Pasar Klitikan Bantul Eksis di Tengah Majunya Zaman
YOGYAKARTA – Kawasan di sisi sebelah barat Masjid Agung Bantul, setiap lima hari sekali selalu nampak ramai dengan aktivitas jual beli barang bekas. Sepanjang jalan desa yang membujur dari timur hingga barat itu disesaki pedagang barang-barang bekas dari berbagai daerah.
Mereka menggelar aneka macam dagangan dengan duduk lesehan di pinggir kanan dan kiri trotoar jalan. Bermacam jenis barang bekas keperluan sehari-hari bisa ditemukan di pasar dadakan ini. Mulai dari alat rumah tangga, alat pertanian, alat kesehatan, onderdil motor dan sepeda, hingga berbagai pernak-pernik barang bekas lainnya.
Uniknya, pasar barang bekas yang biasa disebut pasar klitikan ini hanya akan ramai setiap hari pasaran Kliwon dalam penanggalan Jawa. Selain Kliwon, kondisi jalan akan sepi tanpa ada satu pun pedagang yang datang.

Di wilayah Yogyakarta, khususnya Bantul, pasar yang beroperasi berdasarkan penanggalan Jawa masih dijaga dan dilestarikan masyarakat. Kearifan lokal masyarakat Jawa yang sudah ada sejak lama ini, bahkan seolah tak bisa digusur atau digantikan kultur modern dengan segala kecanggihannya.
Sukarjo (70), salah seorang pedagang Klitikan, mengaku sudah mulai berjualan di Pasar Kliwon Bantul sejak masih perjaka. Selama puluhan tahun, ia berdagang sepeda dan bermacam onderdil di pasar-pasar yang tersebar di Bantul secara berpindah-pindah.
“Setiap pasaran Kliwon, saya jualan di Bantul. Kalau hari Legi di Kebonagung Imogiri, setiap Paing di pasar Kretek, Pon di pasar Jodog, sedangkan setiap Wage di pasar Pundong,” katanya.
Dengan berjualan secara berpindah-pindah seperti itu, warga Celeb, Kretek, Bantul, itu mengaku memiliki banyak kenalan sekaligus pelanggan. Meskipun setiap hari ia harus mengangkut dagangannya secara berpindah-pindah dengan menggunakan sepeda motor tuanya.
“Namanya jualan itu kadang untung kadang rugi. Pernah jauh-jauh jualan seharian, tapi tidak ada dagangan yang laku. Itu biasa. Sehari hanya dapat Rp3 ribu itu juga sering. Tapi, mau bagaimana lagi, pekerjaan saya hanya jualan ini saja,” katanya.
Sebelum berada di sisi barat Masjid Agung Bantul, para pedagang Klitikan Bantul berjualan di pinggir trotoar jalan kabupaten. Karena menyebabkan kesemrawutan, pemerintah daerah setempat merelokasi pedagang ke pasar Klitikan Niten. Namun, karena sepi pengunjung, para pedagang akhirnya kembali berjualan di lokasi sekarang, yakni jalan desa sisi barat Masjid Agung Bantul.