Sejarah Prestasi Para Atlet Indonesia Ada di TMII
JAKARTA – Bentuk bangunan itu sangat unik, seperti bola bernuansa warna merah putih, menghadap ke arah Theater Imax Keong Mas Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta.
Itulah Museum Olahraga TMII, yang berdiri di atas lahan 3.000 meterpersegi, dan berlantai tiga. Museum ini didirikan pada 4 Oktober 1987, di mana peletakan batu pertama dilakukan oleh Menko Kesra Alamsyah Ratu Prawira Negara. Hadirnya museum ini pun atas ide pemakarsa TMII, Ibu Tien Soeharto. Bahwa benang merah pelestarian budaya bangsa di TMII adalah hadirnya anjungan dan meseum.

Seperti Mario Samarmata (18), merasa kagum dengan kemewahan Museum Olahraga yang terletak di sebelah barat area parkir Theater Imax Keong Mas TMII, tak jauh dari gerbang 3 pintu masuk TMII. Mario mengaku meskipun tinggal di Jakarta, tapi baru pertama kali berkunjung ke museum ini.
Minggu (22/10/2017), dia datang ke Museum Olahraga TMII bersama dua temannya, Julianus dan Fransiskus. Ketiganya adalah mahasiswa Univeristas Negeri Jakarta (UNJ) jurusan Olahraga.
“Kami dapat tugas dari kampus bikin makalah tentang olahraga. Ya, Museum Olahraga ini sangat lengkap informasi edukasi tentang ragam olahraga, bisa untuk bahan makalah kami,” ungkap Mario kepada Cendana News, saat ditemui di Museum Olahraga TMII, Jakarta, Minggu (22/10/2017).
Setelah berkeliling museum, Mario mengaku sudah mendapatkan bahan untuk dijadikan makalah yang akan dikumpulkan pada Rabu (25/10/2017). “Saya kagum dengan sejarah sepakbola Indonesia dengan berbagai prestasi para atletnya sangat luar biasa, memiliki motto perjuangan mengharumkan bangsa Indonesia. Saya pun akan membuat makalah tentang sejarah sepak bola ini,” ungkapnya.
Senada dengan Mario, Julianus juga bangga terhadap para atlet olahraga Indonesia. Terlebih dia juga merasa senang bisa wisata ke TMII, karena selain berkunjung ke Museum Olahraga, dia bisa jalan-jalan melihat miniatur semua provinsi di Indonesia.
Menurutnya, Taman Mini ini wahana edukasi budaya bangsa. Budaya bangsa itu prestasi yang harus diketahui oleh rakyatnya. “Nah, museum olahraga ini juga budaya bangsa yang sarat prestasi anak negeri. Saya wajib tahu sejarahnya,” kata Julianus.
Dirinya mengaku tertarik dengan prestasi atlet badminton Indonesia di Olimpiade Barcelona pada 1992, yaitu Susi Susanti dan Alan Budikusuma. Juga Rudy Hartono yang berhasil menjuarai All England sebanyak 8 kali. Menurutnya, para atlet badminton berprestasi tersebut menjunjungi tinggi sportivitas dan perjuangan mengharumkan negara.
“Mereka sangat memotivasi, saya ingin ini jadi bahan makalah. Tapi, saya masih mau lihat-lihat prestasi olahraga lainnya,” ujarnya.
Adapun Fransiskus, memiliki kekaguman pada cabang olahraga tradisonal yang tersaji di museum ini. Seperti yang dia lihat di lantai tiga ada diorama menampilkan permainan tradisional dari berbagai provinsi Indonesia. Yakni, ada bentuk lukisan dan patung dengan ukuran sebenarnya terlukis dalam diaroma. Ada adegan lompat batu dari Pulau Nias, karapan sapi dari Madura, dayung dari Papua, dan lainnya.
Fransiskus juga mengaku kagum dengan sejarah berdirinya stadion pertama Indonesia dan pelaksanaan Pekan Olah Raga Nasional (PON) I pada 1948 di Solo. Di putaran sejarah ini, disertai keberhasilan tim everest menaklukkan Gunung Himalaya.
“Pokoknya saya sudah dapat bahan makalah, harus beda karena ini tugas per individu, bukan kelompok, hanya saja kita datang ke museum ini barengan biar seru berbagi pengalamannya,” katanya.
