Hujan Deras Memperparah Kerusakan Jalan dan Saluran Irigasi di Lamsel

LAMPUNG — Hujan deras yang melanda wilayah Lampung Selatan dan sekitarnya hampir selama setengah hari mengakibatkan beberapa ruas jalan di Kecamatan Penengahan terendam. Hal tersebut disebabkan mampetnya saluran air dari beberapa irigasi dan meluap ke jalan.

Sutini, salah satu pemilik lahan tepat di bawah saluran air jalan tol trans Sumatera STA 17 bahkan mengaku akibat hujan deras dengan perubahan saluran irigasi berimbas areal lahan pertanian miliknya yang belum digarap dipenuhi sampah. Sampah plastik sebagian berasal dari pembuangan rumah tangga semakin menumpuk bersama aliran air yang hingga sore belum surut.

“Selama hujan berlangsung pintu air memang sengaja dibuka oleh petugas pengatur air namun imbasnya segala jenis sampah masuk ke sawah yang saya miliki berdekatan dengan gorong gorong jalan,” terang Sutini, Kamis (19/10/2017).

Sutini, salah satu petani di Desa Klaten memeriksa sebagian saluran irigasi yang berimbas ke lahan sawah miliknya [Foto: Henk Widi]
Selain kesulitan membersihkan, dikhawatirkan sampah barang pecah belah seperti bohlam lampu kaca, botol kaca ikut terbawa dan berpotensi membahayakan saat petani menggarap sawah sehingga harus dibersihkan.

Selain berimbas kerusakan saluran irigasi, luapan air irigasi dampak hujan deras yang melanda wilayah Lampung Selatan juga semakin memperparah kerusakan akses jalan penghubung antar kecamatan Penengahan dan kecamatan Palas.

Pantauan Cendana News akses jalan dari desa Klaten menuju ke desa Ruang Tengah dan desa Kuripan sebagian aspal mengelupas akibat hujan deras menggerus bagian badan jalan.

Joniamsyah, Kepala Desa Klaten Kecamatan Penengahan [Foto: Henk Widi]
Kepala Desa Klaten, Joniamsyah, mengungkapkan sebelum hujan deras kondisi akses jalan di wilayah tersebut bahkan sudah sangat parah.

“Pada beberapa titik dengan pemanfaatan dana desa diusulkan tahun depan akses jalan akan ditinggikan dan dibangun dengan sistem rabat beton tidak lagi menggunakan aspal yang mudah amblas,” beber Joniamsyah.

Selain hujan, melintasnya kendaraan bertonase berat pengangkut material bangunan berupa batu dan pasir ikut memperburuk keadaan jalan.

Anfal warga Dusun Pahabung Desa Ruang Tengah yang setiap hari melintas menyebut, saat ini penggunaan konstruksi jalan aspal sudah tidak layak untuk jalan lingkungan dan seharusnya diganti dengan rabat beton agar lebih awet dan mudah diperbaiki.

“Kalau sistem rabat beton kerusakan bisa diperbaiki dengan cepat karena material hanya semen dan batu split sementara jika aspal warga sulit mencarinya,” terang Anfal.

Lihat juga...