Warga Sukabaru Tunggu Realisasi Pembangunan Jembatan

LAMPUNG — Pembangunan infrastruktur pedesaan bersumber dari Dana Desa (DD) di wilayah Kabupaten Lampung Selatan terus dikerjakan di sejumlah desa. Pantauan Cendana News mendapatkan sejumlah desa  mulai menggunakan anggaran Dana Desa tersebut.

Di antaranya,  Desa Mandalasari Kecamatan Sragi menggunakannya untuk pembuatan pengerasan jalan sistem paving block, Desa Kelawi dengan proses pembuatan jembatan dan Desa Sukabaru dengan pengerjaan jalan lingkungan dengan sistem pengecoran rigid pavement (cor beton).

Pembangunan jalan di Dusun Buring Desa Sukabaru Kecamatan Penengahan bersumber dari Dana Desa dikerjakan oleh masyarakat dengan sistem swadaya melalui pengerjaan gotong royong.

Jalan ini penting untuk akses di seberang Sungai Way Pisang menuju ke sejumlah dusun diantaranya Dusun Gunung Botol, Dusun Laban serta penghubung dengan desa tetangga. Jalan rigid beton yang tengah dikerjakan tersebut menurut Wanto (40) salah satu warga Desa Sukabaru merupakan hasil musyawarah desa setempat untuk memudahkan masyarakat yang memiliki areal perkebunan dan usaha pembuatan batu bata.

“Pada tahap awal dilakukan penyiapan material berupa pasir dan batu sabes selanjutnya pengerjaan dilakukan oleh masyarakat menggunakan mesin pengaduk dan perataan material adukan dilakukan secara manual,” terang Wanto saat ditemui Cendana News di lokasi pembangunan jalan lingkungan di desa setempat, Kamis (20/7/2017)

Saat ditanya nilai anggaran yang dipergunakan untuk pembangunan jalan lingkungan dengan sistem rigid tersebut ia mengaku semua dana yang bersumber dari alokasi dana desa tersebut menjadi kewenangan kepala desa untuk menjelaskannya.

Sebagai warga desa setempat ia menyebut alokasi dana desa yang diwujudkan dalam pembangunan infrastruktur pedesaan diharapkan bisa mempermudah akses masyarakat khususnya pemilik lahan pertanian dan juga pengusaha batu bata dalam mendistribusikan hasil pertanian dan usaha batu bata.

“Kalau nilainya silakan tanyakan kepada kepala desa atau aparatur desa pak karena semua ini sudah dimusyawarahkan terlebih dahulu dan kami hanya pelaksana di lapangan, ”imbuhnya lagi.

Juned, Warga Dusun Buring yang berada di sekitar lokasi pembangunan jalan mengungkapkan harapan besar.  Menurut dia  meskipun perkerasan jalan di wilayah tersebut dilakukan namun akses masyarakat pengguna kendaraan roda empat dipastikan belum bisa melintasi jalan tersebut akibat jembatan gantung yang masih menggunakan lantai kayu dan bambu dengan tali sling baja sebagai penahan.

Aktivitas siswa sekolah dari dusun tersebut untuk bersekolah masih harus mempergunakan jembatan gantung yang bertahun tahun dipertahankan masyarakat sebagai akses utama meski akses jalan lain bisa dipergunakan dengan memutar lebih jauh sekitar tiga kilometer lebih. Beruntung diujung jembatan gantung warga masih bisa menikmati fasilitas jalan paving block yang tidak becek saat hujan akibat lokasi jalan di dekat areal persawahan.

“Praktis kami memang belum bisa menggunakan akses jalan rigid yang dibangun karena kalaupun selesai kami pemilik kendaraan roda empat harus berjalan memutar,”  katanya.

Juned menyebut Komisi C DPRD Kabupaten Lampung Selatan yang melakukan peninjauan jembatan gantung di atas Sungai Way Pisang sepanjang 10 meter tersebut telah mengusulkan perbaikan ke Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan.  Meskipun realisasi untuk perbaikan jembatan masih akan diusulkan. Jembatan gantung semenjak 2008 tersebut hanya bisa dilalui pengendara kendaraan roda dua dan pejalan kaki.

“Kami senang beberapa ruas jalan di desa kami dibangun namun harapan akan perbaikan jembatan gantung menjadi jembatan permanen terus kami usulkan agar warga di dusun Buring tidak harus jauh memutar,” ungkap Juned.

Jembatan gantung masih dipergunakan warga sebagai akses menuju ke Jalan Lintas Sumatera tersebut hingga kini masih menjadi akses anak anak sekolah usia TK, SD hingga SMA yang akan menuju ke sekolah.

Kondisi beberapa lantai terbuat dari kayu dan bambu sudah mulai usang hingga warga tetap harus berhati hati melintas di jembatan penghubung antar dusun di Desa Sukabaru tersebut.

 

Siswa SD melintas di jembatan gantung /Foto: Henk Widi.
Pengerjaan jalan lingkungan dengan sistem cor beton oleh warga Desa Sukabaru bersumber dari Dana Desa /Foto: Henk Widi.

 

Lihat juga...