Menangkap Kesan Magis dalam Pertunjukan Swara Nusantara

SENIN, 13 MARET 2017

SEMARANG — Lampu di sebuah ruangan tiba-tiba padam, sejurus kemudian suara Saron mengalun mengiringi sang wanita memasuki panggung, dengan lemah gemulai wanita tersebut mulai menari Jawa diiringi Kendang dan Bonang, irama Bas Betot makin menambah syahdu suasana. Ketika lampu terang kembali, tampak pula alat musik Perkusi, Seruling, Bonang, Gitar dan Drum segera ditabuh. Penonton bersorak-sorai melihat performance pemain Swara Nusantara (SN) dengan sempurna mengakulturasikan budaya Jawa dengan musik Jazz.

Penampilan Swara Nusantara dalam Loenpia Jazz 2016.

Menurut Bassist, SN Fauz Haqqi, kegelisahannya melihat kondisi musik tradisional yang mulai pudar membuat dirinya tertarik bergabung dengan SN karena mengambil genre etnik, apalagi perhatian anak muda untuk belajar budaya lokal dirasakan juga kurang. Menurut lulusan jurusan Pendidikan Seni Universitas Negeri Semarang (Unnes) tersebut, salah satu cara untuk melestarikan budaya lokal adalah menghybridnya dengan genre musik lain.

“Biasanya, anak muda senang dengan suasana musik baru biar lebih fresh dan nggak cepat bosan,” terangnya saat ditemui CDN, pekan ini.

Lebih lanjut, Fauz menambahkan, bahwa dalam setiap pementasan SN, dirinya merasa dalam dunia yang berbeda karena musik Jawa mengandung unsur-unsur magis, sehingga personil SN sering merasa “kesurupan” saat performance.

Totalitas dalam melestarikan musik lokal juga tercermin dalam band yang berdiri pada bulan Januari 2014 tersebut. Setiap personil SN, selain menguasai alat musik modern, juga bisa memainkan alat musik tradisional, karena itu setiap tampil mereka bisa “rangkap jabatan”.

SN Fauz Haqqi.

Sementara itu, founder sekaligus pemain Saron, SN Arief Maulana, mengatakan, tujuan para personil SN adalah mengembangkan tradisi Jawa dalam musik Jazz, sehingga mereka coba meleburkan lagu Jawa seperti Gundul-Gundul Pacul dan Lir-Ilir untuk dihybrid dengan Jazz. Dirinya mengakui, untuk ngemix dua aliran musik biasanya tergantung ritme dan kondisi.

Saat fresh cukup dengan satu kali latihan, tetapi jika dirasa ritmenya susah bisa sampai satu bulan dengan empat kali latihan. Menurut Arief, untuk ngemix musik tradisional tidak akan menghilangkan kultur budaya karena di musik budaya tidak ada pakem, apalagi hampir semua lagu Jawa bisa dimix.

“Susahnya kalau sudah kepentok di nada dan frekuensi, karena alat musik tradisional beda dengan modern jadi harus diakali,” terang pria yang lebih akrab dipanggil Ucrit itu.

Karena genre musiknya yang berbeda, SN  yang saat ini digawangi oleh Fauz (Bassist), Ucrit (Sharon), Nurul (Drum), Oscar (Gitar), Yopi (Perkusi) sering diundang manggung oleh berbagai pihak. Pada 2014, mereka mengaransemen lagu Gambang Semarang untuk dipentaskan saat pagelaran Loenpia Jazz di Pecinan. Selain itu mereka juga rutin manggung di mall dan Lawang Sewu.

Ucrit berharap, ke depan SN tetap bisa eksis untuk mengakulturasikan lagu tradisional dengan musik Jazz, bahkan dirinya punya mimpi untuk menghybrid musik lokal dari seluruh daerah di Indonesia

“Saya berharap lebih mengenalkan budaya lokal kepada anak muda yang terkadang masih malu, padahal itu tradisi mereka sendiri,” ujar Ucrit.

SN Arief Maulana.

Bagi generasi muda yang ingin belajar Jazz, dirinya menganjurkan untuk lebih sering mendengar dan latihan, karena pemain Jazz harus lebih banyak berimprovisasi.

Jurnalis: Khusnul Imanuddin / Editor: Satmoko / Foto: Khusnul Imanuddin

Lihat juga...