Pelestarian Sungai Butuh Komitmen Kuat Para Pegiat

Editor: Koko Triarko

YOGYAKARTA – Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sleman, Dra. Epiphana Kristiyani, MM., menilai gerakan pelestarian lingkungan khususnya konservasi sungai membutuhkan komitmen kuat serta konsistensi para pegiatnya.

Karena itu, diperlukan komunitas-komunitas sungai yang berbasis gerakan masyarakat dan tinggal di bantaran sungai, sebagai salah satu tumpuan terpeliharanya ekosistem sungai.

Hal tersebut diungkapkannya saat memberikan arahan dalam Peringatan Hari Ulang Tahun ke-4 Forum Komunitas Sungai Sleman (FKSS) di bantaran Sungai Ngasem, Padukuhan Sembego, Maguwoharjo, Depok, Sleman.

“Gerakan pelestarian lingkungan, khususnya melestarikan ekosistem sungai membutuhkan komitmen dan konsistensi serta daya tahan para pelakunya. Maka, pelibatan semua generasi juga perempuan dalam pelestarian lingkungan sangat penting,” bebernya.

Epiphana juga menegaskan, bahwa membuang limbah di sungai diperbolehkan, asalkan telah melalui proses pengolahan yang memenuhi standar baku mutu yang ditetapkan.

Sehingga, aman bagi lingkungan ketika dibuang ke sungai.

Kepala DLH Sleman, Dra. Epiphana Kristiyani, MM., menyerahkan potongan tumpeng kepada Ketua FKSS AG. Irawan, disaksikan sejumlah pegiat sungai pada Peringatan HUT ke-4 FKSS di bantaran Sungai Ngasem, Sembego, Maguwoharjo, Depok, Sleman, Yogyakarta, Selasa (25/1/2022). –Foto: Jatmika H Kusmargana

“Kita semua harus berani dan tegas melarang  industri yang membuang limbahnya ke sungai tanpa pengolahan air limbah yang tepat,” katanya.

Saat ini saja, jika kita buka kardus makanan yang dibagikan, kita akan melihat berapa potensi sampah yang akan membebani lingkungan.

Misalnya, plastik pembungkus makanan dan gelas minuman kemasan.

“Maka, yuk mulai menggunakan daun pisang untuk pembungkus makanan,” tandas Epiphana.

Terkait pelestarian sungai, Dukuh Sembego, Sarjono, mengapresiasi kegiatan anak-anak muda di daerahnya yang terus melestarikan sungai.

“Dulu di daerah ini tidak ada yang berani menjamah. Banyak rumpun bambu, semak dan sampah. Bahkan, sejumlah ular jenis kobra banyak berkeliaran di sini,” katanya.

Tapi, sejak dibersihkan dan ditata, banyak warga yang mulai datang dan mendukung kelestarian bantaran sungai Ngasem.

Ketua Komunitas Kali Ngasem Sembego, Ifan Ardia, merasa senang atas dukungan para pihak terhadap gerakan pelestarian lingkungan yang dimotori anak-anak muda di daerahnya.

“Meski gerakan kami perlahan dan banyak kendala, namun kami senang dengan dukungan dari pemerintah (DLH Sleman) juga teman-teman pegiat sungai dari berbagai wilayah di Sleman,” pungkasnya.

Pada Januari 2022 ini, FKSS kembali melakukan pendataan dan verifikasi jumlah komunitas peduli sungai di Sleman.

Saat ini tercatat ada 27 komunitas sungai yang aktif bergiat menjaga ekosistem sungai di 17 sungai di Sleman, empat di antaranya berhulu langsung di Merapi, yakni Sungai Krasak, Boyong, Kuning dan Opak.

Syarat menjadi anggota FKSS, komunitas tersebut harus beranggotakan warga yang tinggal di pinggir sungai, memiliki nama komunitas dan wilayah aktivitas yang jelas batas tapaknya.

Hal ini untuk menghindari komunitas yang tidak melibatkan warga setempat dan hanya punya nama, namun tanpa aksi nyata.

Lihat juga...