Ada lagi, Ahmad Syaefudin, warga Cileungsi, Jawa Barat. Dia mengaku sambil menunggu antrian pengambilan KTP-El di pelataran Theater Imax Keong Mas TMII, dirinya menyempatkan diri berkunjung ke Museum Olahraga ini. Dia juga mengaku baru pertama kali ke museum ini, dan dirasa sangat murah biaya tiketnya, hanya Rp5.000 per orang, tapi banyak ilmu sejarah olahraga yang didapat.
“Tiket masuknya murah, Rp5.000, tapi puas saya jadi tahu sejarah olahraga dan para atlet prestasi Indonesia. Ya, bangga saya, pasti. Moga dunia olahraga terus jaya,” kata Ahmad.
Ahmad juga mengaku, begitu masuk ruangan lantai dasar saja sudah tersentuh aroma perjuangan. Karena, menurutnya, di lantai itu menampilkan motto yang mencerminkan nilai hakiki olahraga Indonesia yang memberi manfaat.
“Edukasi sportivitas dan perjuangan sejarah olahraga Indonesia dalam kancah olahraga di dunia international. Banyak atlet Indonesia yang berprestasi, bangga,” ucap mahasiswa lulusan universitas swasta Bogor, Jawa Barat, itu.
Ahmad pun berharap, olahraga Indonesia ke depan akan lebih maju berdikari. Para atletnya mengharumkan bangsa. Selain itu, harapan lain Ahmad adalah museum ini fasilitasnya lebih dilengakapi lagi dengan area penunjang yang bisa menarik pengunjung lebih nyaman.
“Memang saat masuk di lobby museum ada minimatur 3D atlet loncat indah dan beberapa wallpaper altet olahraga nasional, sangat menarik, sih. Tapi akan lebih bagus lagi fasilitas ditambah lagi, ada hiburan penunjang lainnya. Ada diskusi rutin atau temu atlet, juga bagus buat edukasi,” papar Ahmad.
Museum olahraga ini selain bertujuan untuk memberikan informasi tentang prestasi atlet olahraga Indonesia dan sejarah budaya olahraga Indonesia dari berbagai provinsi, juga memberikan pengetahuan tentang pentingnya olahraga bagi kesehatan tubuh.
Museum ini didirikan pada 4 Oktober 1987. Peletakan batu pertama dilakukan oleh Menko Kesra, Alamsyah Ratu Prawira Negara. Museum ini dikelola oleh Kementrian Pemuda dan Olahraga. Koleksi utama dari Museum ini berupa Medali Emas, Obor PON, patung karya I Nyoman Nuarta dan Ekspedisi Mount Everest. Keseluruhan koleksi Museum ini berjumlah 1.615 buah.
Ide awal pendirian museum ini dari Sri Sultan Hamengkubuwono IX pada 1980. Dari ide Sri Sultan tersebut, satu tahun berikutnya, Dr. Abdul Gafur mewujudkannya dengan membentuk panitia pengawas pembangunan Yayasan Panji Olahraga yang diketuai oleh MF. Siregar.
Abdul Gafur menyampaikan perihal pembangunan Museum Olahraga kepada Ibu Tien untuk dibangun di kawasan TMII. Pada 30 September 1987, hal tersebut disetujui oleh Ibu Tien dan diletakkanlah batu pertama sebagai tanda dimulainya pembangunan Museum ini.
Bertepatan dengan HUT ke-14 TMII pada 20 April 1989, Museum Olah Raga Nasional diresmikan oleh Presiden Soeharto dan sejak 7 Mei 1989 hingga saat ini dibuka untuk umum.
Di museum ini terdapat Ruang Teater, Ruang Seminar, Ruang Pameran, Sejarah Olahraga, Kontemporer, Interaktif Olahraga, Olahraga Prestasi, Olahraga Tradisional, PON, Olimpiade, SEA Games, Hall of Fame, Ruang Perpustakaan, Ruang Toilet, Musholla, Ruang Kontrol Security, Kantin, Lapangan Tenis standar nasional, Lapangan Senam Ria Massal, Ruang Aerobik, Ruang Bilyard, Ruang Kantor Lengkap.
Pada Senin, Rabu, Kamis dan Jumat, museum ini buka sejak pukul 08.00-16.00 WIB, dengan teiket masuk yang sangat terjangkau, Rp5.000 per orang.