Pos Lalu Lintas Ternak DIY Intensifkan Pengawasan Menjelang Idul Adha

YOGYAKARTA —- Menjelang Hari Raya Idul Adha atau Qurban, sejumlah pos lalu-lintas ternak di perbatasan wilayah DIY mulai meningkatkan pengawasan sejak beberapa waktu terakhir. Hal itu dilakukan untuk mengantisipasi masuknya hewan ternak berpenyakit berbahaya ke wilayah DIY. Pasalnya setiap menjelang Hari Raya Qurban seperti saat ini, lalu-lintas ternak selalu mengalami peningkatan.

Salah satunya terlihat di Pos Lalu-lintas ternak perbatasan Sleman-Klaten, tepatnya di dusun Johonalang, Sindumartani, Nglempak, Sleman. Sejak beberapa waktu terakhir petugas mengintensifkan pengecekan surat-surat kelengkapan ternak, seperti Surat Kesehatan Hewan (SKH) dan Surat Kesehatan Produksi (SKP).

“Setiap ternak yang masuk ke DIY harus menunjukkan SKH dan SKP. Ini bertujuan agar tidak ada hewan berpenyakit yang masuk ke DIY. Baik itu antraks, rabies dll. Untuk semua hewan ternak baik, sapi, kambing, domba ataupun ayam dan itik. Jika mereka tidak bisa menunjukkan surat yang ada, maka kita kirim balik ke daerah asal,” ujar petugas pos lalu-lintas ternak, Ari Prasetya, Senin (14/08/2017).

Dua minggu sebelum qurban sendiri, lalu-lintas ternak khususnya sapi dan kambing di kawasan perbatasan Sleman dan Klaten sendiri dikatakan masih normal berkisar 10-12 kali pet hari. Meski mulai meningkat dibandingkan hari biasa yakni 5-7 kali per hari, namun jumlah itu masih belum mencapai puncaknya.

“Biasanya akan mulai jauh meningkat saat 1 minggu sebelum hari H. Bisa sampai 20 kali per hari,” katanya.

Selain mengecak kesehatan hewan, pos lalu-lintas ternak ini juga bertugas mensosialisasikan program pemerintah seperti larangan menyembelih sapi produktif. Yakni dengan menempelkan stiker berisi larangan serta denda bagi pedagang atau peternak yang melanggarnya.

Sementara itu, salah seorang peternak sekaligus pedagang sapi, Surandi, asal Karangnongko, Manisrenggo, Klaten, mengaku biasa menjual ternak berupa sapi miliknya di pasar-pasar hewan sekitar wilayah Sleman. Baik itu Pasar Prambanan maupun Pasar Johonalang. Ia sendiri menyebut tidak memiliki masalah terkait pemeriksaan karena memiliki surat-surat yang lengkap.

“Biasanya saya bawa ternak ke Sleman setiap kali ada pasaran. Karena pasar hewan yang paling dekat disini. Meski sudah mulai meningkat, 2 minggu menjelang qurban ini belum begitu ramai. Setiap hari saya bawa sekitar 3-5 ekor sapi. Kadang terjual satu ekor, kadang tidak. Namun untuk harga sudah meningkat mulai Rp300 ribu hingga Rp1 juta,” katanya.

Petugas sedang melakukan pengecekan surat kesehatan hewan ternak/Foto; Jatmika H Kusmargana.
Lihat juga...