Leak Bali Tolak Reklamasi Benoa di Sanur Village Festival 2017
DENPASAR — Sanur Village Festival 2017 sudah dilakukan semalam. Beberapa agenda seperti Sanur Kreatif Expo, Cultural, Music and Art performances, Horticulture, Culinary, Food Festival, Food Heritage, Painting, Painting on the spot, Body Painting, Lomba Fotografi, Ekshibisi Foto, Fotografi, Aktifitas Olahraga, Festival Layang Layang, Fun Games, turut memeriahkan event tahunan ini.
Dari sekian banyak kegiatan hiburan serta stand bazar makanan serta UMKM yang dipamerkan, terdapat satu stand bertajuk Leak Sanur. Yang menarik stand ini merupakan wujud apresiasi terkait mendukung gerakan Bali Tolak Reklamasi (BTR) yang selama ini digalakkan.
Stand ini sendiri berada di sisi sebelah barat panggung dan berada di deretan stand UMKM lainnya.
Jhon Ariya, salah satu penggas stand Leak Sanur mengatakan memang secara khusus membuka stand ini di Sanur Village Festival 2017. Selain sebagai media edukasi bagi masyarakat yang awam terkait rencana reklamasi Teluk benoa juga sebagai ajang untuk terus mengobarkan semangat penolakan rencana reklamasi kepada teman-teman BTR.
“Kebetulan hal ini dapat dukungan penuh dari ketua yayasan serta pesaruman Desa Adat Sanur untuk membuka stand ini. Selain itu kami bertujuan ingin memberikan pemahaman kepada masyarakat apa itu sebenarnya reklamasi dan bagaimana dampaknya terhadap lingkungan,” ujar Jhon.
Jhon mengaku dalam stand yang baru tahun ini berpartisipasi dalam event SVF 2017, pihaknya menyediakan berbagai souvenir terkait gerakan tolak reklamasi, seperti kaos, stiker dan atribut lainnya.
Stand ini mendapat respon positif dari masyarakat yang datang ke acara SVF. Tidak hanya sekedar datang, mereka juga membeli souvenir yang disediakan di stand ini.
“Bukti masyarakat Bali mendukung penolakan reklamasi Teluk benoa dengan ludesnya souvenir yang kami jual di sini,” jelasnya.
Dengan kegiatan ini, pihaknya berharap adanya perhatian khusus dari pemerintah baik daerah maupun pusat untuk segera mencabut Perpres No. 51 Tahun 2014 terkait reklamasi harus segera dicabut.
“Kami meminta kepada pihak terkait teritama kepada pemprov bali untuk bersurat kepada pusat untuk mencabut Perpres 51 Tahun 2014. Kami tidak perlu lagi pulau bali, bali sudah sesak dengan pembangunan hotel,” ucapnya.
Gede Astawa salah seorang pengunjung mengaku sangat mengapresiasi dengan dibukanya stand ini. Keberadaan stand ini selaras dengan tujuan masyarakat Bali yang jelas-jelas menolak rencana reklamasi Teluk benoa.
“Kami selalu anak muda di bali sangat tidak setuju dengan reklamasi itu, dan kami akan terus memperjuangkan gerakan tolak reklamas”. Ucapnya.
Seperti yang diketahui, rencana reklamasi Teluk benoa mendapat penolakan dari masyarakat Bali terutama desa adat yang berada disekitar Teluk Benoa dengan luas ratusan hektare tersebut. Mereka menuntut agar Perpres No.51 Tahun 2014 tentang reklamasi Teluk Benoa agar segera dicabut.
