Petani Kakao di Lamsel Siapkan Lahan untuk Bibit Baru

LAMPUNG — Petani pemilik perkebunan kakao atau kopi coklat di Dusun Perkumpulan Keluarga Sulawesi (PKS), Desa Penengahan, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan, penerima manfaat bantuan benih kakao bersertifikat  akhirnya mulai melakukan pemindahan bibit ke lahan yang dimiliki.

Menurut Haji Bahri, bantuan benih kakao tersebut merupakan bantuan dari pemerintah melalui Unit Pelaksana Teknis Daerah Balai Pengawasan Dan Pengujian Mutu Benih (UPTD BP2MB) Dinas Perkebunan Provinsi Lampung dengan alokasi 1.000 bibit kakao untuk lahan seluas 28 hektare.

Haji Bahri,pemilik kebun kakao dengan sistem tumpangsari bersama tanaman durian [Foto: Henk Widi]
Haji Bahri mengatakan, sejak dua tahun terakhir tanaman kakao dengan luas mencapai ratusan hektare di wilayah Dusun PKS, Dusun Laban hingga Dusun Simpur,  mengalami penurunan produksi  hingga 50 persen, akibat serangan penyakit jenis busuk buah dan kanker buah, dan berimbas kerugian bagi petani pekebun penanam kakao sebagai penopang utama perekonomian masyarakat.

“Tanaman kakao yang kami budidayakan rata-rata berusia sekitar dua puluh tahun lebih, sehingga produktivitas buah mulai menurun, ditambah rentan penyakit pengganggu tanaman berupa jamur, busuk buah,” terang Haji Bahri, pemilik lahan pertanian kakao sekaligus selaku kepala dusun PKS saat ditemui Cendana News di rumahnya, Kamis (18/1/2018).

Warga Dusun PKS merupakan warga yang terkena relokasi pembangunan pelabuhan di Srengsem yang masuk wilayah Panjang Bandarlampung pada sekitar 1975. Menempati kawasan tersebut dengan mendapatkan bibit kakao dan juga bibit durian.

Selanjutnya, pendatang lain terus berdatangan dan berprofesi sebagai pekebun kakao, pisang, kelapa dan durian dengan bentang alam perbukitan yang cocok menjadi lahan budi daya kakao dan tanaman perkebunan lainnya.

Haji Bahri menyebut, kejayaan tanaman kakao dari kurun 1990an hingga 2000, mulai sedikit meredup, karena berbagai faktor. Salah satunya usia tanaman yang sudah tidak produktif. Sebagian petani bahkan berinisiatif melakukan proses regenerasi dengan mempergunakan bibit kakao baru sebagian mendatangkan dari wilayah Kecamatan Pekalongan Lampung Timur.

Hasil tanaman kakao, kata Haji Bahri, menyesuaikan luasan lahan dengan rata-rata per pohon dalam sekali panen menghasilkan 5 kilogram. Dengan total 100 pohon, dirinya bisa memperoleh hasil panen 5 kuintal. Sementara, dirinya dan beberapa petani kakao di wilayah tersebut memiliki tanaman kakao lebih dari 2.000 pohon.

Harga kakao dari tahun ke tahun diakuinya terus mengalami peningkatan mulai dari Rp15.000 per kilogram, kini mencapai Rp20.000 di tingkat petani. Dengan hasil panen 4 ton, dirinya bisa menghasilkan uang sebesar Rp80 juta. Sementara, hasil panen dalam kondisi baik pada puncak masa panen sekitar bulan April kerap memperoleh 5 ton.

Selain kakao, dirinya juga menanam pisang dan durian yang harganya cukup lumayan saat ini. “Kami sangat terbantu dengan adanya bantuan benih kakao, namun proses penanaman akan kami lakukan menunggu panen kakao berakhir dan pembersihan lahan dan musim durian,” bebernya.

Petani lain, Bariah, yang juga mendapatkan bantuan bibit kakao sebanyak 1.000 batang berusia 4 bulan tersebut, rencananya akan dipindah dalam waktu dekat ke lahan miliknya. Penanaman menunggu usia tanam 5 bulan, sekaligus mempersiapkan lubang penanaman, pemanenan sejumlah buah kakao yang akan diganti dan sekaligus menunggu masa panen durian berakhir.

Bariah menyebut, dengan tibanya musim panen durian pada Januari, aktivitas petani lebih difokuskan melakukan panen durian sembari melakukan pembersihan lahan. Bahkan, dengan menebang sebagian tanaman kakao yang sudah berusia tua.

Lahan kakao yang sebagian dibersihkan oleh petani mulai disemprot mempergunakan herbisida membersihkan rumput pengganggu. “Kami masih menunggu panen kakao terakhir, setelah itu bibit akan kami tanam karena benih masih tersedia di polybag. Sewaktu-waktu bisa dipindah sembari menyesuaikan kondisi cuaca di wilayah ini,” terang Bariah.

Bariah juga menegaskan, bibit kakao yang dibagikan kepada petani sengaja akan dilakukan untuk proses regenerasi secara bertahap. Prioritas tanaman kakao yang akan diregenerasi di antaranya tanaman kakao yang sudah berusia tua, selanjutnya bertahap pada tanaman kakao usia muda yang berpotensi menghasilkan buah minim.

Bibit kakao bersertifikat tersebut diakui Bariah memiliki  spesifikasi, di antaranya dengan nomor induk: B.KO.15.11.12/42/V.22/G.3/2017 yang ditangkarkan di Desa Tanjung Jaya, Kecamatan Bangunrejo, Lampung Tengah. Merupakan varietas kakao Lindak Hibrida dengan ketinggian tanaman 43-48 centimeter, berusia 4 bulan dan dipastikan bebas dari organisme pengganggu tanaman dan ditangkarkan oleh Ujang Mahmud, dengan benih berasal dari PT. Hasfarm Niaga Nusantara Provinsi Sulawesi Tenggara.

Ia berharap, dengan regenerasi tanaman kakao yang sebelumnya terkena penyakit tersebut petani bisa kembali memperoleh hasil maksimal dari budi daya kakao yang banyak memberi penghasilan bagi warga setempat.

Alokasi bantuan benih kakao kepada petani di wilayah Desa Penengahan disebutnya menyesuaikan jumlah petani, dengan rata-rata memiliki lahan mulai dari seperempat, setengah hingga satu hektare.

Sebanyak 28.000 bibit kakao bersertifikat disebutnya dibagikan kepada puluhan petani kakao dengan alokasi luas lahan satu hektare menerima bibit kakao sebanyak 1.000 bibit kakao atau alokasi untuk lahan seluas 28 hektare.

Lihat juga...