacang dan dua ekor sapi miliknya.

“Selain bisa memanen karet pada saat produksi getah meningkat dengan pemanfaatan lahan saya bisa mendapatkan pakan ternak sapi dan kambing,” beber Ngadimun.

Pemanfaatan kebun karet untuk pengembangan ternak juga dilakukan oleh Sugiyono (45) warga Desa Sukamulya Kecamatan Palas pemelihara sekitar lima belas ekor kambing rambon.

Selain mencari pakan rumput dari area persawahan, Sugiyono mengaku sengaja melakukan pemanfaatan kebun karet untuk ditanami jenis rumput kolonjono dan leresede.

karet
Sebagian kebun karet dimanfaatkan warga sebagai tempat menanam rumput pakan ternak kambing dan sapi [Foto: Henk Widi]
Tanaman rumput tersebut diakuinya bisa tumbuh disela sela tanaman karet tanpa mengganggu pertumbuhan tanaman karet. Selain bisa dimanfaatkan untuk pemanfaatan pakan ternak dengan adanya tanaman pakan ternak ia menyebut tidak akan ada warga lain yang meliarkan ternak kambing di lahan karet miliknya.

“Saya sudah melakukan pemagaran di bagian lahan yang saya tanami rumput dan himbauan agar tidak ada warga yang melepasliarkan ternak di lahan karet,”ungkapnya.

Pemanfaatan lahan karet pada saat hasil produksi minim dan harga yang turun diakui Sugiyono bisa ikut membantu dirinya dalam beternak kambing. Harga kambing usia empat bulan yang dibeli seharga Rp700ribu perekor bahkan bisa dijual setelah usia delapan bulan dengan harga Rp1,4juta sebagai investasi untuk keperluan keuangan keluarga.

Lihat juga...